Steril dan Desinfeksi
Ol/
Juliardinsyah
Edit Juni 2013
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Lingkup bidang keperawatan memberikan asuhan keperawatan baik pada pasien yang beresiko terinfeksi atau telah terinfeksi. Pengetahuan mengenai bagaiman terjadinya infeksi sangat penting dikuasai untuk membatasi dan mencegah terjadi penyebaran infeksi dengan cara mempelajari ilmu bakteriologi, imunologi, virologi dan parasitologi yang terkandung pada ilmu mikrobiologi.
Selain itu, diperlukan juga cara untuk mengurangi atau bahkan mengatasi infeksi tersebut secara keseluruhan. Secara lebih spesifik diperlukan pula pengetahuan mendasar akan kondisi seperti apa yang bisa dijadikan lokasi atau tempat untuk melakukan asuhan keperawatan.
Perkembangan ilmu mikrobiologi telah memberikan sumbangan yang besaar bagi dunia kesehatan, dengan ditemukannya berbagai macam alat berkat penemuan beberapa ilmuan besar. Bahwa terbukti untuk mencegah atau mengendalikan infeksi tenaga kesehatan dapat menggunakan konsep steril ataupun bersih, untuk membantu proses penyembuhan pasiennya dan lebih spesifik lagi untuk mengendalikan dan mencegah terjadinya infeksi.
Maka dari itu, kami merasa penting untuk menyusun sebuah tulisan yang membahas tentang bagaimana penerapan sterilisasi dan desinfeksi dalam makalah ini. Juga bagaimana aplikasinya dalam keseharian dunia keperawatan.
1.2 Tujuan
Dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, maka kami menyimpulkan beberapa tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
•
Bagaimana konsep steril dan desinfeksi digunakan.
• Mempelajari pengertian, tujuan maupun macam-macam tekhnik sterilisasi dan desinfeksi
• Mengetahui sejauh mana pengetahuan mahasiswa tentang sterilisasi dan desinfeksi.
• Mempelajari pengertian, tujuan maupun macam-macam tekhnik sterilisasi dan desinfeksi
• Mengetahui sejauh mana pengetahuan mahasiswa tentang sterilisasi dan desinfeksi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sterilisasi dan Desinfeksi
A. Pengertian Sterilisasi
Steralisasi adalah suatu cara untuk membebaskan sesuatu (alat,bahan,media, dan lain-lain) dari mikroorganisme yang tidak diharapkan kehadirannya baik yang patogen maupun yang a patogen. Atau bisa juga dikatakan sebagai proses untuk membebaskan suatu benda dari semua mikroorganisme, baik bentuk vegetative maupun bentuk spora.
Proses sterilisasi dipergunakan pada bidang mikrobiologi untuk mencegah pencernaan organisme luar, pada bidang bedah untuk mempertahankan keadaan aseptis, pada pembuatan makanan dan obat-obatan untuk menjamin keamanan terhadap pencemaran oleh miroorganisme dan di dalam bidang-bidang lain pun sterilisasi ini juga penting.
Sterilisasi banyak dilakukan di rumah sakit melalui proses fisik maupun kimiawi. Steralisasi juga dikatakan sebagai tindakan untuk membunuh kuman patogen atau kuman apatogen beserta spora yang terdapat pada alat perawatan atau kedokteran dengan cara merebus, stoom, menggunakan panas tinggi, atau bahkan kimia. Jenis sterilisasi antara lain sterilisasi cepat, sterilisasi panas kering, steralisasi gas (Formalin H2 O2), dan radiasi ionnisasi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam steralisasi di antaranya:
a.
Sterilisator (alat untuk mensteril)
harus siap pakai, bersih, dan masih berfungsi.
b.
Peralatan yang akan di steralisasi
harus dibungkus dan diberi label yang jelas dengan menyebutkan jenis
pera;latan, jumlah, dan tanggal pelaksanaan sterilisasi.
c.
Penataan alat harus berprinsip bahwa
semua bagian dapat steril.
d.
Tidak boleh menambah peralatan dalam
sterilisator sebelum waktu mensteril selesai.
e.
Memindahklan alat steril ke dalam
tempatnya dengan korentang steril
f.
Saat mendinginkan alat steril tidak
boleh membuka pembungkusnya, bila terbuka harus dilakukan steralisasi ulang.
B. Desinfeksi
, hal ini dapat mengurangi
kemungkinan terjadi infeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen.
Disinfektan yang tidak berbahaya bagi permukaan tubuh dapat digunakan dan bahan
ini dinamakan antiseptik. Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau
menghancurkan mikroorganisme pada jaringan hidup, sedang desinfeksi digunakan
pada benda mati. Desinfektan dapat pula digunakan sebagai antiseptik atau
sebaliknya tergantung dari toksisitasnya.
Sebelum dilakukan desinfeksi, penting untuk membersihkan alat-alat tersebut dari debris organik dan bahan-bahan berminyak karena dapat menghambat proses disinfeksi.
Disinfektan dapat membunuh mikroorganisme patogen pada benda mati. Disinfektan dibedakan menurut kemampuannya membunuh beberapa kelompok mikroorganisme, disinfektan "tingkat tinggi" dapat membunuh virus seperti virus influenza dan herpes, tetapi tidak dapat membunuh virus polio, hepatitis B atau M. tuberculosis.
Sebelum dilakukan desinfeksi, penting untuk membersihkan alat-alat tersebut dari debris organik dan bahan-bahan berminyak karena dapat menghambat proses disinfeksi.
Disinfektan dapat membunuh mikroorganisme patogen pada benda mati. Disinfektan dibedakan menurut kemampuannya membunuh beberapa kelompok mikroorganisme, disinfektan "tingkat tinggi" dapat membunuh virus seperti virus influenza dan herpes, tetapi tidak dapat membunuh virus polio, hepatitis B atau M. tuberculosis.
Untuk mendesinfeksi permukaan dapat dipakai salah satu dari tiga desinfektan seperti iodophor, derifat fenol atau sodium hipokrit. Untuk mendesinfeksi permukaan, umumnya dapat dipakai satu dari tiga desinfektan diatas. Tiap desinfektan tersebut memiliki efektifitas "tingkat menengah" bila permukaan tersebut dibiarkan basah untuk waktu 10 menit.
Kriteria desinfeksi yang ideal:
ü Bekerja dengan cepat untuk
menginaktivasi mikroorganisme pada suhu kamar
ü Aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organik, pH, temperatur dan kelembaban
ü Tidak toksik pada hewan dan manusia
ü Tidak bersifat korosif
ü Tidak berwarna dan meninggalkan noda
ü Tidak berbau/ baunya disenangi
ü Bersifat biodegradable/ mudah diurai
ü Larutan stabil
ü Mudah digunakan dan ekonomis
ü Aktivitas berspektrum luas
2.2 Tujuan Sterilisasi dan Desinfeksi
ü Aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organik, pH, temperatur dan kelembaban
ü Tidak toksik pada hewan dan manusia
ü Tidak bersifat korosif
ü Tidak berwarna dan meninggalkan noda
ü Tidak berbau/ baunya disenangi
ü Bersifat biodegradable/ mudah diurai
ü Larutan stabil
ü Mudah digunakan dan ekonomis
ü Aktivitas berspektrum luas
2.2 Tujuan Sterilisasi dan Desinfeksi
Adapun tujuan dari sterilisasi dan desinfeksi tersebut adalah
·
Mencegah terjadinya infeksi
·
Mencegah makanan menjadi rusak
·
Mencegah kontaminasi mikroorganisme
dalam industry
·
Mencegah kontaminasi terhadap bahan-
bahan yg dipakai dalam melakukan biakan murni.
2.3 Macam-Macam Sterilisasi
Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi:
1.
Sterilisai secara mekanik (filtrasi)
menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45
mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan
untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misal nya larutan enzim dan antibiotic
2.
Sterilisasi secara fisik dapat
dilakukan dengan pemanasan & penyinaran
•
Pemanasan
Pemijaran (dengan api langsung): membakar
alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum inokulum, pinset, batang L,
dll. 100 % efektif namun terbatas penggunaanya.
Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll. Waktu relatif lama sekitar 1-2 jam. Kesterilaln tergnatung dengan waktu dan suhu yang digunakan, apabila waktu dan suhu tidak sesuai dengan ketentuan maka sterilisasipun tidak akan bisa dicapai secara sempurna.
Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll. Waktu relatif lama sekitar 1-2 jam. Kesterilaln tergnatung dengan waktu dan suhu yang digunakan, apabila waktu dan suhu tidak sesuai dengan ketentuan maka sterilisasipun tidak akan bisa dicapai secara sempurna.
Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air
lebih tepat menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi Teknik
disinfeksi termurah Waktu 15 menit setelah air mendidih Beberapa bakteri tidak
terbunuh dengan teknik ini: Clostridium perfingens dan Cl. Botulinum
Uap air panas bertekanan : menggunalkan autoklaf menggunakan suhu 121 C dan
tekanan 15 lbs, apabila sedang bekerja maka akan terjadi koagulasi. Untuk
mengetahui autoklaf berfungsi dengan baik digunakan Bacillus stearothermophilus
Bila media yang telah distrerilkan. diinkubasi selama 7 hari berturut-turut
apabila selama 7 hari: Media keruh maka otoklaf rusak Media jernih maka otoklaf
baik, kesterilalnnya, Keterkaitan antara suhu dan tekanan dalam autoklaf
• Pasteurisasi: Pertama dilakukan oleh Pasteur, Digunakan pada sterilisasi susu Membunuh kuman: tbc, brucella, Streptokokus, Staphilokokus, Salmonella, Shigella dan difteri (kuman yang berasal dari sapi/pemerah) dengan Suhu 65 C/ 30 menit
• Penyinaran dengan sinar UV
Sinar Ultra Violet juga dapat digunakan untuk proses
sterilisasi, misalnya untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan
interior Safety Cabinet dengan disinari lampu UV Sterilisaisi secara kimiawi
biasanya menggunakan senyawa desinfektan antara lain alkohol.
Beberapa
kelebihan sterilisasi dengan cara ini:
- Memiliki daya antimikrobial sangat kuat
- Panjang gelombang: 220-290 nm paling efektif 253,7 nm
- Memiliki daya antimikrobial sangat kuat
- Panjang gelombang: 220-290 nm paling efektif 253,7 nm
• Sinar
Gamma Daya kerjanya digunakan pada sterilisasi bahan makanan, terutama bila
panas menyebabkan perubahan rasa, rupa atau penampilan Bahan disposable:
alat suntikan cawan petri dpt distrelkan dengan teknik ini. Sterilisasi dengan
sinar gamma disebut juga “sterilisasi dingin”
3.
Sterilisasi dengan Cara Kimia
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada disinfeksi kimia
·
Rongga (space)
·
Sebaiknya bersifat membunuh
(germisid)
·
Waktu (lamanya) disinfeksi harus
tepat
·
Pengenceran harus sesuai dengan
anjuran
·
Solusi yang biasa dipakai untuk
membunuh spora kuman biasanya bersifat sangat mudah menguap
·
Merawat tangan setelah berkontak
dengan disinfekstan, Sebaiknya menyediakan hand lation
Faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi dengan cara kimia:
1. Jenis bahan yang digunakan
2. Konsentrasi bahan kimia
3. Sifat Kuman
4. pH
5. Suhu
Beberapa Zat Kimia yang sering digunakan untuk sterilisasi
Alkohol
- Paling efektif utk sterilisasi dan desinfeksi
Halogen
- Mengoksidasi protein kuman
Yodium
- Konsentrasi yg tepat tdk mengganggu kulit
- Efektif terhadap berbagai protozoa
Klorin
- Memiliki warna khas dan bau tajam
- Desinfeksi ruangan, permukaan serta alat non bedah
Fenol (as. Karbol)
- Mempresipitasikan protein secara aktif, merusak membran sel menurunkan tegangan
permukaan
- Standar pembanding untuk menentukan aktivitas suatu desinfektan
Peroksida (H2O2)
- Efektif dan nontoksid
- Molekulnya tidak stabil
- Menginaktif enzim mikroba
Gas Etilen Oksida
- Mensterilkan bahan yang terbuat dari plastic
- Standar pembanding untuk menentukan aktivitas suatu desinfektan
Peroksida (H2O2)
- Efektif dan nontoksid
- Molekulnya tidak stabil
- Menginaktif enzim mikroba
Gas Etilen Oksida
- Mensterilkan bahan yang terbuat dari plastic
2.4 Macam-macam Desinfeksi
Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen. Disinfektan yang tidak berbahaya bagi permukaan tubuh dapat digunakan dan bahan ini dinamakan antiseptik.
Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau menghancurkan mikroorganisme pada jaringan hidup, sedang desinfeksi digunakan pada benda mati. Desinfektan dapat pula digunakan sebagai antiseptik atau sebaliknya tergantung dari toksisitasnya.
Sebelum dilakukan desinfeksi, penting untuk membersihkan alat-alat tersebut dari debris organik dan bahan-bahan berminyak karena dapat menghambat proses disinfeksi.
Macam-macam desinfektan yang
digunakan:
1. Alkohol
Etil alkohol atau propil alkohol
pada air digunakan untuk mendesinfeksi kulit. Alkohol yang dicampur dengan
aldehid digunakan dalam bidang kedokteran gigi unguk mendesinfeksi permukaan,
namun ADA tidak menganjurkkan pemakaian alkohol untuk mendesinfeksi permukaan
oleh karena cepat menguap tanpa meninggalkan efek sisa.
2. Aldehid
Glutaraldehid
merupakan salah satu desinfektan yang populer pada kedokteran gigi, baik
tunggal maupun dalam bentuk kombinasi. Aldehid merupakan desinfektan yang kuat.
Glutaraldehid 2% dapat dipakai untuk mendesinfeksi alat-alat yang tidak dapat
disterilkan, diulas dengan kasa steril kemudian diulas kembali dengan kasa
steril yang dibasahi dengan akuades, karena glutaraldehid yang tersisa pada
instrumen dapat mengiritasi kulit/mukosa, operator harus memakai masker,
kacamata pelindung dan sarung tangan heavy duty. Larutan glutaraldehid 2%
efektif terhadap bakteri vegetatif seperti M. tuberculosis, fungi, dan virus
akan mati dalam waktu 10-20 menit, sedang spora baru alan mati setelah 10 jam.
3. Biguanid
Klorheksidin merupakan contoh dari
biguanid yang digunakan secara luas dalam bidang kedokteran gigi sebagai antiseptik
dan kontrok plak, misalnya 0,4% larutan pada detergen digunakan pada surgical
scrub (Hibiscrub), 0,2% klorheksidin glukonat pada larutan air digunakan
sebagai bahan antiplak (Corsodyl) dan pada konsentrasi lebih tinggi 2%
digunakan sebagai desinfeksi geligi tiruan. Zat ini sangat aktif terhadap
bakteri Gram(+) maupun Gram(-). Efektivitasnya pada rongga mulut terutama
disebabkan oleh absorpsinya pada hidroksiapatit dan salivary mucus.
4. Senyawa halogen.
Hipoklorit dan povidon-iodin adalah
zat oksidasi dan melepaskan ion halide. Walaupun murah dan efektif, zat ini
dapat menyebabkan karat pada logam dan cepat diinaktifkan oleh bahan organik
(misalnya Chloros, Domestos, dan Betadine).
5. Fenol
Larutan jernih, tidak mengiritasi
kulit dan dapat digunakan untuk membersihkan alat yang terkontaminasi oleh
karena tidak dapat dirusak oleh zat organik. Zat ini bersifat virusidal dan
sporosidal yang lemah. Namun karena sebagian besar bakteri dapat dibunuh oleh
zat ini, banyak digunakan di rumah sakit dan laboratorium.
6. Klorsilenol
Klorsilenol merupakan larutan yang
tidak mengiritasi dan banyak digunakan sebagai antiseptik, aktifitasnya rendah
terhadap banyak bakteri dan penggunaannya terbatas sebagai desinfektan
(misalnya Dettol).
Desinfeksi permukaan
Disinfektan dapat membunuh
mikroorganisme patogen pada benda mati. Disinfektan dibedakan menurut
kemampuannya membunuh beberapa kelompok mikroorganisme, disinfektan “tingkat
tinggi” dapat membunuh virus seperti virus influenza dan herpes, tetapi tidak
dapat membunuh virus polio, hepatitis B atau M. tuberculosis.
Untuk mendesinfeksi permukaan dapat dipakai salah satu dari tiga desinfektan seperti iodophor, derivate fenol atau sodium hipokrit :
• Iodophor dilarutkan menurut petunjuk pabrik. Zat ini harus dilarutkan baru setiap hari dengan akuades. Dalam bentuk larutan, desinfektan ini tetap efektif namun kurang efektif bagi kain atau bahan plastik.
• Derivat fenol (O-fenil fenol 9% dan O-bensil-P klorofenol 1%) dilarutkan dengan perbandingan 1 : 32 dan larutan tersebut tetap stabil untuk waktu 60 hari. Keuntungannya adalah “efek tinggal” dan kurang menyebabkan perubahan warna pada instrumen atau permukaan keras.
• Sodium hipoklorit (bahan pemutih pakaian) yang dilarutkan dengan perbandingan 1 : 10
hingga 1 : 100, harganya murah dan
sangat efektif. Harus hati-hati untuk beberapa jenis logam karena bersifat
korosif, terutama untuk aluminium. Kekurangannya yaitu menyebabkan pemutihan
pada pakaian dan menyebabkan baru ruangan seperti kolam renang.
Untuk mendesinfeksi permukaan, umumnya dapat dipakai satu dari tiga desinfektan diatas. Tiap desinfektan tersebut memiliki efektifitas “tingkat menengah” bila permukaan tersebut dibiarkan basah untuk waktu 10 menit.
Untuk mendesinfeksi permukaan, umumnya dapat dipakai satu dari tiga desinfektan diatas. Tiap desinfektan tersebut memiliki efektifitas “tingkat menengah” bila permukaan tersebut dibiarkan basah untuk waktu 10 menit.
Macam-Macam Desinfektan Dan Antiseptik dari sumber lain
1.Garam Logam Berat
Garam dari beberapa logam berat
seperti air raksa dan perak dalam jumlah yangkecil saja dapat membunuh bakteri,
yang disebut oligodinamik. Hal ini mudahsekali ditunjukkan dengan suatu
eksperimen. Namun garam dari logam berat itumudah merusak kulit, makan
alat-alat yang terbuat dari logam dan lagipula mahalharganya. Meskipun
demikian, orang masih biasa menggunakan merkuroklorida(sublimat) sebagai
desinfektan. Hanya untuk tubuh manusia lazimnya kita pakaimerkurokrom, metafen
atau mertiolat.
2.Zat Perwarna
Zat perwarna tertentu untuk
pewarnaan bakteri mempunyai daya bakteriostatis.Daya kerja ini biasanya
selektif terhadap bakteri gram positif, walaupun beberapakhamir dan jamur telah
dihambat atau dimatikan, bergantung pada konsentrasi zatpewarna tersebut.
Diperkirakan zat pewarna itu berkombinasi dengan protein ataumengganggu
mekanisme reproduksi sel. Selain violet Kristal (bentuk kasar, violet gentian),
zat pewarna lain yang digunakan sebagai bakteriostatis adalah hijau malakhit
dan hijau cemerlang.
3.Klor dan senyawa klor
Klor banyak digunakan untuk
sterilisasi air minum. persenyawaan klor dengankapur atau dengan natrium
merupakan desinfektan yang banyak dipakai untukmencuci alat-alat makan dan minum.
4.Fenol dan senyawa-senyawa lain yang sejenis Larutan fenol 2 – 4% berguna sebagai desinfektan. Kresol atau kreolin lebih baikkhasiatnya daripada fenol. Lisol ialah desinfektan yang berupa campuran sabundengan kresol; lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan-desinfektanyang lain. Karbol ialah nama lain untuk fenol. Seringkali orang mencampurkanbau-bauan yang sedap, sehingga desinfektan menjadi menarik.
5.Kresol
Destilasi destruktif batu bara
berakibat produksi bukan saja fenol tetapi jugabeberapa senyawa yang dikenal
sebagai kresol. Kresol efektif sebagai bakterisida,dan kerjanya tidak banyak
dirusak oleh adanya bahan organic. Namun, agen inimenimbulkan iritasi
(gangguan) pada jaringan hidup dan oleh karena itudigunakan terutama sebagai
disinfektan untuk benda mati. Satu persen lisol(kresol dicampur dengan sabun)
telah digunakan pada kulit, tetapi konsentrasiyang lebih tinggi tidak dapat
ditolerir.
6.Alkohol
Sementara etil alcohol mungkin yang paling biasa digunakan, isoprofil dan benzylalcohol juga antiseptic. Benzyl alcohol biasa digunakan terutama karena efekpreservatifnya (sebagai pengawet).
7.Formaldehida
Formaldehida adalah disinfektan yang baik apabila digunakan sebagai gas. Agenini sangat efektif di daerah tertutup sebagai bakterisida dan fungisida. Dalamlarutan cair sekitar 37%, formaldehida dikenal sebgai formalin.
8.Etilen Oksida
Jika digunakan sebagi gas atau
cairan, etilen oksida merupakan agen pembunuhbakteri, spora, jamur dan virus
yang sangat efektif. Sifat penting yang membuatsenyawa ini menjadi germisida
yang berharga adalah kemampuannya untukmenembus ke dalam dan melalui pada
dasarnya substansi yang manapun yangtidak tertutup rapat-rapat. Misalnya agen
ini telah digunakan secara komersialuntuk mensterilkan tong-tong rempah- rempah
tanpa membuka tong tersebut.Agen ini hanya ditempatkan dalam aparatup seperti
drum dan, setelah sebagianbesar udaranya dikeluarkan dengan pompa vakum,
dimasukkanlah etilen oksida.
9.Hidogen Peroksida
Agen ini mempunyai sifat
antseptiknya yang sedang, karena kemampuannyamengoksidasi. Agen ini sangat
tidak stabil tetapi sering digunakan dalampembersihan luka, terutama luka yang
dalam yang di dalamnya kemungkinandimasuki organisme aerob.
10.Betapropiolakton
Substansi ini mempunyai banyak sifat
yang sama dengan etilen oksida. Agen inimematikan spora dalam konsentrasi yang
tidak jauh lebih besar daripada yangdiperlukan untuk mematikan bakteri
vegetatif. Efeknya cepat, ini diperlukan,karena betapropiolakton dalam larutan
cair mengalami hidrolisis cukup cepatuntuk menghasilkan asam akrilat, sehingga
setelah beberapa jam tidak terdapatbetapropiolakton yang tersisa.
11.Senyawa Amonium Kuaterner
Kelompok ini terdiri atas sejumlah
besar senyawa yang empat subtituennyamengandung karbon, terikat secara kovalen pada
atom nitrogen.
2.5 Perbedaan Sterilisasi dan Desinfeksi
Steralisasi adalah suatu cara untuk membebaskan sesuatu (alat, bahan, media, dan lain-lain) dari mikroorganisme yang tidak diharapkan kehadirannya baik yang patogen maupun yang a patogen. Atau bisa juga dikatakan sebagai proses untuk membebaskan suatu benda dari semua mikroorganisme, baik bentuk vegetative maupun bentuk spora.
Sedangkan desinfeksi adalah, membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen.
Dari kedua pengertian di atas bisa kita simpulkan, jika sterilisasi dan desinfeksi memiliki perbedaan yang khas, walaupun tetap memiliki tujuan yang sama. Namun sterilisasi memiliki guna yang lebih besar, dan desinfeksi secara khusus membunuh kuman penyebab penyakit.
2.6 Aplikasi Sterilisasi Dan Desinfeksi Dalam Keseharian Dunia Kesehatan Dan Keperawatan
Sterilisasi merupakan upaya pembunuhan atau penghancuran semua bentuk kehidupan mikrobayang dilakukan dirumah sakit melalui proses fisik maupun kimiawi. Sterilisasi juga dikatakan sebagai tindakan untuk membunuh kuman pathogen atau apatogen beserta spora yang terdapat pada alat perawatan atau kedokteran dengan cara merebus, stoom, menggunakan panas tinggi, atau bahan kimia. Jenis sterilisasi antara lain sterilisasi cepat, sterilisasi panas kering, sterilisasi gas (formalin, H2O2).
Teknik steril biasanya di gunakan dalam ruangan operasi dan ruang bersalin, selain menggunakan teknik steril pada tempat tidur pasien untuk prosedur invasive sepeti:
•
Mengisap jalan napas pasien
• Memasukkan kateter urinarius
• Mengganti balutan luka
• Memasukkan kateter urinarius
• Mengganti balutan luka
Daerah steril biasanya dibatasi dengan duk steril atau lapisan tebal kertas berlilin atau kemasan terbuka tempat bahan-bahan steril dikemas.
Banyak rumah sakit mempunyai pusat penyedian, yaitu tempat kebanyakan peralatan dan suplai dibersihkan serta desterilkan. Hasil proses ini dimonitor oleh laboratorium mirobiologi secara teratur.
Kecenderungan di rumah sakit untuk menggunakan alat-alat serta bahan yang dijual dalam keadaan steril dan sekali pakai, seperti alat suntik, jarum, srung tangan dan masker, tidak saja mengurangi waktu yang diperlukan untuk membersihkan, menyiapkan, serta mensterilkan peralatan, tetapi juga mengurangi pemindah sebaran patogen melalui infeksi silang.
• Sanitasi lingkungan rumah sakit
Tujuan sanitasi lingkungan ialah membunuh atau menyingkirkan pencemaran oleh mikrobe dari permukaan. Untuk mengevaluasi prosedur dan cara-cara untuk mengurangi pencemaran, dilakukan pengambilan contoh mikroorganisme sewaktu-waktu dari permukaan. Pinggan-pinggan petri yang menunjukan adanya pertumbuhan mikrobe sebelum dan sesudah pembersihan merupakan alat pengajar yang meyakinkan untuk melatih para petugas yang baru.
Pengurangan kontaminasi oleh mikroba paling baik dicapai dengan kombinasu pergeseran dan penggsokan, serta air dan deterjen. Ini sudah cukup, kecuali bila spencemrannya hebat, maka perlu digunakan desinfektan. Agar efektif, desinfektan digunakan dalam konsentrasi yang cukup selama waktu tertentu. Penggunaan desinfektan, misalnya, membantu menjaga air untuk mengepel agar tidak tercemar. Kain pel harus di cuci dan di keringkan baik-baik setiap hari untuk mengurangi pencemaran. Seember larutan dan kain pel basah sering kali di gunakan untuk membersihkan permukaan benda lain selain lantai. Bila larutan yang sam dipakai seharian, maka dapat mengakibatkan pencemaran oleh mikrobe yang lebih parah dibandingkan sebelum di bersihkan.
Dengan keadaan yang bersih di rumah sakit maka keadaan asepsis lebih mudah dicapai.
• Universal Precaution
Pengendalian infeksi untuk penyakit-penyakit yang menular malalui darah .Berlaku universal ,tidak memandang apa atau siapa yang dirawat, tahu ataupun tidak tahu status infeksinya. Setiap tenaga medis harus menyadari bahwa semua pasien berpotensi menularkan berbagai penyakit.
• Cuci Tangan
Adalah pencegahan infeksi yang paling penting Harus merupakan kebiasaan yang mendarah daging bagi tenaga kesehatan Harus selalu dilakukan sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan walaupun memakai sarung tangan atau yang lainya (cuci tangan tidak bisa digantikan dengan sarung tangan).
Selain itu selalu gunakan alat pelindungan diri secara lengkap ketika melakukan prosedur invasive, ataupun bedah. Seperti:
1.
Gown/barakschort :
2. Masker :
3. Sarung Tangan
4. Kaca mata pelindung/goggles
2. Masker :
3. Sarung Tangan
4. Kaca mata pelindung/goggles
• Pengolaan Sampah Medis Dan Air Limbah
Perlu diatur sedemikian rupa agar alat atau ruang tetap bersih atau steril,tidak berdekatan dengan limbah atau sampah medis. Membakar sampah medis sampai menjadi arang.
• Sterilisasi Dan Desinfeksi Alat-Alat Medis
Desinfekatan :
a. Aseptik/Asepsis :
Suatu istilah umum yg digunakan untuk menggambarkan upaya
kombinasi untuk mencegah masuknya mikroorganisem ke dalam area tubuh manapun yg
sering menyebabkan infeksi.
Tujuannya :
Mengurangi jumlah mikroorganisem baik pada permukaan hidup
maupun benda mati agar alat-alat kesehatan dapat dengan aman digunakan.
b. Antisepsis :
Proses menurunkan jumlah mikroorganisme pada kulit, selaput
lendir atau bagian tubuh lainnya dengan menggunakan bahan antimikrobial
(antiseptik)
c. Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT).
Proses yg menghilangkan semua mikroorganisme kecuali
beberapa endospora bakteri pada benda mati dengan merebus, mengukus atau
penggunaan desinfektan kimia
Sterilisasi :
Upaya pembunuhan atau
penghancuran semua bentuk kehidupan mikroba yg dilakukan di RS melalui proses
fisik maupun kimiawi.
Proses yang menghilangkan semua
mikroorganisem (bakteri, virus, fungi dan parasit) termasuk endospora bakteri
pada benda mati dengan uap air panas tekanan tinggi (otoclaf), panas kering
(oven), sterilan kimia atau radiasi.
• Pemprosesan Alat
a.Dekontaminasi :
Proses yg membuat benda mati lebih aman ditangani staff
sebelum dibersihkan. Tujuan dari tindakan ini dilakukan agar benda mati dapat
ditangani oleh petugas kesehatan secara aman, terutama petugas pembersih medis
sebelum pencucian berlangsung.
b.Pencucian/ bilas
Proses yg secara fisik membuang semua debu yg tampak,
kotoran, darah, atau cairan tubuh lainnya dari benda mati ataupun membuang
sejumlah mikroorganisme untuk mengurangi resiko bagi mereka yg menangani objek
tersebut. Prosesnya terdiri dari mencuci sepenuhnya dengan sabun atau detergen
dan air, membilas dengan air bersih dan mengeringkannya.
c.Sterilisasi/DTT
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Sterilisasi yaitu proses atau kegiatan membebaskan suatu bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan. Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen.
2. beberapa tujuan sterilisasi dan desinfeksi: Mencegah terjadinya infeksi Mencegah makanan menjadi rusak Mencegah kontaminasi mikroorganisme dalam industri Mencegah kontaminasi terhadap bahan- bahan yg dipakai dalam melakukan biakan murni.
3. sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi. Adapun desinfeksi dapat dipakai salah satu dari tiga desinfektan seperti iodophor, derifat fenol atau sodium hipokrit.
3.2 Saran
1. sterilisasi apabila dilakukan secara baik dan sempurna makan akan menjamin keselamatan kerja dan berkurangnya resiko terpapar mikroorganisme. Dan dapat juga dilakukan untuk mencegah ataupun mengendalikan infeksi.
2. semoga tulisan ini dapat dijadikan sebagai salah satu referensi dalam proses pembelajaran
DAFTAR PUSTAKA
Dr. jan Tambayong; Mikrobiologi untuk keperawatan
Mikrobiologi kedokteran, Bina Rupa Aksara, Jakarta, FKUI 1994
Jawetz, J. Melnick, EA, Adeberg (1986), Mikrobiologi Untuk Profesi Kesehatan, EGC, Jakarta.
Azis, alimul H.2006.Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia.Jakarta:Salemba Medika
Ester, Monica.2005.Pedoman Perawatan Pasien.Jakarta:EGC
- See more at:
http://sumbermakalahkeperawatan.blogspot.com/2012/12/pengendalian-infeksi.html#sthash.Yf4sm5KY.dpuf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar