ASKEP ULKUS
PEPTIKUM
Juliardinsyah, Maret
2013
A.
Pengertian
Ulkus
peptikum adalah suatu gambaran bulat atau semi bulat/oval pada permukaan mukosa
lambung sehingga kontinuitas mukosa lambung terputus pada daerah tukak. Ulkus peptikum disebut juga sebagai ulkus lambung,
duodenal atau esofageal, tergantung pada lokasinya. (Bruner and Suddart, 2001).
Ulkus
peptikum merupakan putusnya kontinuitas mukosa lambung yang meluas sampai di
bawah epitel. Kerusakan mukosa yang tidak meluas sampai ke bawah epitel disebut
sebagai erosi, walaupun sering dianggap sebagai ”ulkus” (misalnya ulkus karena
stres). Menurut definisi, ulkus peptikum dapat terletak pada setiap bagian
saluran cerna yang terkena getah asam lambung, yaitu esofagus, lambung,
duodenum, dan setelah gastroenterostomi, juga jejenum.(Sylvia A. Price, 2006).
Ulkus peptikum adalah kerusakan
selaput lendir karena factor – factor psikosomatis, toksin, ataupun kuman –
kuman Streptococcus. Faktor
psikosomatis (missal ketakutan, kecemasan, kelelahan, keinginan berlebihan)
dapat merangsang sekresi HCL berlebihan. HCL akan merusak selaput lendir
lambung. Ulkus peptikum disebut juga penyakit mag.
Ulkus
duodenalis, merupakan
jenis ulkus peptikum yang paling banyak ditemukan, terjadi pada duodenum
(usus dua belas jari), yaitu beberapa sentimeter pertama dari usus halus, tepat
dibawah lambung.
Ulkus
gastrikum lebih jarang ditemukan, biasanya terjadi di sepanjang lengkung atas
lambung.
Jika sebagian dari lambung telah diangkat, bisa terjadi ulkus marginalis, pada daerah dimana lambung yang tersisa telah disambungkan ke usus.
Jika sebagian dari lambung telah diangkat, bisa terjadi ulkus marginalis, pada daerah dimana lambung yang tersisa telah disambungkan ke usus.
Menurut
kelompok : ulkus peptikum adalah suatu penyakit dengan adanya lubang yang terbentuk pada dinding mukosa lambung, pilorus, duodenum
atau esofagus.
B.
Etiologi
Penyebab
umum dari ulserasi peptikum adalah ketidakseimbangan antara selresi cairan
lambung dan derajat perlindungan yang diberikan sawar mukosa gastroduodenal dan
netralisasi asam lambung oleh cairan deudenum. (Arif Mutaqqin,2011)
Penyebab
khususnya diantaranya :
1.
Infeksi bakteri H. pylori
Dalam lima
tahun terakhir, ditemukan paling sedikit 75% pasien ulkus peptikim menderita
infeksi kronis pada bagian akhir mukosa lambung, dan bagian mukosa duodenum
oleh bakteri H. pylori. Sekali pasien terinfeksi, maka infeksi dapat berlangsung
seumur hidup kecuali bila kuman diberantas dengan pengobatan antibacterial.
Lebih lanjut lagi, bakteri mampu melakukan penetrasi sawar mukosa, baik dengan
kemampuan fisiknya sendiri untuk menembus sawar maupun dengan melepaskan enzim
– enzim pencernaan yang mencairkan sawar. Akibatnya, cairan asam kuat
pencernaan yang disekresi oleh lambung dapat berpenetrasi ke dalam jaringan
epithelium dan mencernakan epitel, bahkan juga jaringan – jaringan di
sekitarnya. Keadaai ini menuju kepada kondisi ulkus peptikum (Sibernagl, 2007).
2.
Peningkatan sekresi asam
Pada
kebanyakan pasien yang menderita ulkus peptikum di bagian awal duodenum, jumlah
sekresi asam lambungnya lebih besar dari normal, bahkan sering dua kali lipat
dari normal. Walaupun setengah dari peningkatan asam ini mungkin disebabkan
oleh infeksi bakteri, percobaan pada hewan ditambah bukti adanya perangsangan
berlebihan sekresi asam lambung oleh saraf pada manusia yang menderita ulkus
peptikum mengarah kepada sekresi cairan lambung yang berlebihan (Guyton, 1996).
Predisposisi peningkatan sekresi asam diantaranya adalah factor psikogenik
seperti pada saat mengalami depresi atau kecemasan dan merokok.
3.
Konsumsi obat-obatan
Obat – obat
seperti OAINS/obat
anti-inflamasi nonsteroid seperti indometasin, ibuprofen, asam salisilat
mempunyai efek penghambatan siklo-oksigenase sehingga menghambat sintesis
prostaglandin dari asam arakhidonat secara sistemik termasuk pada epitel
lambung dan duodenum. Pada sisi lain, hal ini juga menurunkan sekresi HCO3-
sehingga memperlemah perlindungan mukosa (Sibernagl, 2007). Efek lain dari obat
ini adalah merusak mukosa local melalui difusi non-ionik ke dalam sel mukosa.
Obat ini juga berdampak terhadap agregasi trombosit sehingga akan meningkatkan
bahaya perdarahan ulkus (Kee, 1995).
4.
Stres fisik
Stres fisik yang disebabkan
oleh syok, luka bakar, sepsis, trauma, pembedahan, gagal napas, gagal ginjal,
dan kerusakan susunan saraf pusat (Lewis, 2000). Bila kondisi stress fisik ini
berlanjut, maka kerusakan epitel akan meluas dan kondisi ulkus peptikum menjadi
lebih parah.
5.
Refluks usus lambung
Refluks usus
lambung dengan materi garam empedu dan enzim pancreas yang berlimpah dan
memenuhi permukaan mukosa dapat menjadi predisposisi kerusakan epitel mukosa.
C.
Manifestasi Klinis
Gejala-gejala
ulkus dapat hilang selama beberapa hari, minggu, atau beberapa bulan dan bahkan
dapat hilang hanya sampai terlihat kembali, sering tanpa penyebab yang dapat
diidentifikasi. Banyak individu mengalami gejala ulkus, dan 20-30% mengalami
perforasi atau hemoragi yang tanpa adanya manifestasi yang mendahului.
1.
Nyeri : biasanya pasien dengan ulkus mengeluh nyeri tumpul, seperti
tertusuk atau sensasi terbakar di epigastrium tengah atau di punggung. Hal ini
diyakini bahwa nyeri terjadi bila kandungan asam lambung dan duodenum meningkat
menimbulkan erosi dan merangsang ujung saraf yang terpajan. Teori lain
menunjukkan bahwa kontak lesi dengan asam merangsang mekanisme refleks local
yang mamulai kontraksi otot halus sekitarnya. Nyeri biasanya hilang dengan
makan, karena makan menetralisasi asam atau dengan menggunakan alkali, namun
bila lambung telah kosong atau alkali tidak digunakan nyeri kembali timbul.
Nyeri tekan lokal yang tajam dapat dihilangkan dengan memberikan tekanan lembut
pada epigastrium atau sedikit di sebelah kanan garis tengah. Beberapa gejala
menurun dengan memberikan tekanan local pada epigastrium.
2.
Pirosis (nyeri uluhati) : beberapa pasien mengalami sensasi luka bakar pada
esophagus dan lambung, yang naik ke mulut, kadang-kadang disertai eruktasi
asam. Eruktasi atau sendawa umum terjadi bila lambung pasien kosong.
3.
Muntah : meskipun jarang pada ulkus duodenal tak terkomplikasi, muntah
dapat menjadi gejala ulkus peptikum. Hal ini dihubungkan dengan pembentukan
jaringan parut atau pembengkakan akut dari membran mukosa yang mengalami
inflamasi di sekitarnya pada ulkus akut. Muntah dapat terjadi atau tanpa
didahului oleh mual, biasanya setelah nyeri berat yang dihilangkan dengan
ejeksi kandungan asam lambung.
4.
Konstipasi dan perdarahan : konstipasi dapat terjadi pada pasien ulkus,
kemungkinan sebagai akibat dari diet dan obat-obatan. Pasien dapat juga datang
dengan perdarahan gastrointestinal sebagian kecil pasien yang mengalami akibat
ulkus akut sebelumnya tidak mengalami keluhan, tetapi mereka menunjukkan gejala
setelahnya.
D.
Patofisiologi
Ulkus
peptikum terjadi pada mukosa gastroduodenal karena jaringan ini tidak dapat
menahan kerja asam lambung pencernaan(asam hidrochlorida dan pepsin). Erosi
yang terjadi berkaitan dengan peningkatan konsentrasi dan kerja asam peptin,
atau berkenaan dengan penurunan pertahanan normal dari mukosa. Mukosa yang
rusak tidak dapat mensekresi mukus yang cukup bertindak sebagai barier terhadap
asam klorida.
Sekresi lambung terjadi pada 3 fase yang serupa :
1. Sefalik
Fase pertama ini dimulai
dengan rangsangan seperti pandangan, bau atau rasa makanan yang bekerja pada
reseptor kortikal serebral yang pada gilirannya merangsang saraf vagal.
Intinya, makanan yang tidak menimbulkan nafsu makan menimbulkan sedikit efek
pada sekresi lambung. Inilah yang menyebabkan makanan sering secara
konvensional diberikan pada pasien dengan ulkus peptikum. Saat ini banyak ahli
gastroenterology menyetujui bahwa diet saring mempunyai efek signifikan pada
keasaman lambung atau penyembuhan ulkus. Namun, aktivitas vagal berlebihan
selama malam hari saat lambung kosong adalah iritan yang signifikan.
2. Fase lambung
Pada fase ini asam lambung
dilepaskan sebagai akibat dari rangsangan kimiawi dan mekanis terhadap reseptor
didinding
lambung. Refleks vagal menyebabkan sekresi asam sebagai respon terhadap
distensi lambung oleh makanan.
3. Fase usus
Makanan dalam usus halus
menyebabkan pelepasan hormon (dianggap menjadi gastrin) yang pada waktunya akan
merangsang sekresi asam lambung.
Pada manusia, sekresi lambung
adalah campuran mukokolisakarida dan mukoprotein yang disekresikan secara
kontinyu melalui kelenjar mukosa. Mucus ini mengabsorpsi pepsin dan melindungi
mukosa terhadap asam. Asam hidroklorida disekresikan secara kontinyu, tetapi
sekresi meningkat karena mekanisme neurogenik dan hormonal yang dimulai dari
rangsangan lambung dan usus. Bila asam hidroklorida tidak dibuffer dan tidak
dinetralisasi dan bila lapisan luar mukosa tidak memberikan perlindungan asam
hidroklorida bersama dengan pepsin akan merusak lambung. Asam hidroklorida
kontak hanya dengan sebagian kecil permukaan lambung. Kemudian menyebar ke
dalamnya dengan lambat. Mukosa yang tidak dapat dimasuki disebut barier mukosa
lambung. Barier ini adalah pertahanan untama lambung terhadap pencernaan yang
dilakukan oleh sekresi lambung itu sendiri. Factor lain yang mempengaruhi
pertahanan adalah suplai darah, keseimbangan asam basa, integritas sel mukosa,
dan regenerasi epitel. Oleh karena itu, seseorang mungkin mengalami ulkus
peptikum karena satu dari dua factor ini :
a. Hipersekresi asam pepsin
b. Kelemahan barier mukosa
lambung
Apapun yang menurunkan yang
mukosa lambung atau yang merusak mukosa lambung adalah ulserogenik, salisilat
dan obat antiinflamasi non steroid lain, alcohol, dan obat antiinflamasi masuk
dalam kategori ini.
Sindrom Zollinger-Ellison
(gastrinoma) dicurigai bila pasien datang dengan ulkus peptikum berat atau
ulkus yang tidak sembuh dengan terapi medis standar. Sindrom ini diidentifikasi
melalui temuan berikut : hipersekresi getah lambung,
ulkus duodenal, dan gastrinoma(tumor sel istel) dalam pancreas. 90% tumor
ditemukan dalam gastric triangle yang mengenai kista dan duktus koledokus,
bagian kedua dan tiga dari duodenum, dan leher korpus pancreas. Kira-kira ⅓
dari gastrinoma adalah ganas(maligna).
Diare dan
stiatore(lemak yang tidak diserap dalam feces)dapat ditemui. Pasien ini dapat mengalami adenoma paratiroid koeksisten atau hyperplasia, dan karenanya dapat
menunjukkan tanda hiperkalsemia. Keluhan pasien paling utama adalah nyeri
epigastrik. Ulkus stress adalah istilah yang diberikan pada ulserasi mukosa
akut dari duodenal atau area lambung yang terjadi setelah kejadian penuh stress
secara fisiologis. Kondisi stress seperti luka bakar, syok, sepsis berat, dan
trauma dengan organ multiple dapat menimbulkan ulkus stress. Endoskopi
fiberoptik dalam 24 jam setelah cedera menunjukkan erosi dangkal pada lambung,
setelah 72 jam, erosi lambung multiple terlihat. Bila kondisi stress berlanjut
ulkus meluas. Bila pasien sembuh, lesi sebaliknya. Pola ini khas pada ulserasi
stress.
Pendapat lain yang
berbeda adalah penyebab lain dari ulserasi mukosa. Biasanya ulserasi mukosa
dengan syok ini menimbulkan penurunan aliran darah mukosa lambung. Selain itu
jumlah besar pepsin dilepaskan. Kombinasi iskemia, asam dan pepsin menciptakan
suasana ideal untuk menghasilkan ulserasi. Ulkus stress harus dibedakan dari ulkus cushing dan ulkus curling, yaitu dua tipe lain dari ulkus lambung.
Ulkus cushing umum terjadi pada pasien dengan trauma otak. Ulkus ini dapat
terjadi pada esophagus, lambung, atau duodenum, dan biasanya lebih dalam dan
lebih penetrasi daripada ulkus stress. Ulkus curling sering terlihat kira-kira
72 jam setelah luka bakar luas.
E.
Komplikasi
Sebagian
besar ulkus bisa disembuhkan tanpa disertai komplikasi lanjut. Tetapi pada
beberapa kasus, ulkus peptikum bisa menyebabkan komplikasi yang bisa berakibat
fatal, seperti penetrasi, perforasi, perdarahan dan penyumbatan. (Medicastore
News)
1.
Penetrasi
Sebuah ulkus dapat menembus dinding otot dari lambung atau duodenum dan sampai ke organ lain yang berdekatan, seperti hati atau pankreas. Hal ini akan menyebabkan nyeri tajam yang hebat dan menetap, yang bisa dirasakan diluar daerah yang terkena (misalnya di punggung, karena ulkus duodenalis telah menembus pankreas). Nyeri akan bertambah jika penderita merubah posisinya. Jika pemberian obat tidak berhasil mengatasi keadaan ini, mungkin perlu dilakukan pembedahan.
2.
Perforasi
Ulkus di permukaan depan duodenum atau (lebih jarang) di lambung bisa menembus dindingnya dan membentuk lubang terbuka ke rongga perut. Nyeri dirasakan secara tiba-tiba, sangat hebat dan terus menerus, dan dengan segera menyebar ke seluruh perut. Penderita juga bisa merasakan nyeri pada salah satu atau kedua bahu, yang akan bertambah berat jika penderita menghela nafas dalam. Perubahan posisi akan memperburuk nyeri sehingga penderita seringkali mencoba untuk berbaring mematung. Bila ditekan, perut terasa nyeri. Demam menunjukkan adanya infeksi di dalam perut. Jika tidak segera diatasi bisa terjadi syok. Keadaan ini memerlukan tindakan pembedahan segera dan pemberian antibiotik intravena.
3.
Perdarahan
Perdarahan adalah komplikasi yang paling sering terjadi. Gejala dari perdarahan karena ulkus adalah:
a.
muntah darah segar atau gumpalan coklat kemerahan yang berasal dari makanan
yang sebagian telah dicerna, yang menyerupai endapan kopi
b.
tinja berwarna kehitaman atau tinja berdarah.
Dengan endoskopi dilakukan kauterisasi ulkus. Bila sumber
perdarahan tidak dapat ditemukan dan perdarahan tidak hebat, diberikan
pengobatan dengan antagonis-H2 dan antasid. Penderita juga dipuasakan dan
diinfus, agar saluran pencernaan dapat beristirahat.
Bila perdarahan hebat atau menetap, dengan endoskopi dapat disuntikkan bahan yang bisa menyebabkan pembekuan. Jika hal ini gagal, diperlukan pembedahan.
Bila perdarahan hebat atau menetap, dengan endoskopi dapat disuntikkan bahan yang bisa menyebabkan pembekuan. Jika hal ini gagal, diperlukan pembedahan.
4.
Penyumbatan.
Pembengkakan
atau jaringan yang meradang di sekitar ulkus atau jaringan parut karena ulkus
sebelumnya, bisa mempersempit lubang di ujung lambung atau mempersempit
duodenum. Penderita akan mengalami muntah berulang, dan seringkali memuntahkan
sejumlah besar makanan yang dimakan beberapa jam sebelumnya.
Gejala lainnya
adalah rasa penuh di perut, perut kembung dan berkurangnya nafsu makan.
Lama-lama muntah bisa menyebabkan penurunan berat badan, dehidrasi dan ketidakseimbangan
mineral tubuh. Mengatasi ulkus bisa mengurangi penyumbatan, tetapi penyumbatan
yang berat memerlukan tindakan endoskopik
atu pembedahan.
F.
Pemeriksaan Penunjang
Nyeri lambung yang khas
merupakan petunjuk adanya ulkus. Diperlukan beberapa pemeriksaan untuk
memperkuat diagnosis karena kanker lambung juga bisa menyebabkan gejala yang
sama.
- Endoskopi adalah suatu prosedur dimana sebuah selang lentur dimasukkan melalui mulut dan bisa melihat langsung ke dalam lambung. Pada pemeriksaan endoskopi, bisa diambil contoh jaringan untuk keperluan biopsi. Keuntungan dari endoskopi:
a. lebih dapat dipercaya untuk
menemukan adanya ulkus dalam duodenum dan dinding belakang lambung dibandingkan
dengan pemeriksaan rontgen
b. lebih bisa diandalkan pada
penderita yang telah menjalani pembedahan lambung
c. bisa digunakan untuk
menghentikan perdarahan karena ulkus.
2.
Rontgen dengan kontras barium dari
lambung dan duodenum (juga disebut barium
swallow atau seri saluran pencernaan atas) dilakukan jika ulkus tidak
dapat ditemukan dengan endoskopi.
- Analisa lambung
merupakan suatu prosedur dimana cairan lambung dihisap secara langsung
dari lambung dan duodenum sehingga jumlah asam bisa diukur.
Prosedur ini dilakukan hanya jika ulkusnya berat atau berulang atau sebelum dilakukannya pembedahan. - Pemeriksaan darah tidak dapat menentukan adanya ulkus, tetapi hitung jenis darah bisa menentukan adanya anemia akibat perdarahan ulkus. Pemerisaan darah lainnya bisa menemukan adanya Helicobacter pylori.
G.
Pengobatan
Salah satu segi pengobatan
ulkus duodenalis atau ulkus gastrikum adalah menetralkan atau mengurangi
keasaman lambung. Proses ini dimulai dengan menghilangkan iritan lambung
(misalnya obat anti peradangan non-steroid, alkohol dan nikotin).
Makanan cair tidak mempercepat penyembuhan maupun mencegah kambuhnya ulkus.
Tetapi penderita hendaknya menghindari makanan yang tampaknya menyebabkan
semakin memburuknya nyeri dan perut kembung.
1.
ANTASID
Antasid mengurangi gejala, mempercepat penyembuhan dan mengurangi jumlah angka kekambuhan dari ulkus. Sebagian besar antasid bisa diperoleh tanpa resep dokter.
Kemampuan antasid dalam menetralisir asam lambung bervariasi berdasarkan jumlah antasid yang diminum, penderita dan waktu yang berlainan pada penderita yang sama.
Pemilihan antasid biasanya berdasarkan kepada rasa, efek terhadap saluran pencernaan, harga dan efektivitasnya. Tablet mungkin lebih disukai, tetapi tidak seefektif obat sirup.
Antasid mengurangi gejala, mempercepat penyembuhan dan mengurangi jumlah angka kekambuhan dari ulkus. Sebagian besar antasid bisa diperoleh tanpa resep dokter.
Kemampuan antasid dalam menetralisir asam lambung bervariasi berdasarkan jumlah antasid yang diminum, penderita dan waktu yang berlainan pada penderita yang sama.
Pemilihan antasid biasanya berdasarkan kepada rasa, efek terhadap saluran pencernaan, harga dan efektivitasnya. Tablet mungkin lebih disukai, tetapi tidak seefektif obat sirup.
a. Antasid
yang dapat diserap.
Obat ini
dengan segera akan menetralkan seluruh asam lambung.
Yang paling kuat adalah natrium bikarbonat dan kalsium karbonat, yang efeknya dirasakan segera setelah obat diminum.
Yang paling kuat adalah natrium bikarbonat dan kalsium karbonat, yang efeknya dirasakan segera setelah obat diminum.
Obat ini
diserap oleh aliran darah, sehingga pemakaian terus menerus bisa menyebabkan
perubahan dalam keseimbangan asam-basa darah dan menyebabkan terjadinya alkalosis
(sindroma alkali-susu). Karena itu obat ini biasanya tidak digunakan
dalam jumlah besar selama lebih dari beberapa hari.
b. Antasid
yang tidak dapat diserap.
Obat ini
lebih disukai karena efek sampingnya lebih sedikit, tidak menyebabkan alkalosis.
Obat ini berikatan dengan asam lambung membentuk bahan yang bertahan di dalam
lambung, mengurangi aktivitas cairan-cairan pencernaan dan mengurangi gejala
ulkus tanpa menyebabkan alkalosis. Tetapi antasid ini mempengaruhi
penyerapan obat lainnya (misalnya tetracycllin, digoxin dan zat besi) ke dalam darah.
c. Alumunium
Hdroksida
Merupakan
antasid yang relatif aman dan banyak digunakan. Tetapi alumunium dapat
berikatan dengan fosfat di dalam saluran pencernaan, sehingga mengurangi kadar
fosfat darah dan mengakibatkan hilangnya nafsu makan dan lemas. Resiko
timbulnya efek samping ini lebih besar pada penderita yang juga alkoholik dan
penderita penyakit ginjal (termasuk yang menjalani hemodialisa). Obat
ini juga bisa menyebabkan sembelit.
d.
Magnesium Hidroksida
Merupakan antasid yang lebih
efektif daripada alumunium hidroksida.
Dosis 4 kali 1-2 sendok makan/hari biasanya tidak akan mempengaruhi kebiasaan buang air besar; tetapi bila lebih dari 4 kali bisa menyebabkan diare.
Sejumla kecil magnesium diserap ke dalam darah, sehingga obat ini harus diberikan dalam dosis kecil kepada penderita yang mengalami kerusakan ginjal.
Banyak antasid yang mengandung magnesium dan alumunium hidroksida.
Dosis 4 kali 1-2 sendok makan/hari biasanya tidak akan mempengaruhi kebiasaan buang air besar; tetapi bila lebih dari 4 kali bisa menyebabkan diare.
Sejumla kecil magnesium diserap ke dalam darah, sehingga obat ini harus diberikan dalam dosis kecil kepada penderita yang mengalami kerusakan ginjal.
Banyak antasid yang mengandung magnesium dan alumunium hidroksida.
2.
OBAT-OBAT ULKUS.
Ulkus biasanya diobati minimal selama 6 minggu dengan obat-obatan yang
mengurangi jumlah asam di dalam lambung dan duodenum. Obat ulkus bisa
menetralkan atau mengurangi asam lambung dan meringankan gejala, biasanya dalam
beberapa hari.
a. Sucralfate.
Cara kerjanya adalah dengan membentuk selaput pelindung di dasar ulkus untuk mempercepat penyembuhan. Sangat efektif untuk mengobati ulkus peptikum dan merupakan pilihan kedua dari antasid. Sucralfate diminum 3-4 kali/hari dan tidak diserap ke dalam darah, sehingga efek sampingnya sedikit, tetapi bisa menyebabkan sembelit.
Cara kerjanya adalah dengan membentuk selaput pelindung di dasar ulkus untuk mempercepat penyembuhan. Sangat efektif untuk mengobati ulkus peptikum dan merupakan pilihan kedua dari antasid. Sucralfate diminum 3-4 kali/hari dan tidak diserap ke dalam darah, sehingga efek sampingnya sedikit, tetapi bisa menyebabkan sembelit.
b.
Antagonis H2
Contohnya adalah cimetidine, ranitidine, famotidine dan nizatidine. Obat ini mempercepat
penyembuhan ulkus dengan mengurangi jumlah asam dan enzim pencernaan di dalam
lambung dan duodenum. Diminum 1 kali/hari dan beberapa diantaranya bisa
diperoleh tanpa resep dokter. Pada pria cimetidine bisa menyebabkan pembesaran
payudara yang bersifat sementara dan jika diminum dalam waktu lama dengan dosis
yang tinggi bisa menyebabkan impotensi. Perubahan mental (terutama pada
penderita usia lanjut), diare, ruam, demam dan nyeri otot telah dilaporkan
terjadi pada 1% penderita yang mengkonsumsi cimetidine. Jika penderita
mengalami salah satu dari efek samping tersebut diatas, maka sebaiknya
cimetidine diganti dengan antagonis H2 lainnya. Cimetidine bisa mempengaruhi
pembuangan obat tertentu dari tubuh (misalnya teofilin untuk asma, warfarin
untuk pembekuan darah dan phenytoin untuk kejang).
c. Penghambat pompa proton ( Omeprazole , Lansoprazole , Rabeprazole , Esomeprazole , Pantoprazole) Merupakan obat yang sangat
kuat menghambat pembentukan enzim yang diperlukan lambung untuk membuat asam.
Obat ini dapat secara total menghambat pelepasan asam dan efeknya berlangsung
lama.
Terutama efektif diberikan kepada penderita esofagitis dengan atau tanpa ulkus esofageal dan penderita penyakit lainnya yang mempengaruhi pembentukan asam lambung (misalnya sindroma Zollinger-Ellison).
Terutama efektif diberikan kepada penderita esofagitis dengan atau tanpa ulkus esofageal dan penderita penyakit lainnya yang mempengaruhi pembentukan asam lambung (misalnya sindroma Zollinger-Ellison).
d. Antibiotik.
Digunakan bila penyebab utama terjadinya ulkus adalah Helicobacter pylori.
Pengobatan terdiri dari satu macam atau lebih antibiotik dan obat untuk mengurangi atau menetralilsir asam lambung. Yang paling banyak digunakan adalah kombinasi bismut subsalisilat (sejenis sucralfate) dengan tetracyclin dan metronidazole atau amoxycillin , Clarithromycin. Kombinasi efektif lainnya adalah omeprazole dan antibiotik. Pengobatan ini bisa mengurangi gejala ulkus, bahkan jika ulkus tidak memberikan respon terhadap pengobatan sebelumnya atau jika ulkus sering mengalami kekambuhan.
Digunakan bila penyebab utama terjadinya ulkus adalah Helicobacter pylori.
Pengobatan terdiri dari satu macam atau lebih antibiotik dan obat untuk mengurangi atau menetralilsir asam lambung. Yang paling banyak digunakan adalah kombinasi bismut subsalisilat (sejenis sucralfate) dengan tetracyclin dan metronidazole atau amoxycillin , Clarithromycin. Kombinasi efektif lainnya adalah omeprazole dan antibiotik. Pengobatan ini bisa mengurangi gejala ulkus, bahkan jika ulkus tidak memberikan respon terhadap pengobatan sebelumnya atau jika ulkus sering mengalami kekambuhan.
e.
Misoprostol.
Digunakan untuk mencegah ulkus gastrikum yang disebabkan oleh obat-obat anti peradangan non-steroid. Obat ini diberikan kepada penderita artritis yang mengkonsumsi obat anti peradangan non-steroid dosis tinggi. Tetapi obat ini tidak digunakan pada semua penderita artritis tersebut karena menyebabkan diare (pada 30% penderita).
Digunakan untuk mencegah ulkus gastrikum yang disebabkan oleh obat-obat anti peradangan non-steroid. Obat ini diberikan kepada penderita artritis yang mengkonsumsi obat anti peradangan non-steroid dosis tinggi. Tetapi obat ini tidak digunakan pada semua penderita artritis tersebut karena menyebabkan diare (pada 30% penderita).
H.
Asuhan Keperawatan pada Pasien Ulkus Peptikum
1. Pengkajian Data Klien
a. Aktivitas/istirahat : gejala
dan tanda yang mungkin ditemui kelemahan, kelelahan, takikardia, takipnea.
b. Sirkulasi : gejala dan tanda
yang mungkin ditemui adalah takikardi, disritmia, pengisian kapiler
lambat/perlahan, warna kulit pucat, sianosis dan berkeringat.
c. Integritas ego : gejala dan
tanda meliputi stress akut dan kronis, perasaan tidak berdaya, gelisah, pucat,
berkeringat, rentang perhatian menyempit, gemetar.
d. Eliminasi : gejala dan tanda
meliputi riwayat perdarahan, perubahan pola defekasi, perubahan karakteristik
feses, nyeri tekan abdomen, distensi, bising otot meningkat, karakteristik
feses (terdapat darah, berbusa, bau busuk), konstipasi (perubahan diet dan
penggunaan antasida).
e. Makanan/cairan : gejala dan
tanda meliputi anoreksia, mual, muntah (warna kopi gelap atau merah), nyeri ulu
hati, sendawa, intoleransi terhadap makanan, berat badan menurun.
f. Nyeri/keamanan : gejala dan
tanda meliputi nyeri yang sangat, seperti rasa terbakar, nyeri hilang setelah
makan, nyeri epigastrik kiri ke mid epigastrikdapat menjalar ke punggung.
2.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa
yang mungkin muncul adalah
a.
Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa lambung
b.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan
muntah
c.
Konstipasi berhubungan dengan ketidakadekuatan defekasi
d.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri kronis
e.
Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan
f.
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri
3.
Intervensi
|
Diagnosa keperawatan
|
Tujuan dan criteria hasil (NOC)
|
Intervensi
(NIC)
|
|
Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa lambung.
P : nyeri terjadi saat klien terlambat makan.
Q : klien mengatakan nyeri terasa seperti terbakar.
R : klien mengatakan nyeri terjadi pada epigastrium tengah atau di
punggung.
S : klien mengatakan skala nyeri 8 (1-10).
T : klien mengatakan nyerinya terjadi pada saat dua jam setelah makan.
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, klien dapat
menunjukkan nyeri efek merusak yang ditandai dengan :
- Gangguan
kerja, kepuasan hidup atau kemampuan untuk mengendalikan.
- Penurunan
konsentrasi
- Terganggunya
tidur
- Penurunan
nafsu makan atau kesulitan menelan
- Mengenali
factor penyebab dan menggunakan tindakan untuk mencegah nyeri
|
Pengkajian
1. Gunakan laporan dari pasien
sendiri sebagai pilihan pertama untuk mengumpulkan informasi pengkajian.
2. Dalam mengkaji nyeri pasien,
gunakan kata-kata yang konsisten dengan usia dan tingkat perkembangan pasien
Pendidikan
untuk pasien dan keluarga
3. Instruksikan pasien untuk
menginformasikan kepada perawat jika pengurang nyeri tidak dapat dicapai
4. Informasikan pada pasien
tentang prosedur yang dapat meningkatkan nyeri dan tawarkan saran koping
Aktivitas
lain
5. Bantu pasien untuk lebih
berfokus pada aktifitas daripada nyeri/ ketidaknyamanan dengan melakukan
pengalihan melalui televisi, radio, tape dan kunjungan.
|
|
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan
muntah
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, klien dapat
menunjukkan status gizi : asupan makanan dan cairan yang ditandai dengan :
- Mempertahankan massa tubuh dan berat badan dalam batas normal
- Melaporkan keadekuatan tingkat energy.
|
Pengkajian
1. Tentukan
motivasi pasien untuk mengubah kebiasaan makan.
2. Tentukan
kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
Pendidikan
untuk pasien/keluarga
3. Ajarkan
pasien tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal
4. Berikan
informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhuinya.
Aktivitas
kolaboratif
5. Tentukan
dengan melakukan kolaborasi bersama ahli gizi, secara tepat jumlah kalori dan
jenis zat gizi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
Aktivitas
Lain
6. Tawarkan makanan porsi besar
disiang hari ketika nafsu makan tinggi.
7. Bantu makan, sesuai dengan
kebutuhan
|
|
Konstipasi berhubungan dengan ketidakadekuatan defekasi
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, klien dapat
menunjukkan kemampuan eliminasi defekasi yang ditandai dengan :
- Pola eliminasi dalam rentang
yang diharapkan; feses lembut dan terbentuk
- Mengkonsumsi cairan dan
serat dengan adekuat
- Melaporkan keluarnya feses
dengan berkurangnya nyeri dan mengejan.
|
Pengkajian
1. Dapatkan
data dasar pada program defekasi, aktivitas, pengobatan, dan pola kebiasaan
pasien
Pendidikan
untuk pasien/keluarga
2. Tekankan
penghindaran mengejan selama defekasi untuk mencegah perubahan pada tanda
vital, sakit kepala atau pendarahan
Aktivitas
Kolaboratif
3. Minta
program dari dokter untuk memberikan bantuan eliminasi, seperti diet tinggi
serat, pelembut feses, enema dan laksatif.
Aktivitas Lain
4. Anjurkan
pasien untuk meminta obat nyeri sebelum defekasi untuk memudahkan keluarnya
feses tanpa nyeri.
5. Anjurkan
aktivitas optimal untuk merangsang eliminasi defekasi pasien.
|
|
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri kronis
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, klien dapat
melakukan perawatan diri : aktivitas kehidupan sehari – hari yang ditandai
dengan :
- Mengidentifikasi aktivitas dan/atau situasi yang menimbulkan kecemasan
yang berkontribusi pada intoleransi aktivitas.
|
Pengkajian
1. Evaluasi
motivasi dan keinginan pasien untuk meningkatkan aktivitas
2. Pantau
asupan nutrisi untuk memastikan keadekuatan sumber – sumber energy.
Pendidikan untuk Pasien/keluarga
3. Instruksikan
kepada pasien/keluarga dalam penggunaan tekhnik relaksasi.
Aktivitas Kolaboratif
4. Berikan
pengobatan nyeri sebelum aktivitas
Aktivitas Lain
5. Hindari
menjadwalkan aktivitas perawatan selama periode istirahat
6. Bantu
pasien untuk mengubah posisi secara berkala, bersandar, duduk, berdiri, dan
ambulasi yang dapat ditoleransi.
|
|
Gangguan
pola tidur berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamana.
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, klien dapat
menunjukkan pola tidur yang normal yang ditandai dengan :
- Tidak ada masalah dengan pola, kualitas, dan rutinitas tidur atau
istirahat.
- Mengidentifikasi tindakan yang dapat meningkatkan tidur atau istirahat
|
Pengkajian
1. Tentukan
efeksamping pengobatan pada pola tidur pasien.
2. Pantau
pola tidur pasien dan catat hubungan faktor-faktor fisik.
Pendidikan
Pasien/Keluarga
3. Jelaskan
pentingnya tidur yang adekuat.
4. Ajarkan
pasien dan orang lain tentang faktor-faktor yang dapat berpengaruh pada
gangguan pola tidur.
Aktivitas kolaboratif
5. Diskusikan
dengan dokter tentang perlunya meninjau kembali program pengobatan jika
berpengaruh pada pola tidur.
Aktivitas lain
6. Fasilitasi
untuk mempertahankan rutinitas waktu tidur pasien.
7. Ajarkan
pasien untuk menghindari makanan dan minuman pada jam tidur yang dapat
mengganggu tidurnya.
|
|
Hambatan
mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, klien dapat
melakukan perawatan diri : aktivitas kehidupan sehari – hari yang ditandai
dengan :
- Melakukan aktivitas kehidupan sehari – hari secara mandiri dengan alat
bantu
- Meminta bantuan untuk aktivitas mobilisasi, jika diperlukan
|
Pengkajian
1. Kaji
kebutuhan akan bantuan pelayanan kesehatan di rumah dan kebutuhan akan
peralatan pengobatan yang tahan lama
2. Ajarkan
pasien tentang dan pantau penggunaan alat bantu mobilitas
3. gunakan ahli terapi fisik / okupasi sebagai suatu sumber untuk
pengembangan perencanaan dan mempertahankan / meningkatkan mobilitas.
4. awasi seluruh kegiatan mobilitas dan bantu pasien,jika di perlukan.
|
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Ulkus
peptikum adalah kerusakan selaput lendir karena factor – factor psikosomatis,
toksin, ataupun kuman – kuman Streptococcus.
Faktor psikosomatis (missal ketakutan, kecemasan, kelelahan, keinginan
berlebihan) dapat merangsang sekresi HCL berlebihan. HCL akan merusak selaput
lendir lambung. Ulkus peptikum disebut juga penyakit mag.
Ulkus
duodenalis, merupakan
jenis ulkus peptikum yang paling banyak ditemukan, terjadi pada duodenum
(usus dua belas jari), yaitu beberapa sentimeter pertama dari usus halus, tepat
dibawah lambung.
Ulkus
gastrikum lebih jarang ditemukan, biasanya terjadi di sepanjang lengkung atas
lambung.
Jika sebagian dari lambung telah diangkat, bisa terjadi ulkus marginalis, pada daerah dimana lambung yang tersisa telah disambungkan ke usus.
Jika sebagian dari lambung telah diangkat, bisa terjadi ulkus marginalis, pada daerah dimana lambung yang tersisa telah disambungkan ke usus.

DAFTAR
PUSTAKA
Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. 2011. Gangguan
Gastrointestinal. Jakarta : Salemba Medika
Pratiwi, D.A dkk. 2006. Biologi SMA
Jilid 2 untuk Kelas XI. Jakarta : Erlangga.
http://medicastore.com/penyakit/531/Ulkus_Peptikum.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar