PENGENDALIAN
INFEKSI
Ol/
Juliardinsyah
Edit Juni 2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 latar belakang
Kesehatan yang baik tergantung pada lingkungan yang aman. Praktisi atau teknisi yang memantau untuk mencegah penularan infeksi membantu melindungi klien dan pekerja keperawatan kesehatan dari penyakit. Klien dalam lingkungan keperawatan beresiko terkena infeksi karena daya tahan yang menurun terhadap mikroorganisme infeksius, meningkatnya pajanan terhadap jumlah dan jenis penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme dan prosedur invasif dalam fasilitas perawatan akut atau ambulatory, klien dapat terpajan pada mikroorganisme baru atau berbeda,yang beberapa dari mikroorganisme tersebut daaapat saja resisten terhadap banyak antibiotik. Dengan cara mempraktikan teknik pencegahan dan penembalian infeksi perawat dapat menghindarkan penyebaran mikroorganisme terhadap klien.
1.2 Tujuan
• Mengetahui definisi infeksi
• Mengetahui rantai dan proses infeksi
• Mengetahui infeksi nosokomial
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Infeksi merupakan invasi tubuh oleh patogen atau mikroorganisme yang mampu menyebabkan sakit. Infeksi juga disebut asimptomatik apabila mikroorganisme gagal dan menyebabkan cedera yang serius terhadap sel atau jaringan.Penyakit akan timbul jika patogen berbiak dan menyebabakan perubahan pada jaringan normal. (Potter & perry .Fundamental Keperawatan.edisi 4.hal : 933 – 942:2005)
Infeksi merupakan infeksi dan pembiakan mikroorganisme pada jaringan tubuh,terutama yang menyebabkan cedera sellular lokal akibat kompetisi metabolisme,toksin,replikasi intra selular,atau respon antigen-antibodi (Kamus Saku Kedokteran Dorland,edisi 25.hal :555:1998)
2.2 Rantai Infeksi
Perkembangan infeksi terjadi dalam siklus yang bergantung pada elemen – elemen berikut :
• Agen infeksius atau pertumbuhan patogen
• Tempat atau sumber pertumbuhan patogen
• Portal keluar dari tempat tumbuh tersebut
• Tempat atau sumber pertumbuhan patogen
• Portal keluar dari tempat tumbuh tersebut
·
Cara penularan
• Portal masuk pejamu
• Pejamu yang rentan
• Pejamu yang rentan
A. Agen Infeksius
Infeksi terjadi akibat adanya mikroorganisme, termasuk bakteri,virus,jamur dan protozoa. Mikroorganisme di kulit dapat merupakan flora residen atau transien. Organisme residen berkembang biak pada lapisan kulit superfisial, namun 10 – 20% mendiami lapisan epidermal. Organisme transien melekat pada kulit saat seseorang kontak dengan orang atau objek lain dalam aktifitas atau kehidupan normal.
Kemungkinan bagi mikroorganisme atau parasit untuk menyebabkan penyakit bergantung pada faktor – faktor berikut :
• Organisme dalam jumlah yang cukup
• Virulensi atau kemampuan untuk menyebabkan sakit
• Kemampuan untuk masuk dan hidup dalam pejammu
• Pejamu yang rentan
Beberapa agen yang dapat menyebabkan infeksi,yaitu :
1. Bakteri
Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia yang sehat.Keberadaan bakteri disini sangat penting dalam melindungi tubuh dari datangnya bakteri patogen.Tetapi pada beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi jika manusia tersebut meniliki toleransi yang rendah terhadap miikrooorganisme.Contohnya Escherechia coli paling banyak dijumpai sebagai penyebab infeksi saluran kemih.
Bakteri patogen lebih berbahaya dan menyebabkan infeksi secara aparodik maupun endemik. Contohnya :anaerobik Gram–positif,Clostridium yang menyebabkan gangren
• Bakteri Gram-positif : Staphylococcus aureus yang menjadi parasit di kulit dan hidung dapat menyebabkan gangguan pada paru,tulang,jantung dan infeksi pembuluh darah serta seringkali telah resisten terhadap antibiotika.
• Bakteri Gram-negatif : Enerobacteriacae,contohnya
Escherechia coli, Proteus, Klebsiella, Enterobacter. Pseudomonas seringkali
ditemukan di air dan penampungan air yang menyebabkan infeksi di saluran
pencernaan pasien yang dirawat. Bakteri gram negatif ini bertanggung jawab
sekitar setengah dari semua infeksi di rumah sakit.
• Serratia marcescens,dapat menyebabkan infeksi serius pada luka bekas jahitan,paru dan peritoneum.
• Serratia marcescens,dapat menyebabkan infeksi serius pada luka bekas jahitan,paru dan peritoneum.
2. Virus
Banyak kemungkinan infeksi nosokomial disebabkan oleh berbagai macam virus, termasuk virus hepatitis B dan C dengan media penularan dari tranfusi, dialisis, suntikan dan endoskopi. Respiratory syncytial virus (RSV), rotavirus dan enterovirus yang ditularkan dari kontak tangan ke mulut atau melalui rute faecal-oral. Hepatitis dan HIV ditularkan melalui pemakaian jarum suntik, dan trasfusi darah. Rute penularan untuk virus sama seperti mikroorganisme lainnya. Infeksi gastrointestinal, infeksi traktus respiratorius, penyakit kulit dan dari darah. Virus lain yang sering menyebabkan infeksi nosokomial adalah cytomegalovirus, Ebola, influenza virus, herpes simplex virus, dan varicella-zoster virus, juga dapat ditularkan.
3. Parasit dan Jamur
Beberapa parasit seperti Giardia lamblia dapat dengan mudah
menular ke orang dewasa maupun anak-anak.Banyak jamur dan parasit dapat timbul
selama pemberian obat antibiotika bakteri dan immunosupresan, contohnya infeksi
dari Candida albicans, Aspergiilus spp, Cryptococcus neformans,
Cryptosporidium.
B. Reservoar
Reservoar adalah tempat patogen mampu bertahan hidup tetapi dapat atau tidak berkembang biak. Reservoir yang paling umum adalah tubuh manusia.Berbagai mikroorganisme hidup pada kulit dan dalam rongga tubuh, cairan dan keluaran. Untuk berkembang biak dengan cepat mkroorganismer memerlukan lingkungan yang sesuai, termasuk makanan, oksigen, air, suhu yang tepat, pH dan cahaya.
• Makanan. Mikroorganisme memerlukan untuk hidup, seperti Clostridium perfringens, mikroba yang menyebabkan gangren gas, berkembang pada materi organik lain, seperti E.coli mengkonsumsi makanan yang tidak dicerna di usus. Organisme lain mendapat makanan dari karbondioksida dan materi organik seperti tanah.
• Oksigen. Bakteri aerob memerlukan
oksigen untuk bertahan hidup dan multiplikasi secukupnya untuk menyebabkan
sakit.Contohnya adalah Staphylococcus aureus dan turunan organisme
Streptococccus sedangkan bakteri anaerob berkembang biak ketika terdapat atau
tidak ada tersedia oksigen bebas. Bakteri ini yang mampu menyebabkan
tetanus,gas gangrene dan botulisme.
• Air. Kebanyakan mikroorganisme membutuhkan air atau kelembaban untuk bertahan hidup. Dan ada juga beberapa bakteri yang berubah bentuk, disebut dengan spora, yang resisten terhadap kekeringan.
• Suhu. Mikroorganisme dapat hidup
hanya dalam batasan suhu terentu. Namun beberapa dapat hidup dalam temperatur
yan g ekstrem yang mungkin fatal bagi manusia. Misalnya virus AIDS, resisten
terhadap air mendidih.
• pH. Keasaman suatu lingkungan
menentukan kemampuan hidup suatu mikroorganisme. Kebanyakan organisme lebih
menyukai lingkungan dalam batasan pH 5-8.
• Cahaya. Mikroorganisme berkembang
pesat dalam lingkungan yang gelap seperti di bawah balutan dan dalam rongga
tubuh. Sinar ultra violet dapat efektif untuh membunuh beberapa bentuk bakteri.
C. Portal Keluar
Setelah mikroorganisme menemukan tempat untuk tumbuh dan berkembang biak, mereka harus menemukan jalan keluar jika mereka masuk ke pejamu lain dan menyebabkan penyakit. Mikroorganisme dapat keluar melalui berbagai tempat, seperti kulit dan membran mukosa, traktus respiratoris, traktus urinarius, traktus gastrointestinal, traktus reproduktif dan darah.
D. Cara Penularan
Ada banyak cara penularan mikroorganisme dari reservoar ke pejamu. Penyakit infeksius tertentu cenderung ditularkan secara lebih umum melalui cara yang spesifik. Namun, mikroorganisme yang sama dapat ditularkan melalui satu rute. Meskipun cara utama penularan mikroorganisme adalah tangan dari pemberi layanan kesehatan, hampir semua objek dalam lingkungan dapat menjadi alat penularan patogen. Semua personel rumah sakit yang memberi asuhan langsung dan memberi pelayanan diagnostik dan pendukung harus mengikuti praktik untuk meminimalkan penyebaran infeksi.
E. Portal Masuk
Organisme dapat masuk ke dalam tubuh melalui rute yang sama dengan yang digunakan untuk keluar. Misalnya,pada saat jarum yang terkontaminasi mengenai kulit klien, organisme masuk ke dalam tubuh. Setiap obstruksi aliran urine memungkinkan organisme untuk berpindah ke uretra. Kesalahan pemakaian balutan steril pada luka yang terbuka memungkinkan patogen memasuki jaringan yang tidak terlindungi. Faktor- faktor yang menurunkan daya tahan tubuh memperbesar kesempatan patogen masuk ke dalam tubuh.
F. Hospes Rentan
Seseorang terkena infeksi bergantung pada kerentanan dan bergantung pada derajat ketahanan individu terhadap patogen, meskipun seseorang secara konstan kontak dengan mikroorganisme dalam jumlah yang besar, infeksi tidak akan terjadi sampai individu rentan terhadapjumlah mikroorganisme tersebut. Makin banyak virulen suatu mikroorganisme makin besar didapati muncul di lingkungan perawatan akut.
2.3 Proses Infeksi
Infeksi terjadi secara progresif, berat ringannya penyakit klien tergantung pada tingkat infeksi, patogenesitas mikroorganisme dan kerentanan pejamu. Didalam proses infeksi memiliki tahapan tertentu yaitu :
• Periode Inkubasi
Interfal antara masuknya patogen dalam tubuh dan munculnya gejala utama.
• Tahap Prodomal
Interpal dari awitan tanda gejala non spesifik (malaise, demam ringan, keletihan) sampai gejala yang spesifik selama masa ini, mikroorganisme tumbuh dan berkembang biak dan klien mampu menularkan ke orang lain.
• Tahap Sakit
Interpal saat klien memanifestasikan tanda dan gejala yang lebih spesifik terhadap jenis infeksi.
• Tahap Pemulihan
Interpal saat munculnya gejala akut infeksi, lama penyembuhannya tergantung pada beratnya infeksi dan keadaan umum kesehatan klien.
2.4 Pertahanan Terhadap Infeksi
Tubuh memiliki pertahanan normal terhadap infeksi,yaitu :
• Flora Normal
Flora normal tubuh dapat melindungi
seseorang terhadap beberapa patogen, normalnya tubuh mengandung mikroorganisme
yang ada pada lapisan permukaan dan di dalam kulit, saliva, mukosa oral, dan
gastrointestinal.
Flora normal dalam usus besar hidup
dalam jumlah besar tanpa menyebabkan sakit. Flora normal juga mensekresi
substansi antibakteri di dalam usus.
• Pertahanan Sistem Tubuh
Sejumlah sistem organ tubuh memiliki
pertahanan tubuh yang unik terhadap mikroorganisme. Setiap sistem organ
memiliki mekanisme pertahanan yang secara fisiologis disesuaikan dengan struktur
dan fungsinya. Misalnya paru jalan masuk mikroorganisme dilapisi oleh tonjolan
seperti rambut atau silia yang secara ritmis bergerak unruk memindahkan mukus
dan organisme yang yang melekat di faring untuk di ekshalasi.
• Inflamasi
Inflamasi merupakan reaksi protektif
vaskuler dengan menghantarkan cairan, produk darah dan nutrient ke jaringan
interstisial ke daerah cedera. Proses tersebut mampu menetralisasi dan
mengerliminasi patogen atau jaringan mati dan memulai cara perbaikan sel dan
jaringan tubuh.
• Respon Imun
Saat mikroorganisme menginvasi
memasuki tubuh, mikroorganisme tersebut diserang pertama kali oleh monosit.
Sisa mikroorganisme tersebut kemudian memicu respon imun, materi yang
tertinggal (antigen) menyebabkan kerentanan respon yang mengubah susunan
biologis tubuh sehingga reaksi untuk paparan berikutnya berbeda dengan reaksi
pertama, respon yang berubah ini dikenal dengan respon imun.
2.5 Infeksi Nosokomial
Infeksi nosokomial disebabkan oleh pemberian layanan kesehatan dalam fasilitas keperawatan kesehatan, rumah sakit merupakan satu tempat yang paling mungkin terdapat infeksi karena populasi mikroorganisme yang tinggi dengan jenis virulen yang mungkin resisten terhadap antibiotik.
Jenis infeksi nosokomial yaitu infeksi iantrogenik yang di akibatkan oleh prosedur diagnostik dan terapeutik.Contohnya infeksi traktus urinarius yang terjadi setelah infeksi kateter.
Infeksi nosokomial dapat secara eksogen atau endogen. Infeksi eksogen didapat dari mikroorganisme eksternal terhadap individu, yang bukan merupakan flora normal contohnya adalah organisme salmonella dan klostridiun tetani. Infeksi endogen dapat terjadi bila sebagian dari flora normal klien berubah dan terjadi pertumbuhan yang berlebihan. Contohnya adalah infeksi yang disebabkan oleh enterococcus, ragi dan streptococccus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar