Askep Apendisitis
Co. Juliardinsyah
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit inflamasi pada system pencernaan
sangat banyak, diantaranya appendisitis dan divertikular disease. Appendisitis
adalah suatu penyakit inflamasi pada apendiks diakibanya terbuntunya lumen
apendiks. Divertikular disease merupakan penyakit inflamasi pada saluran cerna
terutama kolon. Keduanya merupakan penyakit inflamasi tetapi penyebabnya
berbeda. Appendisitis disebabkan terbuntunya lumen apendiks. dengan fecalit,
benda asing atau karena terjepitnya apendiks, sedang diverticular disebabkan
karena massa feces yang terlalu keras dan membuat tekanan dalam lumen usus
besar sehingga membentuk tonjolan-tonjolan divertikula dan divertikula ini yang
kemudian bila sampai terjepit atau terbuntu akan mengakibatkan diverticulitis
Insiden apendisitis akut lebih tinggi pada negara
maju daripada Negara berkembang, namun dalam tiga sampai empat dasawarsa
terakhir menurun secara bermakna, yaitu 100 kasus tiap 100.000 populasi mejadi
52 tiap 100.000 populasi. Kejadian ini mungkin disebabkan perubahan pola makan,
yaitu Negara berkembang berubah menjadi makanan kurang serat. Menurut data
epidemiologi apendisitis akut jarang terjadi pada balita, meningkat pada
pubertas, dan mencapai puncaknya pada saat remaja dan awal 20-an, sedangkan
angka ini menurun pada menjelang dewasa. Sedangkan insiden diverticulitis lebih
umum terjadi pada sebagian besar Negara barat dengan diet rendah serat.
Lazimnya di Amerika Serikat sekitar 10%. Dan lebih dari 50% pada pemeriksaan
fisik orang dewasa pada umur lebih dari 60 tahun menderita penyakit ini
Apendisitis dan divertikulitis termasuk penyakit
yang dapat dicegah apabila kita mengetahui dan mengerti ilmu tentang penyakit
ini. Seorang perawat memiliki peran tidak hanya sebagai care giver yang
nantinya hanya akan bisa memberikan perawatan pada pasien yang sedang sakit
saja. Tetapi, perawat harus mampu menjadi promotor, promosi kesehatan yang
tepat akan menurunkan tingkat kejadian penyakit ini.
Sehingga makalah ini di susun agar memberi
pengetahuan tentang penyakit apendisitis dan diverticulitis sehingga mahasiswa
calon perawat dapat lebih mudah memahami tentang pengertian, etiologi,
patofisiologi, tanda dan gejala, asuhan keperawatan, penatalaksanaan medis pada
pasien dengan apendisitis dan diverticulitis.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimanakah konsep apendisitis ?
1.2.2 Bagaimanakah proses asuhan
keperawatan pada apendisitis ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Menjelaskan konsep dan proses asuhan keperawatan
pada apendisitis.
1.3.2 Tujuan khusus
- Mengidentifikasi definisi dari apendisitis
- Mengidentifikasi anatomi dan fisiologi apendisitis
- Mengidentifikasi etiologi dari apendisitis
- Mengidentifikasi patofisiologi dari apendisitis
- Mengidentifikasi manifestasi klinis dari apendisitis
- Mengidentifikasi proses keperawatan dari apendisitis
1.4 Manfaat
1.4.1
Mahasiswa mengetahui dasar konsep dasar apendisitis
1.4.2
Mahasiswa mampu melakukan proses asuhan keperawatan pada apendisitis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian
Appendicitis adalah peradangan dari appendiks vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. (Arif Mansjoer ddk 2000 hal 307 ).
Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001).
Apendisitis
akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga
abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001).
Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai
cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus
memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila
tidak terawat,
angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. (Anonim, Apendisitis, 2007)
angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. (Anonim, Apendisitis, 2007)
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu
atau umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila
infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan
saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau
sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di
perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun, lendirnya
banyak mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir. (Anonim,
Apendisitis, 2007)
Apendisitis merupakan peradangan pada usus buntu/apendiks
(Anonim, Apendisitis, 2007).
2. Anatomi Fisiologi
Apendiks adalah ujung seperti jari kecil panjangnya
kira-kira 10 cm (4 inch), melekat pada sekum tepat dibawah katub ileosekal.
Struktur apendiks mirip dengan usus mempunyai 4 lapisan yaitu mukosa,
submukosa, muskularis eksterna/propria (otot longitudinal dan sirkuler) dan
serosa. Apendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam
sekum. Karena pengosongan tidak efektif dan lumennya kecil, apendiks cenderung
menjadi tersumbat dan terutama rentan terhadap infeksi (apendisitis). ( Brunner
& Suddarth, 2001)
Posisi
appendiks bisa retrosekal, retroileal,subileal atau dipelvis, memberikan
gambaran klinis yang tidak sama.
Persarafan para simpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti
arteri mesenterika superior dari arteri appendikkularis, sedangkan persarafan
simpatis berasal dari nervus torakalis x, karena itu nyeri viseral pada
appendiks bermula sekitar umbilikus.
Perdarahan pada appendiks berasal dari arteri appendikularis yang
merupakan artei tanpa kolateral. Jika
arteri ini tersumbat, misalnya trombosis pada infeksi maka appendiks akan
mengalami gangren
3. Klasifikasi
Klasifikasi apendisitis terbagi atas 2 yakni :
1. Apendisitis
akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah
sembuh akan timbul striktur lokal. Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah
bertumpuk nanah.
2. Apendisitis
kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh
akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks
miring, biasanya ditemukan pada usia tua.
4. Etiologi
Appendiksitis merupakan infeksi
bakteri yang disebabkan oleh obstruksi atau penyumbatan akibat :
1. Hiperplasia
dari folikel limfoid.
2. Adanya
fekalit dalam lumen appendiks.
3. Tumor
appendiks.
4. Adanya benda
asing seperti cacing askariasis.
5. Erosi mukosa
appendiks karena parasit seperti E. Histilitica.
Menurut penelitian, epidemiologi
menunjukkan kebiasaan makan makanan rendah serat akan mengakibatkan konstipasi
yang dapat menimbulkan appendiksitis. Hal tersebut akan meningkatkan
tekanan intra sekal, sehingga timbul sumbatan fungsional appendiks dan
meningkatkan pertumbuhan kuman flora pada kolon.
5. Tanda dan gejala
Nyeri terasa pada abdomen kuadran
bawah dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu
makan. Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Burney bila dilakukan tekanan. Nyeri tekan
lepas mungkin akan dijumpai
Derajat nyeri tekan, spasme otot, dan apakah terdapat konstipasi atau diare tidak tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi appendiks. Bila appendiks melingkar di belakang sekum, nyeri dan nyeri tekan dapat terasa di daerah lumbal ; bila ujungnya ada pada pelvis, tanda-tanda ini hanya dapat diketahuipada pemeriksaan rektal. Nyeri pada defekasi menunjukkan bahwa ujung appendiks dekat dengan kandung kemih atau ureter. Adanya kekeakuan pada bagian bawah otot rektum kanan dapat terjadi.
Tand Rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri, yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa pada kuadran bawah kanan. Apabila appendiks telah ruptur, nyeri dan dapat lebih menyebar ; distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitik dan kondisi klien memburuk.
6. Patofisiologi
Penyebab utama appendiksitis
adalah obstuksi penyumbatan yang dapat disebabkan oleh hiperplasia dari polikel
lympoid merupakan penyebab terbanyak adanya fekalit dalam lumen appendik.Adanya
benda asing seperti : cacing,striktur karenan fibrosis akibat adanya peradangan
sebelunnya.Sebab lain misalnya : keganasan (Karsinoma Karsinoid).
Obsrtuksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung, makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks oedem serta merangsang tunika serosa dan peritonium viseral. Oleh karena itu persarafan appendiks sama dengan usus yaitu torakal X maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit disekitar umblikus.
Obsrtuksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung, makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks oedem serta merangsang tunika serosa dan peritonium viseral. Oleh karena itu persarafan appendiks sama dengan usus yaitu torakal X maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit disekitar umblikus.
Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah, kemudian timbul gangguan aliran vena, sedangkan arteri belum terganggu, peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritomium parietal setempat, sehingga menimbulkan rasa sakit dikanan bawah, keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini disebut dengan appendisitis gangrenosa. Bila dinding apendiks yang telah akut itu pecah, dinamakan appendisitis perforasi.
Bila omentum usus yang berdekatan dapat mengelilingi apendiks yang meradang atau perforasi akan timbul suatu masa lokal, keadaan ini disebut sebagai appendisitis abses. Pada anak – anak karena omentum masih pendek dan tipis, apendiks yang relatif lebih panjang , dinding apendiks yang lebih tipis dan daya tahan tubuh yang masih kurang, demikian juga pada orang tua karena telah ada gangguan pembuluh darah, maka perforasi terjadi lebih cepat. Bila appendisitis infiltrat ini menyembuh dan kemudian gejalanya hilang timbul dikemudian hari maka terjadi appendisitis kronis (Junaidi ; 1982).
7. Pemeriksaan Penunjang
Akan terjadi leukositosis
ringan (10.000-20.000/ml
) dengan peningkatan jumlah neutrofil. Pemeriksaan urine juga perlu dilakukan untuk membedakannya dengan kelainan pada ginjal dan saluran
kemih.
Pada kasus akut tidak diperbolehkan melakukan
barium enema, sedangkan pada appendiksitis kronis tindakan ini dibenarkan.
Pemeriksaan USG dilakukan bila terjadi infiltrat appendikularis
(Mansjoer, 2000).
8. Komplikasi
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi adalah :
1. Perforasi
Rasa sakit yang bertambah,
demam tinggi, rasa yang
menyebar dan jumlah leukosit yang tinggi merupakan
tanda kemungkinan terjadinya perforasi.
2. Peritonitis
Peritonitis merupakan
salah satu akibat
perforasi.
3. Abses appendiks
Teraba suatu massa lunak di kuadran kanan bawah atau nanah di daerah pelvis dan
berkembang menjadi rongga yang berisi nanah.
4. Pileflebitis
( tromboflebitis septik vena portal)
Mengakibatkan demam tinggi,
panas dingin, menggigil dan ikterus.
9. Pencegahan
Pencegahan pada appendiksitis
yaitu dengan menurunkan resiko obstuksi dan peradangan pada lumen appendiks.
Pola eliminasi klien harus dikaji,sebab obstruksi oleh fekalit dapat terjadi
karena tidak ada kuatnya diit tinggi serat.Perawatan dan pengobatan penyakit
cacing juga menimbulkan resiko. Pengenalan yang cepat terhadap gejala dan tanda
appendiksitis menurunkan resiko terjadinya gangren,perforasi dan peritonitis.
10. Penatalaksanaan
Pada appendiksitis akut,
pengobatan yang paling baik adalah operasi appendiks. Dalam waktu 48 jam harus
dilakukan. Penderita di obsevarsi, istirahat dalam posisi fowler, diberikan
antibiotik dan diberikan makanan yang tidak merangsang persitaltik, jika
terjadi perforasi diberikan drain di perut kanan bawah.
· Tindakan pre
operatif, meliputi penderita di rawat, diberikan antibiotik dan kompres untuk
menurunkan suhu penderita, pasien diminta untuk tirabaring dan dipuasakan.
· Tindakan
operatif ; appendiktomi.
· Tindakan
post operatif, satu hari pasca bedah klien dianjurkan untuk duduk tegak di
tempat tidur selama 2 x 30 menit, hari berikutnya makanan lunak dan berdiri
tegak di luar kamar, hari ketujuh luka jahitan diangkat, klien pulang.
Patofisiologi Apendisitis


Keterangan :
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen appendiks. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa appendiks mengalami bendungan. Semakin lama mukus tersebut semakin banyak, namun elasitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intra lumen. Tekanan tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema dan ulaserasi mukosa. Pada saat itu terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai dengan nyeri epigastrium.
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen appendiks. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa appendiks mengalami bendungan. Semakin lama mukus tersebut semakin banyak, namun elasitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intra lumen. Tekanan tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema dan ulaserasi mukosa. Pada saat itu terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai dengan nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus berlanjut, tekanan akan terus
meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah dan
bakteri akan menembus dinding sehingga peradangan yang timbul meluas dan
mengenai peritoneum yang dapat menimbulkan nyeri pada abdomen kanan bawah yang
disebut apendisitis supuratif akut.
Apabila aliran arteri terganggu maka akan terjadi
infrak dinding appendiks yang diikuti ganggren. Stadium ini disebut apendisitis
ganggrenosa. Bila dinding appendiks rapuh maka akan terjadi prefesional disebut
appendikssitis perforasi.
Bila proses berjalan lambat, omentum dan usus
yang berdekatan akan bergerak ke arah appendiks hingga muncul infiltrat
appendikkularis.
Pada anak-anak karena omentum lebih pendek dan
appendiks lebih panjang, dinding lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan
daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan untuk terjadi perforasi,
sedangkan pada orang tua mudah terjadi karena ada gangguan pembuluh darah.
11. Prinsip Keperawatan Apendisitis
Pemeriksaan Fisik.
- B1 (Breathing) : Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan. Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal.
- B2 (Blood) : Sirkulasi : Klien mungkin takikardia.
- B3 (Brain) : Ada perasaan takut. Penampilan yang tidak tenang. Data psikologis Klien nampak gelisah.
- B4 (Bladder) : -
- B5 (Bowel) : Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus. Nyeri/kenyamanan nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney. Berat badan sebagai indikator untuk menentukan pemberian obat. Aktivitas/istirahat : Malaise. Eliminasi Konstipasi pada awitan awal dan kadang-kadang terjadi diare
- B6 (Bone) : Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.
a. Identitas klien
b. Riwayat Keperawatan
1. riwayat kesehatan saat ini ; keluhan nyeri pada
luka post operasi apendektomi, mual muntah, peningkatan suhu tubuh,
peningkatan leukosit.
2. Riwayat kesehatan masa lalu
3. pemeriksaan fisik
a. Sistem kardiovaskuler :
Untuk mengetahui tanda-tanda vital, ada tidaknya
distensi vena jugularis, pucat, edema, dan kelainan bunyi jantung.
b. Sistem hematologi : Untuk
mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya
infeksi dan pendarahan, mimisan splenomegali.
c. Sistem urogenital : Ada tidaknya ketegangan
kandung kemih dan keluhan sakit pinggang.
d. Sistem muskuloskeletal :
Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam pergerakkan, sakit pada tulang,
sendi dan terdapat fraktur atau tidak.
e. Sistem kekebalan tubuh :
Untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening.
c. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan darah rutin :
untuk mengetahui adanya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya
infeksi.
2. Pemeriksaan foto abdomen :
untuk mengetahui adanya komplikasi pasca pembedahan.
Perencanaan
1. Persiapan umum operasi
Hal yang bisa dilakukan oleh
perawat ketika klien masuk ruang perawat sebelum operasi :
a. Memperkenalkan klien dan
kerabat dekatnya tentang fasilitas rumah sakit untuk mengurangi rasa cemas
klien dan kerabatnya (orientasi lingkungan).
b. Mengukur tanda-tanda vital.
c. Mengukur berat badan dan
tinggi badan.
d. Kolaborasi pemeriksaan
laboratorium yang penting (Ht, Serum Glukosa, Urinalisa).
e. Wawancara.
2. Persiapan klien malam
sebelum operasi
Empat hal yang perlu
diperhatikan pada malam hari sebelum operasi :
a. Persiapan kulit
kulit merupakan pertahanan
pertama terhadap masuknya bibit penyakit. Karena operasi merusak integritas
kulit maka akan menyebabkan resiko terjadinya ifeksi.
Beberapa ahli bedah lebih
menyukai mencukur rambut karena bisa mengganggu prosedur operasi.
b. Persiapan saluran cerna
persiapan kasus yang dilakukan
pada saluran cerna berguna untuk :
1. Mengurangi kemungkinan
bentuk dan aspirasi selama anestasi.
2. Mengurangi kemungkinan
obstruksi usus.
3. Mencegah infeksi faeses saat
operasi.
Untuk mencegah tiga hal
tersebut dilakukan :
1. Puasa dan pembatasan makan
dan minum.
2. Pemberian enema jika perlu.
3. Memasang tube intestine atau
gaster jika perlu.
4. Jika klien menerimaanastesi
umum tidak boleh makan dan minum selama 8 - 10 jam sebelum operasi : mencegah
aspirasi gaster. Selang gastro intestinal diberikan malam sebelum atau pagi
sebelum operasi untuk mengeluarkan cairan intestinal atau gester.
c. Persiapan untuk anastesi
Ahli anastesi selalu
berkunjunng pada pasien pada malam sebelum operasi untuk melekukan pemeriksaan
lengkap kardiovaskuler dan neurologis. Hal ini akan menunjukkan tipe anastesi
yang akan digunakan selama operasi.
d. Meningkatkan istirahat dan
tidur
Klien pre operasi akan
istirahat cukup sebelum operasi bila tidak ada gangguan fisik, tenaga mentalnya
dan diberi sedasi yang cukup.
3. Persiapan pagi hari
sebelum operasi klien dibangunkan 1 (satu) jam sebelum obat-obatan pre operasi
:
1. Mencatat tanda-tanda vital
2. Cek gelang identitas klien
3. Cek persiapan kulit dilaksanakan
dengan baik
4. Cek kembali instruksi khusus
seperti pemasangan infus
5. Yakinkan bahwa klien tidak makan
dalam 8 jam terakhir
6. Anjurkan klien untuk buang air
kecil
7. Perawatan mulut jika perlu
8. Bantu klien menggunakan baju RS
dan penutup kepala
9. Hilangkan cat kuku agar mudah
dalam mengecek tanda-tanda hipoksia lebih mudah.
4. Interpesi pre operasi
1. Obsevasi tanda-tanda vital
2. Kaji intake dan output cairan
3. Auskultasi bising usus
4. Kaji status nyeri : skala, lokasi,
karakteristik
5. Ajarkan tehnik relaksasi
6. Beri cairan intervena
7. kaji tingkat ansietas
8. Beri informasi tentang proses
penyakit dan tindakan
5. Intervensi post
operasi
1. Observasi tanda-tanda vital
2. Kaji skala nyeri : Karakteristik,
skala, lokasi
3. Kaji keadaan luka
4. Anjurkan untuk mengubah posisi
seperti miring ke kanan, ke kiri dan duduk.
5. Kaji status nutrisi
6. Auskultasi bising usus
7. Beri informasi perawatan luka dan
penyakitnya.
Evaluasi
a. Gangguan rasa nyaman teratasi
b. Tidak terjadi infeksi
c. Gangguan nutrisi teratasi
d. Klien memahami tentang perawatan
dan penyakitnya
e. Tidak terjadi penurunan berat
badan
f. Tanda-tanda vital dalam batas
normal
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
Pasien dengan Appendiksitis
A. Pengkajian
1. Identitas
Pasien
Identitas klien Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor register.
Identitas klien Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor register.
2. Riwayat
Keperawatan
· Riwayat
Kesehatan saat ini : keluhan nyeri pada luka post operasi apendektomi, mual
muntah, peningkatan suhu tubuh, peningkatan leukosit.
· Riwayat
Kesehatan masa lalu
·
Pola
Kebiasaan Sehari –hari
·
Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
Data subjektif
: Mewawancarai klien tentang bagaimana
klien menganggap kebersihan terhadap dirinya terutama keadaan lingkungan dan
terhadap makanan, menanyakan riwayat kesehatan dalam keluarga, apa upaya yang
dilakukan untuk mempertahankan kebersihan dan pencegahan penyakit.
Data objektif : Mengkaji kebersihan seluruh tubuh
·
Pola nutrisi metabolic
Data subjektif :Mewawancarai klien tentang kebiasaan
makanan dan minuman sehari-hari dan menanyakan bagaimana kenaikan berat badan.
Data objektif :Mengkaji gambaran nutrisi tubuh atau berat
badan, kebiasaan makan, nilai kebersihan badan sendiri.
·
Eliminasi
Data subjektif :Mengkaji kebiasaan BAB / BAK sebelum sakit,
menanyakan riwayat penyakit kelamin yang pernah ada.
Data objektif :Mengkaji pola BAB/BAK
·
Pola tidur dan istirahat
Data subjektif :Mengkaji kebiasaan tidur sehari-hari (lama
tidur malam, tidur siang) apakah ada gangguan tidur dan kebiasaan sebelum
tidur.
Data objektif :Mengkaji tingkat kemampuan observasi mata
dan ekspresi wajah.
·
Pola persepsi kognitif
Data subjektif :Mengidentifikasi tingkat interval secara
umum kemampuan mengungkapkan perasaan nyaman atau nyeri dan kemampuan berfikir,
penginderaan, pengecapan serta penggunaan alat bantu.
Data objektif :Mengobservasi kemampuan pendengaran,
penginderaan, pengecapan serta penggunaan alat bantu
·
Pola persepsi kognitif
Data subjektif :Mengidentifikasi bagaimana anggapan klien
terhadap perubahan berhubungan dengan penyakit yang mengganggu citra tubuhnya,
apakah klien ada putus asa atau merasa rendah diri.
Data objektif :Mengkaji kemampuan dan keamanan atau
partisipasi klien dalam tindakan keperawatan.
·
Pola peran dan hubungan dengan masyarakat
Data subjektif :Mengidentifikasi hubungan klien dengan
sesama, saudara atau keluarga, cara klien untuk mengungkapkan masalah pada
teman atau keluarga serta dukungan dalam menghadapi penyakit.
Data objektif :Klien berhubungan dengan keluarga dan
saudaranya..
·
Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap
stress
Data subjektif :Mengidentifikasi respon emosi klien pada saat
klien menghadapi masalah atau stres klien dan bagaimana klien mengungkapkan
atau melampiaskannya.
Data objektif :Mengkaji ekspresi wajah klien.
·
Pola sistem kepercayaan
Data subjektif :Bagaimana kepercayaan dan kegiatan klien
beribadah pada kepercayaan, apakah klien rajin berdoa selama sakit.
3. Pemeriksaan Fisik
Demam biasanya ringan, dengan suhu sekitar
37,5-38,5°C. Bila suhu lebih
tinggi, mungkin sudah terjadi perforasi. Bisa terdapat perbedaan suhu aksilar dan rektal sampai 1 °C.
a. Inspeksi
Kadang sudah terlihat waktu penderita
berjalan sambil bungkuk dan memegang perut. Penderita tampak kesakitan. Pada
inspeksi perut tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada
penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa
dilihat pada massa atau abses appendikuler.
b. Palpasi
Dengan palpasi di daerah titik Mc. Burney
didapatkan tanda-tanda peritonitis lokal yaitu:
1) Nyeri
tekan di Mc. Burney
2) Nyeri
lepas
3) Defans
muscular lokal. Defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum
parietal.
Pada appendiks letak retroperitoneal, defans
muscular mungkin tidak ada, yang ada nyeri pinggang.
c. Auskultasi
Peristaltik usus sering normal.
Peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata
akibat appendisitis perforata.
Psoas sign. Nyeri pada saat paha kanan pasien diekstensikan.
Pasien dimiringkan kekiri. Pemeriksa meluruskan paha kanan pasien, pada saat
itu ada hambatan pada pinggul / pangkal paha kanan. (A.
Mansjoer, dkk. 2000)
Tes Obturator. Nyeri pada rotasi kedalam secara pasif saat paha
pasien difleksikan. Pemeriksa menggerakkan tungkai bawah kelateral, pada saat
itu ada tahanan pada sisi samping dari lutut (tanda bintang), menghasilkan
rotasi femur kedalam. (A. Mansjoer, dkk. 2000)
Menurut Doenges (2000) pengkajian pada pasien
dengan Appendiksitis :
a. Pre Appendiktomi
1) Aktivitas
Gejala :
Malaise
2) Sirkulasi
Tanda:
Tachicardia
3) Eliminasi
Gejala :
Konstipasi pada awitan awal, diare (kadang-kadang)
Tanda :
Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan penurunan/ tidak ada bising
usus
4) Makanan/ cairan
Gejala :
Anoreksia, mual/muntah
5) Nyeri/ kenyamanan
Gejala: Nyeri
abdomen sekitar epigastrum dan umbilikus, yang meningkat berat dan
terlokalisasi pada titik Mc Burney (setelah jarak antara umbilikus dan tulang
ileum kanan). Nyeri ini merupakan
gejala klasik appendisitis. Mula-mula nyeri dirasakan samar-samar dan tumpul
yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium atau sekitar umbilicus.
Setelah beberapa jam nyeri berpindah dan menetap di abdomen kanan bawah (titik
Mc Burney). Nyeri akan bersifat tajam dan lebih jelas letaknya sehingga berupa
nyeri somatik setempat. Bila terjadi perangsangan peritonium biasanya penderita
akan mengeluh nyeri di perut pada saat berjalan atau batuk. (W. De Jong, R. Sjamsuhidajat, 2004)
Tanda :
Perilaku berhati-hati, berbaring ke samping atau telentang dengan lutut
ditekuk, meningkatnya nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi
kaki kanan/ posisi duduk tegak.
6) Keamanan
Tanda : demam
(biasanya rendah). Demam terjadi
bila sudah ada komplikasi, bila belum ada komplikasi biasanya tubuh belum
panas. Suhu biasanya berkisar 37,5º-38,5º C
7) Pernafasan
Tanda : takipnea/ pernafasan dangkal
8) Penyuluhan/ pembelajaran
Gejala :
Riwayat kondisi lain yang berhubungan dengan nyeri abdomen contoh pielitis
akut, batu uretra, dapat terjadi pada berbagai usia
b. Post Appendiktomi
1) Sirkulasi
Gejala :
riwayat masalah jantung, edema pulmonal, penyakit vaskuler perifer.
2) Integritas ego
Gejala :
perasaan takut, cemas, marah, apati.
Tanda : tidak
dapat beristirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang, stimulasi simpatis
3) Makanan/ cairan
Gejala :
insufisiensi pangkreas, malnutrisi, membran mukosa yang kering
4) Pernafasan
Gejala :
infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok
5) Keamanan
Gejala :
alergi, defisiensi imun, riwayat keluarga tentang hipertermi malignan/reaksi
anastesi, riwayat penyakit hepatik, riwayat transfusi darah
Tanda :
munculnya proses infeksi yang melelahkah, demam
4. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
1) Pemeriksaan
darah : akan didapatkan leukositosis pada kebanyakan kasus appendicitis akut
terutama pada kasus dengan komplikasi, C-reaktif protein meningkat. Pada
appendicular infiltrat, LED akan meningkat.
2) Pemeriksaan
urin : untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam urin.
Pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis banding seperti
infeksi saluran kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir
sama dengan appendisitis.
b. Abdominal
X-Ray
Digunakan untuk melihat adanya fecalith sebagai
penyebab appendisitis. Pemeriksaan ini dilakukan terutama pada anak-anak.
c. USG
Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat
dilakukan pemeriksaan USG, terutama pada wanita, juga bila dicurigai adanya
abses. Dengan USG dapat dipakai untuk menyingkirkan diagnosis banding seperti
kehamilan ektopik, adnecitis dan sebagainya.
d. Barium
enema
Suatu pemeriksaan x-ray dengan memasukkan barium
ke colon melalui anus. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi
dari appendisitis pada jaringan sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan
diagnosis banding. Appendicogram memiliki sensitivitas dan tingkat akurasi yang
tinggi sebagai metode diagnostik untuk menegakkan diagnosis appendisitis
kronis. Dimana akan tampak pelebaran/penebalan dinding mukosa appendiks,
disertai penyempitan lumen hingga sumbatan usus oleh fekalit.
e. CT-scan
Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendisitis.
Selain itu juga dapat menunjukkan komplikasi dari appendisitis seperti bila
terjadi abses.
f. Laparoscopi
Suatu tindakan dengan menggunakan kamera
fiberoptic yang dimasukan dalam abdomen, appendiks dapat divisualisasikan
secara langsung. Teknik ini
dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum. Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan
peradangan pada appendiks maka pada saat itu juga dapat langsung dilakukan
pengangkatan appendiks.
B. Diagnosa
Keperawatan yang Mungkin Muncul
Diagnosa keperawatan adalah
suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan) dari
individu atau kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat
mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status
kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Nursalam, 2001).
Untuk menentukan diagnosa keperawatan ada 3 unsur
pernyataan yaitu problem, etiologi, dan symptom (masalah, penyebab, tanda dan
gejala). Masalah adalah penjelasan status kesehatan atau masalah kesehatan klien secara jelas dan sesingkat
mungkin. Etiologi (penyebab) adalah faktor klinik dan personal yang dapat merubah kesehatan atau mempengaruhi
perkembangan masalah. Symptom (tanda dan gejala) adalah tanda dan gejala yang muncul pada pasien saat
dilakukan pengkajian. (Nursalam, 2001).
Menurut Dongoes (2000) diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan :
a.
Pre Appendiktomi
1) Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan
dengan tidak adekuatnya pertahanan utama; perforasi/ ruptur pada apendiks,
peritonitis, pembentukan abses; prosedur invasive
2) Resiko tinggi terhadap kekurangan volume
cairan berhubungan dengan munta pra operasi; status hipermetabolik (contoh
demam,) ; inflamasi peritonium dengan cairan asing
3) Nyeri akut berhubungan dengan distensi
jaringan usus oleh inflamasi
4) Kurang pengetahuan tentang kondisi,
prognosis, dan kebutuhan pengobatan
b. Post Appendiktomi
1) Resiko
kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan secara
oral
2) Nyeri
akut berhubungan dengan adanya insisi bedah
3) Kerusakan
integritas kulit berhubungan dengan interupsi mekanis pada kulit/jaringan
C. Perencanaan
Dalam menentukan perencanaan perlu
menyusun suatu system untuk menentukan diagnosa yang akan diambil tindakan
pertama kali. Salah satu sistem yang bisa digunakan adalah hirarki kebutuhan
manusia “ Fyer et al, 1996 “ ( Nursalam, 2001, hal 52 ). Perencanaan meliputi
pengembangan strategi untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi
masalah-masalah yang akan diidentifikasi pada diagnosa kutipan dari Fiyer,
taptik dan bernocehi, 1996 ( Nursalam, 2001, hal 51), dalam pengaturan
prioritas, perencanaan ada dua hirarki yang bisa digunakan:
a. Hirarki Maslow
Maslow
menjelaskan kebutuhan manusia dibagi dalam lima tahap: fisiologi, rasa aman dan
nyaman, sosial, harga diri dan aktualitas diri. Dia mengatakan bahwa klien memerlukan suatu tahapan
kebutuhan. Jika klien menghendaki suatu tindakan yang memuaskan. Dengan kata lain kebutuhan fisiologis biasanya
sebagai prioritas utama bagi klien dari pada kebutuhan lain
(
Nursalam, 2001, hal 52).
Dimana Maslow menggambarkan dengan skema
piramida yang menunjukkan bagaimana seseorang bergerak dari pemenuhan kebutuhan
dasar dari tingkat kebutuhan yang lebih tinggi dengan tujuan akhir adalah
fungsi dan kesehatan manusia yang terintergrasi.yaitu :
a). Kebutuhan fisiologis O2, Co2,
Elektrolik, makanan, sex .
b). Kebutuhan keselamatan dan keamanan,
terhindar dari penyakit, pencuri dan perlindungan hokum.
c). Mencintai dan dicintai : kasih sayang,
mencintai, dicintai, diterima kelompok.
d). Harga diri: dihargai dan menghargai
(Respek dan toleransi).
e). Aktualisasi diri: ingin diakui,
berhasil dan menonjol
( Smeltzer and Bare, 2002, hal 14)
b. Hirarki “ kalish”
Kalish 1983, lebih menjelaskan
kebutuhan Maslow dengan membagi kebutuhan fisiologi menjadi kebutuhan untuk
“bertahan dan stimulasi”. Kalish mengidentifikasi kebutuhan untuk mempertahankan
hidup: udara, air, temperatur, eliminasi, istirahat dan menghindari nyeri, jika terjadi kekurangan
kebutuhan tersebut, klien cenderung menggunakan prasarana untuk memuaskan
kebutuhan tertentu, hanya saja mereka akan mempertimbangkan terlebih dahulu
kebutuhan yang paling tinggi prioritasnya, misalnya keamanan dan harga diri. Di
kutif dari Iyer, el al, 1996 (Nursalam, 2001, hal 53)
Menurut Doenges (2000) perencanaan keperawatan pada pasien :
A. Pre Appendiktomi
1)
Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan
utama; perforasi/ ruptur pada apendiks, peritonitis, pembentukan abses;
prosedur invasif
a) Awasi tanda vital. Perhatikan demam, menggigil,
berkeringat, perubahan mental, meningkatnya nyeri abdomen
Rasional :
dugaan adanya infeksi atau terjadinya sepsis, peritonitis, dan abses.
b) Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka
aseptik. Berikan perawatan paripurna.
Rasional :
menurunkan resiko penyebaran bakteri
c) Lihat insisi dan balutan. Catat karakteristik
drainase luka, drein (bila dimasukkan), adanya eritema
Rasional :
memberikan deteksi dini terjadinya proses infeksi, dan/atau pengawasan
penyembuhan peritonitis yang telah ada sebelumnya.
d) Berikan informasi yang tepat, jujur pada pasien/ orang
terdekat
Rasional :
Pengetahuan tentang kemajuan situasi memberikan dukungan emosi, membantu
menurunkan ansietas
e) Ambil contoh dreinase bila diindikasikan
Rasional :
Kultur pewarnaan Gram dan sensitivitas berguna untuk mengidentifikasikan organisme
penyebab dan pilihan terapi
f) Berikan antibiotik sesuai dengan indikasi
Mungkin
diberikan secar profilaktik atau menurunkan jumlah organisme (pada infeksi yang
telah ada sebelumnya) untuk menurunkan penyebaran dan pertumbuhannya pada
abdomen
g) Bantu irigasi/drainase bila diindikasikan
Rasional :
dapat diperlukan untuk mengalirkan isi abses terlokalisir
2) Resiko
tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah pra operasi;
status hipermetabolik (contoh demam) ; inflamasi peritonium dengan cairan asing
a) Awasi TD dan nadi
Rasional :
tanda yang membantu mengidentifikasi fluktuasi volume intravaskuler
b) Lihat membran mukosa; kaji turgor kulit dan
pengisian kapiler
Rasional :
indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler
c) Awasi masukan dan haluran; catat warna
urine/konsentrasi, berat jenis
Rasional :
penurunan haluran urine pekat dengan peningkatan berat jenis diduga
dehidrasi/kebutuhan peningkatan cairan
d) Berikan perawatan mulut sering dengan perhatian khusus
pada perlindungan bibir
Rasional :
dehidrasi mengakibatkan bibir dan mulut kering dan pecah-pecah
e) Pertahankan penghisapan gaster/usus
Rasional :
selang NG biasanya dimasukkan pada pra operasi dan dipertahankan pada fase
segera pasca operasi untuk dekompensasi usus, meningkatkan istirahat usus,
mencegah muntah.
f) Berikan cairan IV dan elektrolit
Rasional :
peritonium bereaksi terhadap iritasi/infeksi dengan menghasilkan sejumlah besar
cairan yang dapat menurunkan volume sirkulasi darah, mengakibatkan hipovolemia.
Dehidrasi dan dapat terjadi ketidakseimbangan elektrolit
3) Nyeri
akut berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi
a) Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik,
beratnya (skala 1-10). Selidiki dan laporkan perubahan nyeri dengan tepat
Rasional :
berguna dalam pengawasan keefektifan obat, kemajuan penyembuhan. Perubahan pada
karekteristik nyeri menunjukkan terjadinya abses/peritonitis, memerlukan upaya
evaluasi medik dan intervensi
b) Pertahankan istirahat dengan posisi semi fowler
Rasional :
grafitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam abdomen bawah atau pelvis,
menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah pada posisi telentang
c) Berikan aktivitas hiburan
Rasional :
fokus perhatian kembali, meningkatkan relaksasi, dan dapat meningkatkan
kemampuan koping
d) Pertahankan puasa/penghisapan NG pada awal
Rasional :
Menurunkan ketidaknyamanan pada peristaltik usus dini dan irigasi
gaster/muntah
e) Berikan analgesik sesuai dengan indikasi
Rasional :
menghilangkan nyeri mempermudah kerja sama dengan intervensi terapi lain
f) Berikan kantong es pada abdomen
Rasional :
menghilangkan dan mengurangi nyeri melalui penghilangan rasa ujung syaraf
B. Post Appendiktomi
Berdasarkan
diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien dengan Pos Appendiktomi maka
rencana keperawatan yang dapat dirumuskan adalah:
1)
Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, insisi bedah.
2)
Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah.
3) Gangguan
keseimbangan cairan/elektrolit berhubungan dengan mual, muntah, diare.
4) Kurang
pengetahuan mengenai kondisi, prognosis, kebutuhan pengobatan berhubungan
dengan tidak mengenal sumber informasi.
|
NO
|
DIAGNOSA KEPERAWATAN
|
TUJUAN / KRITERIA EVALUASI
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
|
|
1
|
Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan insisi bedah.
|
Tujuan :
Nyeri berkurang sampai hilang.
Kriteria hasil :
Klien melaporkan nyeri berkurang, kenyamanan klien terpenuhi, ekspresi
wajah rileks.
|
a.
Kaji nyeri : lokasi
karakteristik, berat (skala 0-10). Selidiki dan laporkan perubahan nyeri
dengan tepat.
b.
Dorong melakukan ambulasi
c.
Alihkan fokus nyeri
d.
Kaji analgesik yang klien
pakai
e.
Berikan analgesik sesuai
indikasi
|
a.
Monitor keefektifan obat
kemajuan/ kemunduran terapi, menentukan tindakan lanjutan. (Doenges, 1999 hal
511)
b. Meningkatkan normalisasi fungsi organ,
mengurangi ketidaknyamanan abdomen. (Doenges, 1999 hal 511)
c.
Fokus perhatian kembali,
meningkatkan relaksasi, meningkatkan kemampuan koping. (Doenges 1999 hal 511)
d. Mempermudah intervensi penanganan nyeri.
(Ackley 2002 hal 563)
e.
Mengontrol nyeri,
mempermudah pelaksanaan intervensi lain misalnya ambulasi. (Doenges 1999 hal
512)
|
|
|
2
|
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan insisi bedah
|
Tujuan :
Mencegah infeksi, mempercepat penyembuhan luka.
Kriteria hasil :
Klien tidak mengalami infeksi selama di opnama.
|
a.
Awasi tanda-tanda vital,
perhatikan demam, menggigil, berkeringat, status mental, nyeri abdomen.
b.
Lakukan pencucian tangan
yang baik, perawatan luka.
c.
Lihat insisi dan balutan,
karakteristik luka/drain dan adanya edema.
d.
Berikan antibiotik sesuai
indikasi.
|
a.
Dugaan adanya
infeksi/terjadinya sepsis, abses, peritonitis. (Doenges 1999 hal 509)
b.
Mengurangi resiko
penyebaran bakteri (Doenges 1999 hal 510)
c.
Indikator proses
infeksi, monitor penyembuhan luka (Doenges 1999 hal 510)
d.
Menurunkan
penyebaran dan pertumbuhan organisme (Doenges 1999 hal 512)
|
|
|
3
|
Intoleransi aktifitas b/d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen.
|
Tujuan :
Kebutuhan mempertahankan kesimbangan cairan.
Kriteria hasil :
klien tidak mengalami tanda-tanda dehidrasi yang lebih parah selama
diopnama..
|
a.
Awasi tekanan darah dan
nadi.
b.
Lihat membran mukosa, catat
warna urine, konsentrasi.
c.
Auskultasi bising usus,
catat kelancaran flatus, gerakan usus.
d.
Berikan sejumlah kecil
minuman jernih bila pemasukan peroral dimulai, lanjutkan sesuai toleransi.
|
a.
Tanda yang membantu
mengidentifikasi fluktuasi, volume intravaskuler. (Doenges 1999 hal 510).
b. Indikator keadekuatan sirkulasi perifer
dan hidrasi seluler. (Doenges 1999 hal 510).
c.
Indikator kembalinya
peristaltik kesiapan untuk pemasukan peroral (Doenges 1999 hal 510).
d. Menurunkan iritasi gaster/muntah untuk
meminimalkan kehilangan cairan (Doenges 1999 hal 510).
|
|
|
4
|
Kurang pengetahuan tentang
indikasi, prognosis, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan
informasi, tidak mengenal sumber informasi.
|
Tujuan :
Kebutuhan pembelajaran klien
terpenuhi.
Kriteria hasil :
Klien/keluarga dapat mengetahui
kondisi prognosis, kebutuhan pengobatan. Klien dapat bekerjasama selama di
opnama.
|
a.
Kaji ulang pembatasan aktivitas pasca operasi, misalnya angkat berat,
menyetir.
b.
Dorong aktivitas sesuai toleransi dengan periode istirahat periodik.
c.
Diskusikan perawatan insisi.
d.
Ajarkan klien dan keluarga teknik perawatan luka
|
a.
Informasi pada klien untuk rencana kembali rutinitas biasa tanpa
menimbulkan masalah baru (Doenges 1999 hal 512)
b.
Mencegah kelemahan, mempercepat penyembuhan, kembali kriteria evaluasi
aktifitas normal (Doenges 1999 hal 511)
c.
Pemahaman meningkatkan kerjasama dengan program terapi, mempercepat
penyembuhan dan proses perbaikan (Doenges 1999 hal 512)
d.
Mencegah infeksi agar penyembuhan tidak terhambat (Carpenito 1995 hal
464)
|
|
4.
Pelaksanaan
Pelaksanaan merupakan perwujudan dari intervensi yang telah dibuat
perawat memiliki tanggung jawab untuk melakukan tindakan keperawatan secara
mandiri maupun kolaboratif dengan melibatkan klien dan keluarga serta tim
kesehatan lainnya.
5.
Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan dimana fokusnya
adalah untuk menentukan respon klien terhadap intervensi yang diberikan, baik
respon subjektif maupun objektif, menentukan tujuan-tujuan yang sudah/belum
tercapai serta menentukan tindakan selanjutnya.
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada
usus buntu atau umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan
pernanahan. Bila infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu
merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus
besar atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan
terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun,
lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir.
(Anonim, Apendisitis, 2007)
Asuhan Keperawatan yang komprehensif diperlukan pada
penatalaksanaan pasien apendiksitis ini, agar tujuan pelayanan keperawatan yang
paripurna, bermutu, dan bertanggung jawab dapat dilaksanakan.
Penulis.
Daftar Pustaka
_____,2009. Colonic Diverticular Disease. (online)(www.clevelandclinicmeded.com/.../diseasemanagement/.../colonic-diverticular-disease/ diakses pada 28 Nov 2010 pukul 19.35)
Mahdi,2010. ASKEP DIVERTIKULUM PADA COLON .
(online)(http://askep-mahdi.blogspot.com/2010/01/askep-divertikulum-pada-colon.html
diakses pada 28 Nov 2010 pukul 19.46)
Burner and suddarth, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,-edisi
8,-volume 2, Jakarta : EGC.Engram, Barbara, 1994, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Vol 2, Jakarta : EGC.
RadenFahmi,2010. Divertikulosis. (online) (http://community.um.ac.id/showthread.php?55616- diakses pada 29 Nov 2010 pukul 20.03)
Perry & Potter, 2006, Fundamental Keperawatan volume 2, Jakarta : EGC.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar