ASKEP HEPATITIS
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Hepatitis virus akut
merupakan suatu masalah kesehatan masyarakat yang penting tidak hanya di
Amerika Serikat tapi seluruh dunia. The centers for Disease Control and
Prevention (CDC) memperkirakan setiap tahun terjadi sekitar 3000.000 infeksi
virus hepatitis B. Walaupun mortalitas penyakit hepatitis rendah, faktor
morbiditas yang luas dan ekonomi yang kurang memiliki kaitan dengan penyakit
ini. Hepatitis virus akut adalah penyakit infeksi yang penyebarannya luas,
walaupun efek utamanya pada hati.
Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menemukan berbagai
macam penyakit khususnya hepatitis.
Hepatitis adalah suatu penyakit yang dapat menimbulkan peradangan hati.
Penyakit ini dapat disebabkan oleh infeksi atau oleh toksin termasuk alcohol,
dan dijumpai pada kanker
hati. Gejala dan tanda masing-masing jenis hepatitis serupa namun cara
penularan dan hasil akhirnya mungkin berbeda.
I.2 Tujuan
Maksud dalam pembuatan makalah ini adalah untuk
mengetahui lebih banyak lagi tentang penyakit hepatitis dan mengetahui
bagaimana proses terjadinya penyakit tersebut. Makalah tersebut
juga dijadikan sebagai refrensi dalam proses perkuliahan.
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
1.
Pengertian
Hepatitis
adalah peradangan pada hati atau infeksi pada hati (Elizabeth J. Corwin, 2001). Hepatitis ada yang akut dan ada juga
yang kronik. Hepatitis akut adalah penyakit infeksi akut dengan gejala utama
yang berhubungan erat dengan adanya nekrosis pada jaringan hati (Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid I).
Hepatitis
kronik adalah suatu sindrom klinis dan patologis yang disebabkan oleh
bermacam-macam etiologi yang ditandai oleh berbagai tingkat peradangan dan
nekrosis pada hati yang berlangsung terus-menerus tanpa penyembuhan dalam waktu
palaing sedikit 6 bulan (Ilmu Penyakit
Dalam Jilid I Edisi 3).
2.
Anatomi Fisiologi
a.
Anatomi
Hati
merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh, rata-rata sekitar 1500 gr, atau 2,5 %
berat badan orang dewasa normal. Hati merupakan organ plastis lunak yang
tercetak oleh struktur sekitarnya. Permukaan superior adalah cembung dan
terletak di bawah kubah kanan diafragma dan sebagian kubah kiri. Bagian bawah
hati adalah cekung dan merupakan atap ginjal kanan, lambung, pankreas, dan
usus. Hati memiliki dua lobus utama, kanan dan kiri. Lobus kanan dibagi menjadi
segmen anterior dan posterior oleh fissura segmentalis kanan yang tidak
terlihat di luar. Lobus kiri dibagi menjadi segmen medial dan lateral oleh
ligamentum falsiforme yang dapat dilihat dari luar. Ligamentum falsiforme
berjalan dari hati ke diafragma dan dinding depan abdomen. Permukaan hati
diliputi oleh peritoneum viseralis, kecuali daerah kecil pada permukaan
posterior yang melekat langsung pada diafragma. Beberapa ligamentum yang
merupakan lipatan peritoneum membantu menyokong hati. Dibawah peritoneum
terdapat jaringan penyambung padat yang dinamakan kapsul glisson, yang meliputi
seluruh permukaan organ ; kapsula ini pada hilus atau porta hepatis di
permukaan inferior, melanjutkan diri ke dalam massa hati, membentuk rangka
untuk cabang-cabang vena porta, arteri hepatika, dan saluran empedu.
Struktur mikroskopik :
Setiap
lobus hati terbagi menjadi struktur-struktur yang dinamakan lobulus, yang
merupakan unit mikroskopis dan fungsional organ (gambar). Setiap lobulus
merupakan badan heksagonal yang terdiri atas lempeng-lempeng sel hati yang
berbentuk kubus, tersusun radial mengelilingi vena sentralis. Diantara
lempengan sel hati terdapat kapiler-kapiler yang dinamakan sinusoid, yang
merupakan cabang vena porta dan arteri hepatika. Tidak seperti kapiler lain,
sinusoid dibatasi oleh sel fagositik atau sel kuffer. Sel kuffer merupakan
sistem monosit-makrofag yang lebih banyak daripada yang terdapat dalam hati,
jadi hati merupakan salah satu organ utama sebagai pertahanan terhadap invasi
bakteri dan agen toksik. Selain cabang-cabang vena porta dan arteria hepatica
yang melingkari bagian perifer lobulus hati, juga terdapat saluran empedu yang
sangat kecil yang dinamakan kanalikuli (tidak tampak), berjalan di
tengah-tengah lempengan sel hati. Empedu yang dibentuk dalam hepatosit
dieksresi ke dalam kanalikuli yang bersatu membentuk saluran empedu yang makin
lama makin besar, hingga menjadi saluran empedu yang besar (duktus koledokus).
Vena porta
menerima aliran darah dari saluran limpa dan pankreas. Darah vena porta ini
berbeda dengan darah vena lain karena :
-
Tekanan sedikit lebih tinggi.
-
Oksigen lebih tinggi, karena aliran darah di daerah splanknikus ini relatif
lebih banyak.
-
Mengandung lebih banyak zat makanan.
-
Mengandung lebih banyak sisa-sisa bakteri dari saluran pencernaan.
Volume total
darah yang melalui hati 100 – 1500 ml tiap menit dan dialirkan melalui vena
hepatica kanan dan kiri yang mengosongkannya ke vena kava inverior.
b.
Fungsi Hati
Selain
merupakan organ parenkim yang berukuran besar, hati juga menduduki urutan pertama
dalam hal banyaknya kerumitan dan ragam dari fungsinya. Hati sangat penting
untuk mempertahankan hidup dan berperan pada hampir setiap fungsi metabolik
tubuh; pada tabel di bawah ini dapat dlihat beberapa fungsi utama hati :
|
Fungsi
Hati
|
|
1.
Pembentukan dan ekskresi empedu.
2.
Metabolisme pigmen empedu.
3.
Metabolisme protein.
4.
Metabolisme lemak.
5.
Penyimpanan vitamin dan mineral.
6.
Metabolisme steroid.
7.
Detoksifikasi.
8.
Ruang pengapung dan fungsi penyaring.
9.
Pembentukan urea.
10. Penyimpanan protein
|
Dari
berbagai fungsi tersebut diatas, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa
fungsi dasar hati adalah :
1.) Fungsi pembentukan dan ekskresi
empedu.
2.) Fungsi metabolik
3.) Fungsi pertahanan tubuh
4.) Fungsi vaskular hati
Fungsi Pembentukan dan Ekskresi
Empedu
Hal ini
merupakan fungsi utama hati. Saluran empedu mengalirkan, kandungan empedu
menyimpan dan mengeluarkan ke dalam usus halus sesuai yang dibutuhkan. Hati
mengekskresikan sekitar 1 liter empedu tiap hari. unsur utama empedu adalah air
(97%), elektrolit, garam empedu fosfolipid, kolesterol dan pigmen empedu
(terutama bilirubin terkonjugasi). Garam empedu penting untuk pencernaan dan
absorbsi lemak dalam usus halus. Oleh bakteri usus halus sebagian besar garam
empedu direabsorbsi dalam ileum, mengalami sirkulasi ke hati, kemudian
mengalami rekonjugasi dan resekresi. Walaupun bilirubin (pigmen empedu)
merupakan hasil akhir metabolisme dan secara fisiologis tidak mempunyai peran aktif,
ia penting sebagai indikator penyakit hati dan saluran empedu, karena bilirubin
cenderung mewarnai jaringan dan cairan yang berhubungan dengannya.
Fungsi Metabolik
Hati
memegang peranan penting pada metabolisme karbohidrat, protein, lemak, vitamin
dan juga memproduksi energi dan tenaga. Zat tersebut di atas dikirim melalui
vena porta setelah diabsorbsi oleh usus. Monosaksarida dari usus halus diubah
menjadi glikogen dan di simpan dalam hati (glikogenesis). Dari depot glikogen
ini mensuplai glukosa secara konstan ke darah (glikogenesis) untuk memenuhi
kebutuhan tubuh. Sebagian glukosa dimetabolisme dalam jaringan unuk
menghasilkan panas atau tenaga (energi) dan sisanya diubah menjadi glikogen,
disimpan dalam otot atau menjadi lemak yang disimpan dalam jaringan subcutan.
Hati juga mampu menyintetis glukosa dari protein dan lemak (glukoneogenesis).
Peran hati
pada metabolisme protein penting untuk hidup. Protein plasma, kecuali globulin
gamma, disintetis oleh hati. Protein ini adalah albumin yang diperlukan untuk
mempertahankan tekanan osmotik koloid, fibrinogen dan faktor-faktor pembekuan
yang lain.
Fungsi Pertahanan Tubuh
Terdiri
dari fungsi detoksifikasi dan fungsi perlindungan, dimana fungsi detoksifikasi
oleh enzim-enzim hati yang melakukan oksidasi, reduksi, hidrolisis atau
konjugasi zat yang memungkinkan membahayakan dan mengubahnya menjadi zat yang
secara fisiologis tidak aktif. Fungsi perlindungan dimana yang berperanan
penting adalah sel kuffer yang berfungsi sebagai sistem endoteal yang berkemampuan
memfagositosis dan juga menghasilkan immunolobulin.
Fungsi Vaskuler Hati
Setiap
menit mengalir 1200 cc darah portal ke dalam hati melalui sinusoid hati,
seterusnya darah mengalir ke vena sentralis dan menuju ke vena hepatika untuk
selanjutnya masuk ke dalam vena kava inferior. Selain itu dari arteria hepatika
mengalir masuk kira-kira 350 cc darah. Darah arterial ini akan masuk dan
bercampur dengan darah portal. Pada orang dewasa jumlah aliran darah ke hati
diperkirakan mencapai 1500 cc tiap menit.
3.
Patofisiologi
Inflamasi
yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus dan
reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia. Unit fungsional darah
dari hepar disebut lobule karena memiliki suplai darah sendiri. Seiring dengan
berkembangnya inflamasi pada hepar. Pola normal pada hepar terganggu. Gangguan
terhadap suplai darah normal pada sel-sel hepar ini menyebabkan nekrosis dan
kerusakan sel-sel hepar. Setelah lewat masanya, sel-sel hepar yang rusak
dibuang dari tubuh oleh respon imune digantikan oleh sel-sel hepar baru yang
sehat. Oleh karenanya sebagian besar oleh pasien yang mengalami hepatitis
sembuh dengan fungsi hepar normal
4.
Etiologi
a.
Virus.
b.
Bakteri (salmonella typhi).
c.
Obat-obatan.
d.
Racun (hepatotoxic).
e.
Alcohol.
5.
Klasifikasi
Terdapat
dua jenis virus yang menjadi penyebab yaitu RNA (Ribo Nucleic Acid) dan DNA
(Deoksi Nucleic Acid).
ü HepatitisA/Hepatitis infeksius
Seringkali infeksi hepatitis A pada anak-anak tidak menimbulkan gejala, sedangkan pada orang dewasa menyebabkan gejala mirip flu, rasa lelah, demam, diare, mual, nyeri perut, mata kuning dan hilangnya nafsu makan. Penyakit ini ditularkan terutama melalui kontaminasi oral fekal akibat higyne yang buruk atau makanan yang tercemar.Gejala hilang sama sekali setelah 6-12 minggu. Orang yang terinfeksi hepatitis A akan kebal terhadap penyakit tersebut. Berbeda dengan hepatitis B dan C, infeksi hepatitis A tidak berlanjut ke hepatitis kronik. Masa inkubasi 30 hari.Penularan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feces pasien, misalnya makan buah-buahan, sayur yang tidak dimasak atau makan kerang yang setengah matang. Minum dengan es batu yang prosesnya terkontaminasi.
Saat ini sudah ada vaksin hepatitis A, memberikan kekebalan selama 4 minggu setelah suntikan pertama, untuk kekebalan yang panjang diperlukan suntikan vaksin beberapa kali. Pecandu narkotika dan hubungan seks anal, termasuk homoseks merupakan risiko tinggi tertular hepatitis A.
Seringkali infeksi hepatitis A pada anak-anak tidak menimbulkan gejala, sedangkan pada orang dewasa menyebabkan gejala mirip flu, rasa lelah, demam, diare, mual, nyeri perut, mata kuning dan hilangnya nafsu makan. Penyakit ini ditularkan terutama melalui kontaminasi oral fekal akibat higyne yang buruk atau makanan yang tercemar.Gejala hilang sama sekali setelah 6-12 minggu. Orang yang terinfeksi hepatitis A akan kebal terhadap penyakit tersebut. Berbeda dengan hepatitis B dan C, infeksi hepatitis A tidak berlanjut ke hepatitis kronik. Masa inkubasi 30 hari.Penularan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feces pasien, misalnya makan buah-buahan, sayur yang tidak dimasak atau makan kerang yang setengah matang. Minum dengan es batu yang prosesnya terkontaminasi.
Saat ini sudah ada vaksin hepatitis A, memberikan kekebalan selama 4 minggu setelah suntikan pertama, untuk kekebalan yang panjang diperlukan suntikan vaksin beberapa kali. Pecandu narkotika dan hubungan seks anal, termasuk homoseks merupakan risiko tinggi tertular hepatitis A.
ü HepatitisB/hepatitis serum
Virus hepatitis B adalah suatu virus DNA untai ganda yang disebut partikel dane. Virus ini memiliki sejumlah antigen inti dan antigen permukaan yang telah diketahui secara rinci dapat diidentifikasikan dari sampel darah hasil pemeriksaan lab.hepatitis B memiliki masa tunas yang lama, antara 1 – 7 bulan dengan awitan rata-rata 1-2 bulan. Sekitar 5-10% orang dewasa yang terjangkit hepatitis B akan mengalami hepatitis kronis dan terus mengalami peradangan hati selama lebih dari 6 bulan. Gejalanya mirip hepatitis A, mirip flu, yaitu hilangnya nafsu makan, mual, muntah, rasa lelah, mata kuning dan muntah serta demam. Penularan dapat melalui jarum suntik atau pisau yang terkontaminasi, transfusi darah dan gigitan manusia.
Pengobatan dengan interferon alfa-2b dan lamivudine, serta imunoglobulin yang mengandung antibodi terhadap hepatitis-B yang diberikan 14 hari setelah paparan. Vaksin hepatitis B yang aman dan efektif sudah tersedia sejak beberapa tahun yang lalu. Yang merupakan risiko tertular hepatitis B adalah pecandu narkotika, orang yang mempunyai banyak pasangan seksual.
Virus hepatitis B adalah suatu virus DNA untai ganda yang disebut partikel dane. Virus ini memiliki sejumlah antigen inti dan antigen permukaan yang telah diketahui secara rinci dapat diidentifikasikan dari sampel darah hasil pemeriksaan lab.hepatitis B memiliki masa tunas yang lama, antara 1 – 7 bulan dengan awitan rata-rata 1-2 bulan. Sekitar 5-10% orang dewasa yang terjangkit hepatitis B akan mengalami hepatitis kronis dan terus mengalami peradangan hati selama lebih dari 6 bulan. Gejalanya mirip hepatitis A, mirip flu, yaitu hilangnya nafsu makan, mual, muntah, rasa lelah, mata kuning dan muntah serta demam. Penularan dapat melalui jarum suntik atau pisau yang terkontaminasi, transfusi darah dan gigitan manusia.
Pengobatan dengan interferon alfa-2b dan lamivudine, serta imunoglobulin yang mengandung antibodi terhadap hepatitis-B yang diberikan 14 hari setelah paparan. Vaksin hepatitis B yang aman dan efektif sudah tersedia sejak beberapa tahun yang lalu. Yang merupakan risiko tertular hepatitis B adalah pecandu narkotika, orang yang mempunyai banyak pasangan seksual.
ü Hepatitis c
Hepatitis c
diidentifikasi pada tahun 1989.cara penularan virus RNA tersebut sama dengan
hepatitis B dan terutama ditularkan melalui transfusi darah dikalangan penduduk
amerika serikat sebelum ada penapisan. Virus ini dapat dijumpai dalam semen dan
sekresi vagina tetapi jarang sekali pasangan seksual cukup lama dari pembawa
hepatitis C terinfeksi dengan virus ini. Masa tunas hepatitis C berkisar
dari 15 sampai 150 hari, dengan
rata-rata 50 hari. Karena gejalanya cenderung lebih ringan dari hepatitis B,
invidu mugkin tidak menyadari mereka mengidap infeksi serius sehingga tidak
datang ke pelayanan kesehatan. Antibody terhadap virus hepatitis C dan virus
itu sendiri dapat di deteksi dalam darah, sehingga penapisan donor darah
efektif. Adanya antibody terhadap virus
hepatitis C tidak berarti stadium kronis
tidak terjadi.
saat ini belum tersedia vaksin hepatitis C.
saat ini belum tersedia vaksin hepatitis C.
ü Hepatitis D
Hepatitis D
Virus ( HDV ) atau virus delta adalah virus yang unik, yang tidak lengkap dan
untuk replikasi memerlukan keberadaan virus hepatitis B. Penularan melalui
hubungan seksual, jarum suntik dan transfusi darah. Gejala penyakit hepatitis D
bervariasi, dapat muncul sebagai gejala yang ringan (ko-infeksi) atau amat
progresif. agen hepatitis D ini meningkatkan resiko timbulnya hepatitis
Fulminan, kegagalan hati dan kematian. Pencegahan dapat dilakukan dengan
menghindari virus hepatitis B.
ü Hepatitis E
virus ini
adalah suatu virus RNA yang terutama ditularkan melalui ingesti air yang tercemar. Gejala mirip hepatitis A,
demam pegel linu, lelah, hilang nafsu makan dan sakit perut. Penyakit yang akan
sembuh sendiri ( self-limited ), keculai bila terjadi pada kehamilan, khususnya
trimester ketiga, dapat mematikan. Penularan melalui air yang terkontaminasi
feces.
Tabel Virus
Hepatitis Yang Dikenali Saat Ini
|
Jenis
|
penularan
|
Prognosis
|
Diagnosis
|
|
Hepatitis
A
|
Oral atau
fekal
|
Biasanya
sembuh sendiri
|
Antibody
hepatitis A ; IgM(stadium dini),IgG(stadium lanjut)
|
|
Hepatitis
B
|
Ditularkan
melalui darah,khususnya dari ibu ke anak. Juga ditularkan melalui hubungan
seksual
|
Biasanya
sembuh sendiri.10% diantaranya dapat menjadi hepatitis B kronis atau fulminan.
|
Antigen
permukaan hepatitis B (HbsAg) dan antigen inti(HbeAg) yang diikuti dengan
antibody terhadap antigen permukaan hepatits B dan antigen inti.
|
|
Heparitis
C
|
Ditularkan
melalui darah ( angkat penularan melalui hubungan kelamin rendah).
|
50% dapat
menjadi infeksi kronis
|
Antibody
hepatitis C
|
|
Hepatitis
D
|
Ditularkan
melalui darah.ko-infeksi hanya dengan hepatitis B
|
Meningkatkan
kemungkinan perburukan hepatitis B
|
Antigen
hepatitis D, antibody hepatitis D.
|
|
Hepatitis
E
|
Air
tercemar, oral atau fekal
|
Biasanya
sembuh sendiri, tetapi menimbulkan angka kematian tinggi pada wanita hamil
|
Pengukuran
virus hepatitis E
|
6. Manifestasi
Klinik
Terdapat tiga stadium :
a.
Stadium pre ikterik
Berlangsung
selama 4 – 7 hari, pasien mengeluh sakit kepala, lemah, anoreksia, mual,
muntah, demam, nyeri otot, dan nyeri perut kanan atas, urine lebih coklat.
b. Stadium
ikterik, yang berlangsung selama 3 – 6 minggu. Ikterus mula-mula terlihat pada
sclera, kemudian pada kulit seluruh tubuh. Keluhan berkurang tetapi pasien
masih lemah, anoreksia dan muntah, tinja mungkin berwarna kelabu atau kuning
muda, hati membesar dan nyeri tekan.
c.
Stadium pasca ikterik (rekonvalensensi)
Ikterus
mereda, warna urine dan tinja menjadi normal lagi. Penyembuhan pada anak-anak
lebih cepat daripada orang dewasa, yaitu pada akhir bulan kedua. Karena
penyebab yang biasa berbeda.
7.
Penularan
|
HVA
|
HVB
|
HVC
|
HVD
|
HVE
|
|
|
Penularan
|
Fekal oral
Parenteral
|
Darah
Saliva
Seksual
|
Darah
Saliva
|
Darah
|
Fekal oral
|
(Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,
jilid I)
Resiko penularan untuk HVA yaitu :
sanitasi buruk, institusi yang ramai seperti rumah perawatan, rumah sakit jiwa,
jasa boga, terinfeksi. Sedangkan resiko penularan HVB aktivitas homoseksual,
memiliki banyak pasangan seksual, memakai obat-obatan melalui suntikan
intravena, hemodialisis kronik, pekerja sosial di bidang kesehatan, transfusi
darah (sekarang sudah jarang karena ada pemeriksaan rutin).
8.
Pencegahan
Karena
terbatasnya pengobatan hepatitis, maka penekanan lebih diarahkan pada
pencegahan diataranya sebagai berikut :
a. Kini tersedia
globulin imun HBV tertinggi (HBIG) dan vaksin untuk pencegahan dan pengobatan
HBV, utamanya bagi petugas yang terlibat dalam kontak resiko tinggi misalnya
pada hemodialisis, transfusi tukar dan terapi parenteral perlu sangat hati-hati
dalam menangani peralatan parenteral tersebut.
b. Hindari kontak
langsung dengan barang yang terkontaminasi virus hepatitis akut.
c. Pelihara
personal hygiene dan lingkungan.
d. Gunakan alat-alat
disposible untuk suntik.
e. Alat-alat yang
terkontaminasi disterilkan.
9. Penatalaksanaan
a. Tirah
baring selama fase akut dengan diet yang cukup bergizi merupakan anjuran yang
lazim.
b. Diet
TKTP, pemberian makanan intravena mungkin perlu selama fase akut bila pasien
terus-menerus muntah.
c. Aktivitas
fisik biasanya perlu dibatasi hingga gejala-gejala mereda dan tes fungsi hati
kembali normal.
d.
Terapi sesuai instruksi dokter.
e.
Jaga kebersihan perorangan dan lingkungan.
f.
Alat-alat makan disterilkan.
g. Alat-alat
tenun sebelum dicuci direndam dahulu dengan antiseptik.
10.
Komplikasi
Komplikasi
hepatitis virus yang paling sering dijumpai adalah perjalanan penyakit yang
memanjang hingga 4 sampai 8 bulan. Keadaan ini dikenal sebagai hepatitis kronis
persisten. Sekitar 5 % dari pasien hepatitis virus akan mengalami kekambuhan
setelah serangan awal yang dapat dihubungkan dengan alkohol atau aktivitas
fisik yang berlebihan setelah hepatitis virus akut sejumlah kecil pasien akan
mengalami hepatitis agresif atau kronik aktif dimana terjadi kerusakan hati
seperti digerogoti (picce meal). Akhirnya satu komplikasi lanjut dari hepatitis
yang cukup bermakna adalah perkembangan karsinoma hepatoseluler.
11.
Pemeriksaan Diagnostik
a.
Enzim-enzim serum AST (SGOT), ALT (SGPT), LDH : meningkat pada kerusakan sel
hati dan pada keadaan lain terutama infark miokardium.
b.
Bilirubin direk : meningkat pada gangguan eksresi bilirubin terkonyugasi.
c.
Bilirubin indirek : meningkat pada gangguan hemolitik dan sindrom gilbert.
d.
Bilirubin serum total : meningkat pada penyakit hepatoseluler
e.
Protein serum total : kadarnya menurun pada berbagai gangguan hati.
f.
Masa protrombin : meningkat pada penurunan sintetis protrombin akibat kerusakan
sel hati.
g.
Kolesterol serum : menurun pada kerusakan sel hati, meningkat pada obstruksi
duktus biliaris.
BAB III
ASUHAN
KEPERAWATAN HEPATITIS
Proses perawatan adalah suatu metode yang sistematik dan
terorganisir dalam pemberian askep yang difokuskan pada reaksi/respon manusia
unik pada suatu kelompok/perorangan terhadap gangguan kesehatan yang dialami
baik aktual maupun resiko.
- Pengkajian
Tahap
pengkajian dari proses keperawatan merupakan proses dinamis yang terorganisir
yang meliputi tiga aktivitas dasar : mengumpulkan data, menyortir dan mengatur
data yang dikumpulkan, mendokumentasikan data yang dikumpulkan,
mendokumentasikan data dalam format yang dapat dibuka kembali. Dengan
menggunakan beberapa teknik, anda berfokus pada pendapatan profil pasien yang
akan memungkinkan untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien dan diagnosa
yang cocok, merencanakan masalah, mengimplementasikan intervensi dan
mengevaluasi hasil. Profil ini disebut data-data pasien.
Data
dasar pasien memberikan suatu pengertian tentang status kesehatan pasien yang
menyeluruh. Data tergantung pada penyebab dan beratnya kerusakan/gangguan hati.
Data
dasar pengkajian pasien
a. Aktivitas/istirahat
Gejala : Kelemahan,
kelelahan, malaise umum.
b. Sirkulasi
Tanda : Bradikardi
(hiperbilirubinemia berat). Ikterik pada sklera, kulit dan membran mukosa.
c. Eliminasi
Gejala : Urine
gelap, diare/konstipasi : faeces warna tanah liat,adanya/ berulangnya
hemodialisa.
d. Makanan dan cairan
Gejala : Hilang
nafsu makan (anoreksia, penurunan berat badan atau meningkat (oedema),
mual/muntah.
e. Neurosensori
Tanda : Peka
rangsang, cenderung tidur, letargi, asteriktis.
f. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Kram
abdomen, nyeri tekan pada kuadran kanan atas, artalgia, mialgia, sakit kepala
(pruritus).
Tanda : Otot
tegang, gelisah.
g. Pernafasan
Tanda : Tidak
minat/enggan merokok (perokok).
h. Keamanan
Gejala : Adanya
transfusi darah/produk darah.
Tanda : Demam
Urtikaria,
lesi makula papular, eritema tak beraturan eksaserbasi jerawat.
Angioma jaring-jaring, eritema
palmar, ginekomastia (kadang-kadang ada pada hepatitis alkoholik).
i. Seksualitas
Gejala : Pola
hidup/perilaku meningkatkan resiko terpanjang (contoh : homoseksual
aktif/biseksual pada wanita).
- Identifikasi/Analisa masalah (Diagnosa Keperawatan)
Tahap kedua dari proses keperawatan
sering disebut juga sebagai analisis, dan juga identifikasi masalah atau
diagnosa keperawatan. Proses ini amat penting dan esensial karena proses ini
merupakan satu bagian yang paling vital dalam proses keperawatan.
Diagnosa keperawatan :
a. Intolerans aktivitas berhubungan dengan
:
Kelemahan umum : penurunan
kekuatan/ketahanan : nyeri.
Mengalami keterbatasan aktivitas :
depresi.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik :
anoreksia, mua/muntah, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan :
penurunan peristaltik (refleks viseral), empedu tertahan.
c. Kekurangan volume cairan dan diare,
perpindahan area ke tiga (acites), gangguan proses pembekuan
d. Harga diri rendah situasional berhubungan
dengan Gejala : Jengkel/marah,
terkurung/isolasi, sakit lama/periode penyembuhan.
e. Potensial terjadi penularan pada orang lain
serta staf medis berhubungan dengan : kontak dengan pasien serta pengelolaan
alat-alat.
f. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan zat kimia, akumulasi garam empedu dalam jaringan.
g. Kurang
pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan
dengan salah interpretasi, tidak mengenal sumber informasi.
- Perencanaan
Diagnosa keperawatan :
a.
Aktivitas intoleran berhubungan dengan :
-
Kelemahan umum, penurunan kekuatan otot/ketahanan : nyeri.
-
Mengalami keterbatasan aktivitas.
Data subyektif : Laporan kelemahan.
Data objektif : Tampak
lemah, kekuatan otot menurun, istirahat di tempat tidur.
*
Tujuan
-
Menyatakan pemahaman situasi/faktor resiko dan program pengobatan individu.
*
Kriteria
-
Menunjukkan teknik/perilaku kemampuan kembali melakukan aktivitas.
-
Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas.
*
Tindakan keperawatan
1.)
Tingkatkan tirah baring/duduk. Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung.
Rasional :
Meningkatkan
ketenangan, menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan.
2.) Ubah
posisi dengan sering, perawatan kulit yang baik.
Rasional :
Meningkatkan
fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan
resiko kerusakan jaringan.
3.) Lakukan
tugas dengan cepat dan sesuai toleransi.
Rasional :
Memungkinkan
periode tambahan istirahat tanpa gangguan.
4.)
Tingkatkan aktivitas sesuai intoleransi, bantu melakukan rentang gerak sedikit
pasif/aktif.
Rasional :
Tirah
baring yang lama dapat menurunkan kemampuan, ini dapat terjadi karena
keterbatasan aktivitas.
5.) Berikan
aktivitas hiburan yang tepat contoh menonton TV, membaca, mendengarkan radio.
Rasional :
Meningkatkan
relaksasi dan penghematan energi, memusatkan kembali perhatian, dan dapat
meningkatkan koping.
6.)
Awasi terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran hati.
Rasional :
Menunjukkan
kurangnya resolusi/eksaserbasi penyakit, memerlukan istirahat lanjut, mengganti
program terapi.
Kolaborasi
:
Membantu
menentukan kadar aktivitas yang tepat, sebagai peningkatan prematur pada
potensial resiko berulang.
b.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia,
mual.
Data
subjektif : Kurang nafsu makan, nyeri abdomen/kram.
Data
obyektif : Porsi makan tidak dihabiskan, berat badan menurun, muntah.
*
Tujuan
-
Menunjukkan berat badan yang meningkat atau kembali normal.
-
Diet yang dianjurkan dapat ditoleransi tanpa rasa tak nyaman.
*
Kriteria
-
Berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan
bebas tanda malnutrisi.
*
Tindakan keperawatan
1.) Awasi pemasukan diet/jumlah kalori. Berikan
makanan sedikit tapi sering dalam frekuensi sering dan tawarkan makanan pagi
paling besar.
Rasional :
Makanan banyak sulit mengatur bila
pasien anoreksia. Anoreksia juga paling buruk selama siang hari, membuat
masukan makanan yang sulit pada sore hari.
2.) Berikan perawatan mulut sebelum makan.
Rasional :
Menghilangkan rasa tidak enak,
meningkatkan nafsu makan.
3.) Anjurkan makan pada posisi duduk tegak.
Rasional :
Menurunkan rasa penuh pada abdomen
dan dapat meningkatkan pemasukan.
4.) Dorongan pemasukan sari jeruk, minuman karbohidrat
dan permen berat sepanjang hari.
Rasional :
Bahan ini merupakan ekstra kalori
dan dapat lebih mudah dicerna, toleran bila makanan lain tidak.
5.) Berikan obat sesuai indikasi : Vit. B Comp,
tambahan diet lain sesuai indikasi.
Rasional :
Memperoleh kekurangan dan membantu
proses penyembuhan.
Kolaborasi :
6.) Konsul pada ahli diet. Dukungan tim nutrisi untuk
memberikan diet sesuai kebutuhan pasien dengan pemasukan lemak dan protein
sesuai toleransi.
Rasional :
Berguna dalam membuat program diet
memenuhi kebutuhan individu. Metabolisme lemak bervariasi tergantung pada
produksi pengeluaran empedu dan perlunya pembatasan masukan lemak bila terjadi
diare. Bila toleransi pemasukan normal atau lebih protein akan membantu
regenerasi hati. Pembatasan protein diindikasikan pada penyakit berat karena
akumulasi produk akhir protein dapat mencetuskan hepati ensefalopati.
7.) Berikan tambahan makanan/nutrisi dukungan total
bila dibutuhkan.
Rasional :
Mungkin perlu untuk memenuhi
kebutuhan kalori bila tanda kekurangan terjadi/gejala memanjang.
c.
Resiko tinggi kekurangan volume cairan
berhubungan dengan kehilangan cairan melalui muntah dan diare, ditandai
dengan :
Data
subyektif : -
Data
obyektif : Muntah dan diare.
*
Tujuan
Mempertahankan hidrasi adekuat.
*
Kriteria
-
Tanda-tanda vital stabil, turgor kulit normal, masukan dan keluaran seimbang.
*
Tindaka keperawatan
1.)
Awasi masukan dan haluaran, bandingkan dengan berat badan harian, catat
kehilangan melalui usus, contoh muntah dan diare.
Rasional :
Memberikan
informasi tentang kebutuhan pengganti/efek terapi.
2.)
Kaji tanda vital, nadi perifer,
pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa.
Rasional :
Indikator
volume sirkulasi/perifer.
3.)
Periksa acites atau pembentukan oedema, ukur lingkar abdomen sesuai indikasi.
Rasional :
Menerangkan
kemungkingan perdarahan ke dalam jaringan.
4.)
Biarkan pasien menggunakan lap katun/spon dan pembersih mulut untuk sikat gigi.
Rasional :
Menghindari
trauma dan perdarahan gusi.
5.)
Awasi nilai laboratorium, contoh Hb/Ht, Na + albumin dan waktu pembekuan.
Rasional :
Menunjukkan
hidrasi dan mengidentifikasi retensi natrium/kadar protein yang dapat
menimbulkan pembentukan oedema.
6.)
Berikan cairan IV, elektrolit.
Rasional :
Memberikan
cairan dan penggantian elektrolit.
7.)
Protein hidrolisat : vitamin K
Rasional :
Memperbaiki
kekurangan albumin/protein dapat membantu mengembalikan cairan dari jaringan ke
sistem sirkulasi, mencegah masalah koagulasi.
d.
Harga diri rendah berhubungan dengan
gejala jengkel/marah, terkurung/ isolasi, sakit lama/periode penyembuhan.
Data
subyektif : Perasaan tak berdaya.
Data
obyektif : Perawatan isolasi, icterus pada mata dan seluruh tubuh.
*
Tujuan
Mengidentifikasi perasaan dan metode
untuk koping terhadap persepsi negatif.
*
Kriteria
-
Menyatakan penerimaan diri dan lamanya penyembuhan/ kebutuhan isolasi.
-
Mengakui diri sebagai orang tua yang berguna.
*
Tindakan keperawatan
1.) Kontak dengna pasien mengenai waktu untuk
mendengar.
Rasional :
Penyediaan waktu meningkatkan
hubungan saling percaya.
2.) Dorong diskusi perasaan marah.
Rasional :
Kesempatan untuk mengekspresikan
perasaan memungkinkan pasien untuk merasa lebih mengontrol situasi.
Pengungkapan menurunkan cemas dan depresi memudahkan perilaku koping positif.
3.) Hindari membuat penilaian neoral tentang pola
hidup.
Rasional :
Pasien merasa marah/kesal dan
mengalahkan diri : penilaian dari orang lain akan merusak harga diri lebih
lanjut.
4.) Diskusikan harapan penyembuhan.
Rasional :
Periode penyembuhan mungkin
lama/potensial stres keluarga/ situasi dan memerlukan perencanaan, dukungan dan
evaluasi.
5.) Kaji efek penyakit pada faktor ekonomi
pasien/orang terdekat.
Rasional :
Masalah finansial dapat terjadi
karena kehilangan peran fungsi pasien pada keluarga/penyembuhan lama.
6.) Tawarkan aktivitas senggang berdasarkan tingkat
energi.
Rasional :
Memampukan pasien untuk menggungkan
waktu dan energi pada cara konstruktif yang meningkatkan harga diri dan
meminimalkan cemas dan depresi.
7.) Anjurkan pasien menggunakan warna merah terang atau
biru/hitam daripada kuning atau hijau.
Kolaborasi
8.) Buat rujukan yang tepat untuk membantu, sesuai
kebutuhan, contoh perencanaan pulang, pelayanan masyarakat dan atau lembaga
komunitas lain.
Rasional :
Dapat memudahkan pemecahan masalah
dan membantu melibatkan individu untuk mengatasi masalah.
e.
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan
pertahankan tubuh sekunder tak adekuat dan malnutrisi.
Data
subyektif : -
Data
obyektif : - Klien
dirawat di ruangan isolasi
-
Faeces warna dempul.
-
Urine warna pekat.
*
Tujuan
Mencegah penularan kepada orang
lain.
*
Kriteria
Mendemonstrasikan/melakukan
teknik-teknik/cara penularan penyakit. Perubahan-perubahan teknik ulang
perilaku atau mencegah penularan penyakit terhadap orang lain.
*
Tindakan keperawatan
1.) Terapkan
teknik isolasi dengan cara yang tepat
-
Gunakan celemek dan sarung tangan bila mengadakan kontak dengan klien (berhati-hati terhadap kontaminasi dengan
alat-alat suntik klien seperti darah dan sekretnya).
-
Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
Rasional :
Mencegah transmisi penyakit virus ke
orang lain. Melalui cuci tangan yang efektif dalam mencegah transmisi virus
tipe C di transmisikan melalui terpajan pada darah dan produk darah.
2.) Jelaskan
prosedur isolasi kepada klien dan keluarga.
Rasional :
Mencegah transmisi penyakit virus ke
orang lain.
3.)
Membahas pentingnya imunisasi kepada klien, keluarga dan tenaga kesehatan.
f.
Resiko tinggi terhadap kerusakan
integritas kulit/jaringan berhubungan dengan zat kimia, akumulasi garam empedu
dalam jaringan.
Data
subyektif : Pengungkapan rasa gatal.
Data
obyektif : Bilirubin meningkat.
*
Tujuan
Klien akan
mengungkapkan tidak terjadi gangguan integritas kulit.
*
Kriteria
-
Jaringan kulit utuh tanpa lecet/luka.
-
Gatal-gatal berkurang/hilang.
*
Tindakan keperawatan
1.) Gunakan air mandi dingin dan soda kue atau mandi
kanji. Hindari sabun mandi alkali.
Rasional :
2.) Anjurkan untuk menggunakan buku-buku jari untuk
menggaruk rasa gatal, pertahankan kuku pendek.
Rasional :
Menurunkan resiko cedera kulit.
3.) Beri massage pada waktu tidur.
Rasional :
Bermanfaat dalam meningkatkan tidur
dengan menurunkan iritasi kulit.
4.) Hindari komentar tentang penampilan pasien.
Rasional :
Menimbulkan stres psikologik
sehubungan dengan perubahan kulit.
Kolaborasi
5.) Berikan obat sesuai indikasi ; antihistamin contoh
: metdilazin, difenhidramin.
Rasional :
Menghilangkan gatal, catatan :
gunakan terus-menerus pada hepatik hebat.
g.
Kurang pengetahuan tentang kondisi,
prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi
informasi, tidak mengenal sumber informasi ditandai dengan :
Data
subyektif : Pernyataan yang salah konsepsi.
Data
obyektif : Pernyataaan/meminta informasi.
*
Tujuan
Menyatakan pemahaman proses penyakit
dan pengobatan.
*
Kriteria
-
Mengidentifikasi hubungan tanda/gejala penyakit dan hubungan dan gejala dengan
faktor penyebab.
-
Melakukan perubahan perilaku dan berpatisipasi pada pengobatan.
*
Tindakan keperawatan
1.) Kaji tingkat pemahaman proses penyakit,
harapan/prognosis, kemungkinan pilihan pengobatan.
Rasional :
Mengidentifikasi area
kekurangan/salah informasi dan memberikan kesempatan untuk memberikan informasi
tambahan yang sesuai keperluan.
2.) Berikan informasi khusus tentang
pencegahan/penularan penyakit.
Rasional :
Kebutuhan/rekomendasi akan
bervariasi karena hepatitis dan situasi individu.
3.) Bantu pasien mengidentifikasi
aktivitas pengalih.
Rasional :
Aktivitas yang dapat dinikmati akan
dapat membantu menghindari pemusatan pada penyembuhan panjang.
4.) Diskusikan pembatasan donatur darah.
Mencegah penyebaran penyakit.
Kebanyakan undang-undang negara bagian menerima donor darah yang mempunyai
riwayat berbagai tipe hepatitis.
5.) Tekankan pentingnya mengevaluasi
pemeriksaan fisik dan evaluasi laboratorium.
Rasional :
Proses penyakit dapat memakai waktu
berbulan-bulan untuk membaik. Bila gejala ada lebih lama dari enam bulan.
Biopsi hati diperlukan untuk memastikan adanya hepatitis kronis.
6.) Kaji ulang perlunya menghindari alkohol
selama 6 – 12 bulan minuman atau lebih lama sesuai toleransi individu.
Rasional :
Meningkatkan iritasi hepatik dan
mempengaruhi pemulihan.
- Implementasi
Merupakan tahan keempat dari proses keperawatan dimana
rencana keperawatan dilaksanakan : melaksanakan intervensi/aktivitas yang telah
ditentukan, pada tahap ini perawat siap untuk melaksanakan intervensi dan
aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan pasien.
Pelaksanaan keperawatan/implementasi harus sesuai dengan
rencana yang telah ditetapkan sebelumnya dan pelaksanaan ini disesuaikan dengan
masalah yang terjadi. Dalam pelaksanaan keperawatan ada 4 tindakan yang
dilakukan yaitu :
a.
Tindakan mandiri
b.
Tindakan observasi
c.
Tindakan health education
d.
Tindakan kolaborasi
- Evaluasi
Tahapan
evaluasi merupakan proses yang menentukan sejauh mana tujuan dapat dicapai,
sehingga dalam mengevaluasi efektivitas tindakan keperawatan. Perawat perlu
mengetahui kriteria keberhasilan dimana kriteria ini harus dapat diukur dan
diamati agar kemajuan perkembangan keperawatan kesehatan klien dapat diketahui
Dalam evaluasi dapat dikemukakan 4 kemungkinan yang menentukan keperawatan
selanjutnya yaitu :
a.
Masalah klien dapat dipecahkan .
b.
Sebagian masalah klien dapat dipecahkan.
c.
Masalah klien tidak dapat dipecahkan.
d.
Dapat muncul masalah baru.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Hepatitis merupakan
penyakit yang disebabkan oleh virus
menyebakan peradangan pada hati. Hepatitis selain disebakan oleh virus
disebabkan juga alcohol dan juga obat-obatan dan bahan-bahan kimia. Hepatitis
pada anak-anak sebagian besar disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang terkandung
dalam snack. Selain itu juga anak-anak kurang memperhatikan akan kebersihan
sehingga memudahkan virus untuk masuk ke dalam tubuh.
DAFTAR
PUSTAKA
Carpenito Lynda Jual, 1999, Rencana
Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, EGC, Jakarta.
Gallo, Hudak,
1995, Keperawatan Kritis, EGC, Jakarta.
Hadim Sujono,
1999, Gastroenterologi, Alumni Bandung.
Moectyi,
Sjahmien, 1997, Pengaturan Makanan dan Diit untuk Pertumbuhan Penyakit, Gramedia
Pustaka Utama Jakarta.
Price, Sylvia
Anderson, Wilson, Lorraine Mc Carty, 1995, Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-proses Penyakit, EGC, Jakarta.
Smeltzer,
suzanna C, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner dan Suddart.
Alih bahasa Agung Waluyo, Edisi 8, jakarta, EGC, 2001.
Susan, Martyn
Tucker et al, Standar Perawatan Pasien, jakarta, EGC, 1998.
Reeves,
Charlene, et al,Keperawatan Medikal Bedah, Alih bahasa Joko Setiyono,
Edisi I, jakarta, Salemba Medika.
Sjaifoellah
Noer,H.M, 1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, edisi ketiga,
Balai Penerbit FKUI, jakarta.
ANALISA DATA
|
No
|
Data
|
Penyebab
|
Masalah
|
|
1.
|
DS: -klien mengeluh nyeri bila di
tekan bagian kuadran kanan atas abdomen
-klien
mengatakan nyerinya seperti ditusuk-tusuk
DO: klien meringis bila di tekan
bagian kuadran kanan atas abdomen.
-ada pembesaran pada kuSadran
kanan atas
-skala nyeri 3
TTV:
T=120/80 mmhg
P=92x/mt
R=20/mt
S=36,7ºC
|
Infasi
virus
↓
Hepar
↓
Hati
mengadakan perlawanan
↓
Hipertopi
↓
Pembuluh
darah dan saraf-saraf tertekan
↓
Suplai
oksigen menurun
↓
Metabolisme
anaerob
↓
Pengeluaran
asam laktat
↓
Nyeri
|
Gangguan rasa nyaman nyeri
|
|
2.
|
DS: -klien mengeluh kurang nafsu
makan
-terasa mual bila makan
DO: -klien menghabiskan ¼ porsi
makan
-BB 44kg
-TB 153cm
-Dx Hepatitis B
-SGOT 120u/L
-SGPT 40u/L
|
Fungsi
hepar terganggu
↓
Fungsi
metabolic
-karbohidrat
-protein
-lemak
terganggu
↓
Gangguan
system pencernan
(mual, lemah/lesu)
|
Nutrisi kurang dari kebutuhan
|
|
3
|
DS: klien
mengeluh lemas tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.
DO:klien
terlihat lemas
-klien
terlihat dibantu oleh keluarga dalam melakukan aktivitas
|
Fungsi untuk merubah glukosa dan monosakarida terganggu
↓
Karbohidrat
↓
Energi
↓
kelemahan
|
Intoleran
aktivitas
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar