Beberapa Diagnosa Keperawatan
Para
Perawat Endoskopi mengevaluasi praktek keperawatannya sendiri di
area kerjanya dengan standar praktek yang professional, berpedoman dan relevan dengan
undang-undang dan peraturan yang berlaku
area kerjanya dengan standar praktek yang professional, berpedoman dan relevan dengan
undang-undang dan peraturan yang berlaku


Kebanyakan pasien
mengalami tingkat tertentu stres saat mereka mempersiapkan diri untuk dan menjalani prosedur
endoskopi. Stres yang
mereka alami berkorelasi untuk
Adaptasi Umum teori
Hans Seyle Sindrom
dalam artikel ini. Peristiwa stres
yang terjadi pra-, intra-, dan pascaprosedur diidentifikasi. Contoh keterampilan
mengatasi pasien yang dibahas.
Beberapa intervensi keperawatan seperti mengajar pasien, teknik relaksasi, dan keterampilan komunikasi
dijelaskan. Semua intervensi ini membantu perawat dalam mempromosikan hasil positif bagi pasien. Sebagai seorang pasien mengalami hasil yang positif dari peristiwa stres, mekanisme
koping yang diperkuat dan
dikembangkan. Mekanisme koping
memungkinkan pasien untuk beradaptasi dengan masa stresnya.
ASUHAN KEPERAWATAN
Asuhan
keperawatan adalah : Suatu metode pendekatan pemecahan masalah yang sistematis
dan terorganisir dalam memberikan asuhan keperawatan kepada individu, keluarga
dan masyarakat dalam rangka membantu mengatasi masalah melalui serangkaian
tindakan yang terdiri dari pengkajian , diagnosa keperawatan , perencanaan ,
pelaksanaan dan evaluasi berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan.
Tujuan asuhan
keperawatan adalah : untuk menghasilkan asuhan keperawatan yang berkwalitas
sehingga berbagai masalah klien dapat teratasi .
Manfaat asuhan keperawatan adalah
sebagai berikut :
1. Meningkatkan mutu pelayanan .
2. Mengembangkan keterampilan teknis dan intelektual.
3. Meningkatkan citra perawat .
4. Menggambarkan kewenangan / otonomi dan tangguang jawab perawat.
5. Menngkatkan rasa solidaritas dan kesatuan perawat .
6. Mendukung pengembangan ilmu keperawatan
7. Menghasilkan praktek keperawatan yang profesional.
Tahap – tahap proses keperawatan dibagi 5 tahap :
- Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan
dan merupakan suatu proses yang sistimatis dalam pengumpulan data dari berbagai
sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentikasi status kesehatan klien.
- Diagnosa keperawatan
Rumusan diagnosa keperawatan mengandung 3 komponen
utama yaitu :
a. Problem ( masalah ) – adalah gambaran
keadaan klien dimana tindakan keperawatan dapat
diberikan
b. Etiologi ( penyebab ) – adalah faktor
penyebab perubahan status kesehatan.
c. Sign / syntom ( tanda / gejala ) – adalah
ciri, tanda dan gejala dari data-data subyektif yang ditemukan dan obyektif
yang ditemukan sebagai komponen pendukung terhadap diagnosa keperawatan.
- Perencanaan.
Perencanaan adalah petunjuk tertulis yang
menggambarkan secara tepat mengenai rencana tindakan untuk menanggulangi
masalah yang dilakukan terhadap klien sesuai dengan kebutuhan berdasarkan
diagnosa keperawatan.
Penulisan tujuan dan criteria hasil harus memenuhi
criteria ” SMART ” , yaitu : S= Spesifik ( tujuan harus spesifik dan
tidak menimbulkan arti ganda ). M=
Measurable ( tujuan harus dapat diobservasi dan diukur ). A= Achievable ( tujuan harus dapat dicapai ). R= Reasonable ( tujuan harus dapat di pertanggung jawabkan secara
ilmiah ). T= Time ( tujuan harus
punya batas waktu )
- Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah pelaksanaan tindakan dari rencana
tindakan keperawatan yang sudah disususn / ditentukan. Pelaksanaan dapat
bersifat : Independen ( mandiri ), Interdependen ( kolaburasi ), Dependensi (
rujukan / ketergantungan ).
- Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses
keperawatan . Evaluasi
dilakukan dengan cara mengidentifikasi sejauh mana tujuan dari rencana
keperawatan tercapai .
KEMUNGKINAN DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL PADA
PEMERIKSAAN ENDOSKOPI ADALAH :
A. PADA PRE ENDOSKOPI
Diagnosa 1 = Kecemasan berhubungan dengan mekanisme koping yang tidak
efektif, crisis situasional.
RASIONAL : Peristiwa stres yang
terjadi pra-, intra-,
dan pascaprosedur diidentifikasi. Pemeriksaan
edoskopi dapat menakuti
pasien. Abnormal tekanan darah
dan denyut nadi yang disebabkan oleh
kecemasan sering hadir
waktu masuk ke rumah sakit. Ditandai
tanda-tanda vital tinggi dan bahkan TTV tinggi ini dapat
digunakan sebagai tanda-tanda
awal penting untuk tinggal pasien di rumah sakit (Rochelle G. MSN, RN; Nelson, Jenenne P. PhD, RN, CNS .
2000)
Contoh keterampilan mengatasi pasien yang dibahas. Beberapa intervensi
keperawatan seperti mengajar pasien,
teknik relaksasi, dan keterampilan
komunikasi dijelaskan. Semua
intervensi ini membantu perawat dalam mempromosikan hasil positif bagi pasien. Sebagai seorang pasien mengalami hasil yang positif dari peristiwa stres, mekanisme
koping yang diperkuat dan
dikembangkan. Mekanisme koping
memungkinkan pasien untuk beradaptasi dengan stres.
Tujuan : Cemas berkurang dan pasien adaptif selama pemeriksaan endoscopy
dilakukan.
Diantaranya Intervensi keperawatan adalah :
- Ciptakan komunikasi terapeutik efektif/ bina hubungan saling percaya
- Kaji kecemasan klien
- Revieu tentang kejelasan tindakan prosedur yang akan dilakukan, orientasikan prosedur, waktu, tempat dan alat.
- Dijelaskan semua prosedur intervensi yang akan dilakukan.
- Berikan kesempatan atau dukungan pertahanan diri klien dengan keterlibatan keluarga
- Dampingi klien selama periode kecemasan, dan yakinkan tak ada faktor yang melemahkan koping dan adaptasi klien.
Diagnosa 2 = Resiko defisit volume cairan tubuh berhubungan dengan intake
yang tidak adekuat, efek sekunder persiapan tindakan endoscopi.
Masalah ini resiko karena pasien dipuasakan, tapi puasa hanya lebih kurang
6 – 8 jam sebelum pemeriksaan, maka dalam persiapan pasien agak diperioritaskan
pemasangan IVFD sesuai indikasi.
Tujuan : Kekurangan volume cairan tubuh tidak terjadi
Diantara Intervensi keperawatan adalah :
- Pertahankan puasa sampai tindakan endoskopi selesai,
- Jelaskan kegunaan pasien puasa, agar meningkatkan toleransi pasien dalam pemeriksaan.
- Pasang infus sesuai prosedur.
- Kaji status hidrasi dan hemodinamik selama proses tindakan
- Kaji keadaan umum pasien dan tanda-tanda vital.
- Bila terjadi perdarahan selama pemeriksaan, pastikan cairan pengganti adekuat.
B. SELAMA TINDAKAN
ENDOSKOPI (durante)
Diagnosa 1 = Gangguan rasa nyaman : nyeri
berhubungan dengan cedera seluler
efek dari prosedur prosedur tindakan
endoscopi saluran cerna.
Berlaku untuk (EGD, Ligasi dan Kolon)
RASIONAL : Implikasi Keperawatan
dari tindakan endoscopy adalah ; Mulut atau tenggorokan
nyeri. Rectal nyeri, Nyeri abdomen. Perdarahan dari
kerongkongan, perdarahan anus. (GI System,
David L. Heiserman, 2006)
Kita melihat rasa nyeri bukan
hanya sebagai gejala, tetapi sebagai suatu masalah tertentu yang memerlukan
perlakuan. Dan bahwa pasien harus menjadi bagian dari tim manajemen tindakan
endoscopy. Hanya klien yang tahu di mana rasa sakit dan bagaimana intensitasnya
itu. Jangan meremehkan verbalisasi pasien rasa nyeri, karena nyeri adalah perkataan
pasien mengatakan rasa nyeri itu dan itu terjadi di setiap kali pasien
mengatakannya. Oleh karena itu salah satu fungsi yang paling penting dari
perawat profesional adalah penilaian nyeri akurat, Membimbing dokter dalam
mengambil keputusan tentang pengelolaan klien.
Tujuan : Nyeri berkurang atau dapat
ditoleransi sampai dengan teratasi
Diantara Intervensi keperawatan adalah :
- Kaji skala nyeri (rentang 0 – 10), menulai nyeri klien setiap periode tindakan.
- Berikan dukungan, kenyamanan pada klien, mendengarkan keluhan. Dorong dan hormati partisipasi klien mengambil keputusan atasi nyeri. Termasuk teknik distraksi.
- Anjurkan pasien untuk relaksasi, bernafas inspirasi melalui hidung, bila perlu dengan cara tarik nafas dalam dan panjang.
- (gate kontrol) Lakukan massage kontralateral ; memijat lembut sebuah daerah yang menyakitkan atau area yang sama di sisi berlawanan dari tubuh. PIJAT mempromosikan pelepasan endorfin & enkephalins.
- Kaji tanda-tanda vital , saturasi oksigen ( bila ada perubahan lansung kolaborasi
dengan
dokter).
- Kolaborasi pemberian analgesik sesuai permintaan atau resep dokter . (tetap pantau efek analgesic)
Diagnosa 2 = Resiko gangguan jalan nafas/ tidak efektifnya jalan nafas
berhubungan dengan ketidakmampuan pasien benafas seperti biasa, ketidakmampuan
mengendalikan reflek fagal, aspirasi cairan selama prosedur, distensi abdomen
(EDG)
Rekomendasi
standar sedasi dan pemantauan pasien selama gastrointestinal endoskopi adalah :
Masalah gangguan jalan nafas
cenderung terjadi pada endoscopy saluran cerna atas maka : (1) Keselamatan dan pemantauan harus menjadi bagian dari program jaminan kualitas untuk unit endoskopi. (2) Alat bantu pernapasan dan obat-obatan harus tersedia di endoskopi dan daerah pemulihan. (3) Semua staf harus disiplin dengan
metode resusitasi dan menjalani pelatihan ulang periodik. (4) Peralatan dan obat-obatan yang diperlukan untuk pemeliharaan jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi harus ada di unit endoskopi dan daerah pemulihan dan diperiksa secara teratur. (5) Seorang perawat harus terlatih dalam teknik endoskopi dan cukup terlatih dalam teknik resusitasi, harus memantau kondisi pasien selama prosedur. (6) Sebelum endoskopi, faktor risiko yang merugikan harus diidentifikasi. Hal ini dapat dibantu dengan menggunakan daftar cek. (7) Dosis dari semua obat harus disimpan dan harus ada
bukti pemberian (8) antagonis khusus untuk benzodiazepin dan opioid harus tersedia dalam keadaan darurat. (9) Kanula O2 harus ditempatkan pada pasien
selama endoskopi. (10) Oksigen harus diberikan untuk pasien beresiko yang menjalani
prosedur endoskopi.
(11) endoscopist harus memastikan pengamatan kesejahteraan dan klinis pasien menjalani endoskopi dalam hubungannya dengan orang lain. Individu ini harus menjadi perawat yang dilatih dalam teknik endoskopik atau praktisi lain medis yang berkualitas. (12) Pemantauan teknik seperti oksimetri nadi yang dianjurkan. (13) pemantauan klinis pasien harus terus ke ruang pemulihan. (14) Rekaman manajemen dan hasil harus dikumpulkan dan akan menyediakan data untuk audit sesuai. (Research Article: Improving the
standards of endoscopy. , 1991)
Tujuan : gangguan jalan nafas tidak terjadi.
Diantara Intervensi keperawatan adalah :
- Pantau kepatenan jalan nafas selama tindakan berlangsung
- Pastikan keselamatan jalan nafas adalah utama dari pada pemeriksaan atau diagnostik endoskopi.
- Pasang O2 kanule selama pemeriksaan
- Pasang oksimetri
- Pertahankan posisi klien miring selama pemeriksaan endoskopi
- Kolaborasi dokter (ingatkan) suction melalui perangkat endoskopi bila cairan melebihi.
- Pastikan Peralatan dan obat-obatan yang diperlukan untuk pemeliharaan jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi harus ada di unit endoskopi dan daerah pemulihan dan diperiksa secara teratur
- Pemantauan klinis pasien harus terus ke ruang pemulihan
- Catat pemasukan atau penggunaan obat-obatan selama periode berlangsung
- Pemakaian xylocain spray menyebabkan baalnya pada tenggorokan pasien, dan pastikan pasien efektif menelan, bila belum efektif tetap pertahankan puasa sampai efek hilang. Berikan penjelasan efek samping dari anasthesi lokal (Xylocain spray)
- Bila ada gejala obstruksi jalan nafas saat tindakan : cepat hentikan tindakan, posisikan pasien telentang, kepala ekstensi maksimal dan teknik manufer, pasang OPA, NPA, kolaborasi anastesi (ETT, CPR, farmakologis lainnya.
Diagnosa 3 = Resiko tinggi perdarahan
berhubungan dengan trauma jaringan akibat scope atau reseksi
mukosa akibat endoskopi (EMR/ endoscopy mukosa resection), efek sekunder
perdarahan saluran cerna lainnya spt pecahnya varises, dll
Perdarahan
gastrointestinal dapat terjadi di
mana saja di sepanjang saluran pencernaan
dan dapat disebabkan oleh ulkus lambung atau duodenum,
varises esofagus, penyakit divertikular, kolitis ulserativa,
penyakit Crohn atau cedera atau trauma
prosedur investigasi diagnostik
endoskopi (EMR) (Article reviewed by Libby Swope Wiersema,
2011)
Faktor risiko
untuk perdarahan karena reseksi mukosa akibat
endoscope
Dari 297 pasien, 57 pasien
(19,2%) adalah pendarahan setelah
endoskopi. ada
perbedaan yang signifikan dalam usia dan jenis kelamin pasien,
tumor diameter atau jenis histologis tumor antara
kelompok. Insiden perdarahan setelah endoskopi di korpus
kelompok adalah signifi kan lebih tinggi dari pada kelompok antrum.
perbedaan yang signifikan dalam usia dan jenis kelamin pasien,
tumor diameter atau jenis histologis tumor antara
kelompok. Insiden perdarahan setelah endoskopi di korpus
kelompok adalah signifi kan lebih tinggi dari pada kelompok antrum.
Tingkat perdarahan dengan aspirasi endoskopi
mucosectomy jauh lebih tinggi dari itu dengan strip biopsy.
Dari 57 pasien dengan perdarahan, 18 (31,6%) pasien
telah muncrat perdarahan (12 pasien menjalani endoskopi oleh
aspirasi mucosectomy endoskopi, dan 6 mengalami
endoskopi oleh strip biopsi).
mucosectomy jauh lebih tinggi dari itu dengan strip biopsy.
Dari 57 pasien dengan perdarahan, 18 (31,6%) pasien
telah muncrat perdarahan (12 pasien menjalani endoskopi oleh
aspirasi mucosectomy endoskopi, dan 6 mengalami
endoskopi oleh strip biopsi).
Dari jumlah
tersebut 57 pasien, 39 (68,4%)
telah mengalir perdarahan (28 pasien menjalani endoskopi oleh
aspirasi mucosectomy endoskopi, dan 11 mengalami
endoskopi oleh strip biopsi). Semua perdarahan, kecuali dalam satu kasus,
dikontrol oleh perawatan endoskopik dengan endoskopi
kliping (HX5LR-1, Olympus, Jepang), injeksi etanol, dan injeksi hipertonik salin-epinefrin solusi.
telah mengalir perdarahan (28 pasien menjalani endoskopi oleh
aspirasi mucosectomy endoskopi, dan 11 mengalami
endoskopi oleh strip biopsi). Semua perdarahan, kecuali dalam satu kasus,
dikontrol oleh perawatan endoskopik dengan endoskopi
kliping (HX5LR-1, Olympus, Jepang), injeksi etanol, dan injeksi hipertonik salin-epinefrin solusi.
Tidak ada darah yang diperlukan pasien
transfusi dalam penelitian tersebut,
hanya
satu pasien menjalani operasi darurat terbuka karena
parah pendarahan setelah endoskopi. (World Journal of Gastroenterology, 2005)
satu pasien menjalani operasi darurat terbuka karena
parah pendarahan setelah endoskopi. (World Journal of Gastroenterology, 2005)
Tujuan : perdarahan dapat teratasi
sampai dengan berhenti
Diantara Intervensi keperawatan adalah :
- Monitor adanya perdarahan.
- Monitor keadaan umum pasien, saturasi oksigen ,tanda vital dan capilarry refil.
- Perdarahan saluran cerna bagian atas, pertahankan posisi pasien miring (cegah aspirasi)
- Bila perlu kolaborasi pemasangan NGT.
- Pertahankan pasien dalam keadaan Bed rest.
- Anjurkan pasien untuk tidak merangsang adanya perdarahan ( batuk tidak terlalu
Keras ).
- Kenyamanan pasien dapat dipertahankan dengan menilai kebutuhan analgesik. Perawat harus percaya diri dalam ABC (jalan napas, pernapasan, sirkulasi) resusitasi, juga akan diminta untuk melakukan penilaian berkelanjutan cairan pasien dan status elektrolit.
- Pastikan keadaan hipovolemik teratasi, berikan cairan IVFD sesuai dan tetesan sesuai kebutuhan.
- Bila perlu sediakan Transfusi darah.
- Memonitor neurologis
dan manifestasi neuromuskuler
dari hipokalemia
(misalnya, kelemahan otot, lesu, tingkat kesadaran yang berubah). - Memonitor jantung dari manifestasi hipokalemia (misalnya, hipotensi, takikardi, nadi lemah, penyimpangan irama).
- Bantu tindakan terapeutik lain segera untuk penghentian perdarahan (bila diperlukan) : kliping, injeksi penghentian perdarahan, dll
C. SETELAH TINDAKAN ENDOSKOPI ( post )
Diagnosa1 = Resiko tinggi distensi abdomen berhubungan dengan pemasukan udara saat prosedur.
Tujuan : Distensi abdomen tidak terjadi.
Diantara Intervensi keperawatan adalah :
- Kaji keluhan pasien.
-
Observasi
keadaan umum pasien dan TTV.
-
Observasi
pasien diruang ”RR” selama 10-20 menit atau sampai keadaan pulih.
Diagnosa 2 = Nyeri sakit menelan berhubungan
dengan efek samping anasthesi
. lokal.
Tujuan = Nyeri sakit menelan teratasi
Intervensi keperawatan :
-
Kaji
skala nyeri
-
Berikan penjelasan efek samping dari anasthesi lokal
( Xylocain spray )
-
Beritahukan
kepada pasien dan keluarganya agar tetap dipuasakan +ijam untuk
Menghindari terjadinya aspirasi.
-
Anjurkan
pasien untuk tidak merangsang adanya perdarahan ( batuk tidak terlalu
Keras ).
-
Ajarkan
tehnik relaksasi
Kekurangan volume cairan b.d sekunder efek mual dan muntah
berlebihan
Tujuan : Devisi volume cairan dapat teratasi.
Diantara Intervensi Keperawatan Adalah :
- Kaji tingkat hidrasi
- Pantau tanda-tanda vital
- Catat intake dan out put
- Pantau cairan parenteral dan elektrolit
- Posisikan pasien miring kanan atau miring kiri.
- Auskultasi bising usus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar