Askep
Kebutuhan Oksigenasi
Ol/
Juliardinsyah
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Oksigenasi
merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling mendasar yang digunakan untuk
kelangsungan metabolisme sel tubuh, mempertahankan hidup dan aktifitas berbagai
organ sel tubuh.
Dalam kaitannya pemenuhan
kebutuhan oksigenasi tidak terlepas dari peranan fungsi sisitem pernafasan dan
kardiovaskuler yang menyuplai kebutuhan oksigen tubuh. Dan dalam
implementasinya mahasiswa keperawatan diharapkan lebih memahami tentang apa
oksigenasi, bagaimana proses keperawatan pada klien dengan gangguan oksigenasi
dan bagaimana praktik keperawatan yang mengalami masalah atau gangguan
oksigenasi.
B.
TUJUAN
- Tujuan Umum
Tujuan umum penyusunan makalah ini adalah agar mahasiswa
khususnya mahasiswa S1 keperawatan, mampu mengingat kembali (review) mengenai
konsep pemenuhan kebutuhan oksigenasi dan praktek keperawatan yang bisa
diimplementasikan pada klien yang mengalami gangguan oksigenasi
- Tujuan Khusus
Tujuan khusus penyusunan makalah ini
adalah agar mahasiswa lebih memahami :
· Pengertian
Oksigenasi
· Tujuan
pemberian oksigenasi
· Anatomi sistem
pernafasan
· Fisiologi
sistem pernafasan
· Faktor-faktor yang memengaruhi
kebutuhan oksigen
·
Perubahan
Fungsi pernapasan
KONSEP DASAR
A. Pengertian
Oksigen adalah salah satu kebutuhan
yang paling vital bagi tubuh. Otak masih mampu mentoleransi kekurangan
oksigen antara 3-5 menit. Apabila kekurangan oksigen berlangsung lebih dari 5
menit, maka terjadi kerusakan sel otak secara permanen.. Selain itu oksigen digunakan oleh sel tubuh untuk mempertahankan
kelangsungan metabolisme sel. Oksigen akan digunakan dalam metabolisme sel
membentuk ATP (Adenosin Trifosfat) yang merupakan sumber energi bagi sel tubuh
agar berfungsi secara optimal.
Oksigenasi adalah memenuhi kebutuhan oksigen dalam tubuh
dengan cara melancarkan saluran masuknya oksigen atau memberikan aliran gas
oksigen (O2) sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam tubuh.
Oksigenasi adalah memberikan aliran gas
oksigen (O2) lebih dari 21 % pada tekanan 1 atmosfir sehingga konsentrasi
oksigen meningkat dalam tubuh.
B. Tujuan
pemberian oksigenasi
Prosedur pemenuhan kebutuhan oksigen
dapat dilakukan dengan pemberian oksigen dengan menggunakan kanula dan masker,
fisioterapi dada, dan cara penghisapan lendir (suction)
Tujuan :
1.
Untuk
mempertahankan oksigen yang adekuat pada jaringan
2.
Untuk
menurunkan kerja paru-paru
3.
Untuk
menurunkan kerja jantung
Penyampaian oksigen ke jaringan tubuh ditentukan oleh sistem
respirasi, kardiovaskuler, dan keadaan hematologi.
C. Anatomi Sistem
Pernapasan
1. Saluran Nafas
Atas
a. Hidung
·
Terdiri atas bagian eksternal dan
internal
·
Bagian eksternal menonjol dari wajah
dan disangga oleh tulang hidung dan kartilago
·
Bagian internal hidung adalah rongga
berlorong yang dipisahkan menjadi rongga hidung kanan dan kiri oleh pembagi
vertikal yang sempit, yang disebut septum
·
Rongga hidung dilapisi dengan membran
mukosa yang sangat banyak mengandung vaskular yang disebut mukosa hidung
·
Permukaan mukosa hidung dilapisi oleh
sel-sel goblet yang mensekresi lendir secara terus menerus dan bergerak ke
belakang ke nasofaring oleh gerakan silia
·
Hidung berfungsi sebagai saluran untuk
udara mengalir ke dan dari paru-paru
·
Hidung juga berfungsi sebagai penyaring
kotoran dan melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirup ke dalam
paru-paru
·
Hidung juga bertanggung jawab terhadap
olfaktori (penghirup) karena reseptor olfaktori terletak dalam mukosa hidung,
dan fungsi ini berkurang sejalandengan pertambahan usia.
b.
Faring
·
Faring atau tenggorok merupakan
struktur seperti tuba yang menghubungkan hidung dan rongga mulut ke laring
·
Faring dibagi menjadi tiga region :
nasal (nasofaring), oral (orofaring), dan laring (laringofaring)
·
Fungsi faring adalah untuk menyediakan
saluran pada traktus respiratorius dan digestif
c.
Laring
·
Laring atau organ suara merupakan
struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan trakea
·
Laring sering disebut sebagai kotak
suara dan terdiri atas:
o
Epiglotis Adalah daun katup kartilago yang menutupi
ostium ke arah laring selama menelan
o
Glotis adalah ostium antara
pita suara dalam laring
o
Kartilago tiroid : kartilago
terbesar pada trakea, sebagian dari kartilago ini membentuk jakun (Adam's
apple)
o
Kartilago krikoid : satu-satunya
cincin kartilago yang komplit dalam laring (terletak di bawah kartilago tiroid)
o
Kartilago aritenoid : digunakan dalam
gerakan pita suara dengan kartilago tiroid
o
Pita suara : ligamen yang dikontrol oleh gerakan
otot yang menghasilkan bunyi suara (pita suara melekat pada lumen laring)
·
Fungsi utama laring adalah untuk
memungkinkan terjadinya vokalisasi
·
Laring juga berfungsi melindungi jalan
nafas bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batu
d.
Trakea
o
Disebut juga batang tenggorok
o
Ujung trakea bercabang menjadi dua
bronkus yang disebut karina
- Saluran Nafas Bawah
a.
Bronkus
o
Terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri
o
Disebut bronkus lobaris kanan (3 lobus)
dan bronkus lobaris kiri (2 bronkus)
o
Bronkus lobaris kanan terbagi menjadi
10 bronkus segmental dan bronkus lobaris kiri terbagi menjadi 9 bronkus
segmental
o
Bronkus segmentalis ini kemudian
terbagi lagi menjadi bronkus subsegmental yang dikelilingi oleh jaringan ikat
yang memiliki : arteri, limfatik dan saraf
b. Bronkiolus
o
Bronkus segmental bercabang-cabang
menjadi bronkiolus
o
Bronkiolus mengadung kelenjar submukosa
yang memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus untuk melapisi
bagian dalam jalan napas
c. Bronkiolus Terminalis
o
Bronkiolus membentuk percabangan
menjadi bronkiolus terminalis (yang tidak mempunyai kelenjar lendir dan silia)
d. Bronkiolus respiratori
o
Bronkiolus terminalis kemudian menjadi
bronkiolus respiratori
o
Bronkiolus respiratori dianggap sebagai
saluran transisional antara jalan napas konduksi dan jalan udara pertukaran gas
e. Duktus alveolar dan Sakus alveolar
o
Bronkiolus respiratori kemudian
mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus alveolar
o
Dan kemudian menjadi alveoli
f. Alveoli
o
Merupakan tempat pertukaran O2 dan CO2
o
Terdapat sekitar 300 juta yang jika
bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2
o
Terdiri atas 3 tipe :
1)
Sel-sel alveolar tipe I : adalah sel
epitel yang membentuk dinding alveoli
2)
Sel-sel alveolar tipe II : adalah sel
yang aktif secara metabolik dan mensekresi surfaktan (suatu fosfolipid yang
melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps)
3)
Sel-sel alveolar tipe III : adalah
makrofag yang merupakan sel-sel fagotosis dan bekerja sebagai mekanisme
pertahanan
g. Paru-paru
o
Merupakan organ yang elastis berbentuk
kerucut
o
Terletak dalam rongga dada atau toraks
o
Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum
sentral yang berisi jantung dan beberapa pembuluh darah besar
o
Setiap paru mempunyai apeks dan basis
o
Paru kanan lebih besar dan terbagi
menjadi 3 lobus oleh fisura interlobaris
o
Paru kiri lebih kecil dan terbagi
menjadi 2 lobus
o
Lobos-lobus tersebut terbagi lagi
menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen bronkusnya
h. Pleura
o
Merupakan lapisan tipis yang mengandung
kolagen dan jaringan elastis
o
Terbagi mejadi 2 :
1) Pleura parietalis yaitu yang melapisi
rongga dada
2)
Pleura
viseralis yaitu yang menyelubingi setiap paru-paru
o
Diantara pleura terdapat rongga pleura yang
berisi cairan tipis pleura yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan itu
bergerak selama pernapasan, juga untuk mencegah pemisahan toraks dengan
paru-paru
o
Tekanan dalam rongga pleura lebih
rendah dari tekanan atmosfir, hal ini untuk mencegah kolap paru-paru
D. Fisiologi
Sistem Pernapasan
Bernafas/pernapasan
merupkan proses pertukaran udara diantara individu dan lingkungannya dimana O2
yang dihirup (inspirasi) dan CO2 yang dibuang (ekspirasi).
Sistem pernapasan terdiri atas organ
pertukaran gas yaitu paru-paru dan sebuah pompa ventilasi yang terdiri atas
dinding dada, otot-otot pernapasan, diafragma, isi abdomen, dinding abdomen,
dan pusat pernapasan di otak. Pada keadaan istirahat frekuensi pernapasan
antara 12-15 kali per menit.
Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1. Ventilasi
yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke
paru-paru atau sebaliknya.
Proses keluar masuknya udara paru-paru tergantung pada
perbedaan tekanan antara udara atmosfir dengan alveoli. Pada inspirasi, dada
,mengembang, diafragma turun dan volume paru bertambah. Sedangkan ekspirasi
merupakan gerakan pasif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :
a.
Tekanan udara
atmosfir
b.
Jalan nafas
yang bersih
c. Pengembangan paru yang adekuat
2. Difusi
yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida)
antara alveolus dan kapiler paru-paru.
Proses keluar masuknya udara yaitu dari darah yang
bertekanan/konsentrasi lebih besar ke darah dengan tekanan/konsentrasi yang
lebih rendah. Karena dinding alveoli sangat tipis dan dikelilingi oleh jaringan
pembuluh darah kapiler yang sangat rapat, membran ini kadang disebut membran
respirasi.
Perbedaan tekanan pada gas-gas yang terdapat pada
masing-masing sisi membran respirasi sangat mempengaruhi proses difusi. Secara
normal gradien tekanan oksigen antara alveoli dan darah yang memasuki kapiler
pulmonal sekitar 40 mmHg.
Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :
a.
Luas permukaan
paru
b.
Tebal membran
respirasi
c.
Jumlah darah
d. Keadaan/jumlah kapiler dara
e.
Afinitas
f. Waktu adanya udara di alveoli
3. Transpor
yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel
jaringan tubuh dan sebaliknya karbondioksida dari jaringan tubuh ke kapiler.
Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 % oksigen akan berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke jaringan sebagai oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel-sel.
Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 % oksigen akan berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke jaringan sebagai oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel-sel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi :
a. Curah jantung
(cardiac Output / CO)
b. Jumlah sel
darah merah
c. Hematokrit
darah
d. Latihan
(exercise)
e. Keadaan pembuluh darah
Penyampaian
oksigen ke jaringan tubuh ditentukan oleh system respirasi, kardiovaskuler, dan
keadaan hematologi.
·
Sistem Respirasi
Sistem
pernapasan terdiri atas organ pertukaran gas yaitu paru-paru dan sebuah pompa ventilasi yang terdiri atas dinding dada,
otot-otot pernapasan, diafragma, isi abdomen, dinding abdomen dan pusat pernapasan di
otak.
Bernafas adalah pergerakan udara dari atmosfer ke sel tubuh dan pengeluaran CO2 dari sel tubuh sampai ke luar tubuh. Ada tiga langkah dalam proses oksigenasi yaitu ventilasi, perfusi paru dan difusi.
Bernafas adalah pergerakan udara dari atmosfer ke sel tubuh dan pengeluaran CO2 dari sel tubuh sampai ke luar tubuh. Ada tiga langkah dalam proses oksigenasi yaitu ventilasi, perfusi paru dan difusi.
· Sistem
kardiovaskuler
Kemampuan oksigenasi pada jaringan sangat dipengaruhi oleh fungsi jantung
untuk memompa darah sebagai transport oksigen. Darah masuk ke atrium kiri dari
vena pulmonaris. Aliran darah keluar dari ventrikel kiri menuju aorta melalui
katup aorta. Kemudian dari aorta darah disalurkan ke seluruh sirkulasi sistemik
melalui arteri, arteriol, dan kapiler serta menyatu kembali membentuk vena yang
kemudian dialirkan ke jantung melalui atrium kanan. Darah dari atrium kanan
masuk dalam ventrikel kanan melalui katup pulmonalis untuk kemudian dialirkan
ke paru-paru kanan dan kiri untuk berdifusi. Darah mengalir di dalam vena
pulmonalis kembali ke atrium kiri dan bersikulasi secara sistemik berdampak
pada kemampuan transport gas oksigen dan karbon dioksida.
·
Hematologi
Oksigen membutuhkan transport dari paru-paru ke jaringan dan karbon dioksia
dari jaringan ke paru-paru. Sekitar 97% oksigen dalam darah dibawa eritrosit
yang telah berikatan dengan hemoglobin (Hb) dan 3 % oksigen larut dalam plasma.
Setiap sel darah merah mengandung 280 juta molekul Hb dan setiap molekul dari
keempat molekul besi dalam hemoglobin berikatan dengan satu molekul oksigenasi
membentuk oksihemoglobin (HbO2). Afinitas atau ikatan Hb dengan O2
dipengaruhi oleh suhu, ph, konsentrasi 2,3 difosfogliserat dalam darah merah.
Dengan demikian besarnya Hb dan
jumlah eritrosit akan memengaruhi transport gas.
E. Faktor-faktor yang memengaruhi
kebutuhan oksigen.
1. Faktor Fisiologi
a. Menurunnya
kapasitas pengingatan O2 seperti pada anemia.
b. Menurunnya
konsentrasi O2 yang diinspirasi seperti pada obstruksi saluran napas
bagian atas.
c. Hipovolemia
sehingga tekanan darah menurun mengakibatkan transport O2 terganggu.
d. Meningkatnya
metabolisme seperti adanya infeksi, demam, ibu hamil, luka, dan lain-lain.
e. Kondisi yang
memengaruhi pergerakan dinding dada seperti pada kehamilan, obesitas, muskulus
skeleton yang abnormal, penyalit kronik seperti TBC paru.
2. Faktor Perkembangan
a. Bayi prematur
yang disebabkan kurangnya pembentukan surfaktan.
b. Bayi dan
toddler adanya risiko infeksi saluran pernapasan akut.
c. Anak usia
sekolah dan remaja, risiko infeksi saluran pernapasan dan merokok.
d. Dewasa muda
dan pertengahan : diet yang tidak sehat,
kurang aktivitas, stress yang mengakibatkan penyakit jantung dan paru-paru.
e. Dewasa tua :
adanya proses penuaan yang mengakibatkan kemungkinan arteriosklerosis,
elastisitas menurun, ekspansi paru menurun.
3. Faktor Perilaku
a. Nutrisi :
misalnya pada obesitas mengakibatkan penurunan ekspansi paru, gizi yang buruk
menjadi anemia sehingga daya ikat oksigen berkurang, diet yang tinggi lemak menimbulkan
arterioklerosis.
b. Exercise
akan meningkatkan kebutuhan oksigen.
c. Merokok :
nikotin menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah perifer dan koroner.
d. Substansi
abuse (alcohol dan obat-obatan) : menyebabkan intake nutrisi/Fe menurun
mengakibatkan penurunan hemoglobin, alcohol, menyebabkan depresi pusat pernapasan.
e. Kecemasan :
menyebabkan metabolism meningkat
4. Faktor Lingkungan
a. Tempat kerja
b. Suhu
lingkungan
c. Ketinggian
tempat dan permukaan laut.
Perubahan-perubahan fungsi jantung yang memengaruhi
kebutuhan oksigenasi :
1.
Gangguan kondiksi seperti distritmia
(takikardia/bradikardia).
2.
Perubahan cardiac output, menurunnya cardiac output
seoerti pada pasien dekom menimbulkan hipoksia jaringan.
3.
Kerusakan fungsi katup seperti pada stenosis,
obstruksi, regurgitasi darah yang mengakibatkan ventrikel bekerja lebih keras.
4.
Myocardial iskhemial infark mengakibatkan kekurangan
pasokan darah dari arteri koroner ke miokardium.
F. Perubahan Fungsi pernapasan
1. Hiperventilasi
Merupakan upaya tubuh dalam meningkatkan jumlah O2 dalam
paru-paru agar pernapasan lebih cepat dan dalam. Hiperventilasi dapat
disebabkan karena :
a. Kecemasan
b. Infeksi/sepsis
c. Keracunan obat-obatan
d. Ketidakseimbangan asam basa seperti
pada asidosis metabolic.
Tanda-tanda dan gejala hiperventilasi
adalah takikardia, napas pendek, nyeri dada (chest pain), menurunkan
konsentrasi, disorientasi , tinnitus.
2. Hipoventilasi
Hivoventilasi terjadi ketika ventilasi alveolar tidak adekuat untuk
memenuhi penggunaan O2 tubuh atau untuk mengeluarkan CO2
dengan cukup. Biasanya terjadi pada keadaan atelektasis (kolaps paru).
Tanda-tanda dan gejala pada keadaan hipoventilasi adalah nyeri kepala,
penurunan kesadaran, disorientasi, kardiakdistritmia, ketidakseimbangan
elektrolit, kejang dan kardiak arrest.
3. Hipoksia
Tidak adekuatnya pemenuhan O2 seluler akibat dari defisiensi O2
yang diinspirasi atau meningkatkan penggunaan O2 pada tingkat
seluler. Hipoksia dapat disebabkan oleh :
a. Menurunnya hemoglobin
b. Berkurangnya konsentrasi O2
jika berada di puncak gunung.
c. Ketidakmampuan jaringan mengikat O2
seperti pada keracunan sianida.
d. Menurunnya difusi O2 dari
alveoli ke dalam darah seperti pneumonia.
e. Menurunnya perfusi jaringan seperti
pada syok.
f. Kerusakan/gangguan ventilasi.
Tanda-tanda hipoksia antara lain : kelelahan, kecemasan, menurunnya
kemampuan konsentrasi, nadi meningkat, pernapasan cepat dan dalam, sianosis,
sesak napas, dan clubbing.
G. Gangguan Oksigenasi
Permasalahan
dalam hal pemenuhan kebutuhan oksigen tidak terlepas dari adanya gangguan yang
terjadi pada sistem respirasi baik pada anatomi maupun fisiologi dari organ-organ
respirasi.
Gangguan pada sistem respirasi dapat disebabkan diantaranya oleh karena peradangan, obstruksi, trauma, kanker, degeneratif, dan lain-lain. Gangguan tersebu akan menyebabkan kebutuhan oksigen dalam tubuh tidak terpenuhi secara adekuat. Secara garis besar, gangguan respirasi dikelompokkan menjadi tiga. Yaitu:
Gangguan pada sistem respirasi dapat disebabkan diantaranya oleh karena peradangan, obstruksi, trauma, kanker, degeneratif, dan lain-lain. Gangguan tersebu akan menyebabkan kebutuhan oksigen dalam tubuh tidak terpenuhi secara adekuat. Secara garis besar, gangguan respirasi dikelompokkan menjadi tiga. Yaitu:
a)
Gangguan irama/frekuensi pernapasan
1. Gangguan irama pernafasan antara lain :
1. Gangguan irama pernafasan antara lain :
a. Pernafasan 'cheyne-stokes' yaitu siklus pernafasan yang amplitudonya mula-mula
dangkal, makin naik kemudian makin menurun dan berhenti. Lalu pernafasan
dimulai lagi dengan siklus baru. Jenis pernafasan ini biasanya terjadi pada
klien gagal jantung kongesti, peningkatan tekanan intrakranial, overdosis obat.
Namun secara fisiologis, jenis pernafasan ini terutama terdapat pada orang di
ketinggian 12.000-15.000 kaki diatas permukaan laut dan pada bayi saat tidur.
b. Pernafasan 'biot' yaitu pernafasan yang mirip dengan pernafasan cheyne-stokes,
tetapi amplitudonya rata dan disertai apnea, keadaan
pernafasan ini kadang ditemukan pada penyakit radang selaput otak.
c. Pernafasan 'kussmaul' yaitu pernafasan yang jumlah dan kedalaman meningkat
sering melebihi 20 kali/menit. Jenis pernafasan ini dapat ditemukan pada klien
dengan asidosis metabolik dan gagal ginjal.
2. Gangguan
frekuensi pernafasan
a. Takipnea/ hipernea, yaitu frekuensi pernafasan
yang jumlah nya meningkat diatas frekuensi pernafasan normal.
b. Bradipnea, yaitu kebalikan dari takipnea
dimana frekuensi pernafasan yang jumlahnya menurun dibawah frekuensi pernafasan
normal.
b)
Insufisiensi pernafasan
Penyebab insufisiensi pernafasan dapat dibagi
menjadi 3 kelompok yaitu:
1. Kondisi yang menyebabkan hipoventilasi alveolus
1. Kondisi yang menyebabkan hipoventilasi alveolus
2. Kelainan yang menurunkan
kapasitas difusi paru.
3. Kondisi yang menyebabkan terganggunya pengangkutan oksigen dari paru-paru
3. Kondisi yang menyebabkan terganggunya pengangkutan oksigen dari paru-paru
kejaringan.
c) Hipoksia.
Hipoksia adalah kekuranga oksigen dijaringan,
istilah ini lebih tepat daripada anoksia. Sebab jarang terjadi tidak ada
oksigen sama sekali dalam jaringan. Hipoksia dapat dibagi kedalam kelompok
yaitu :
- Hipoksemia
- Hipoksia hipokinetik (stagnant anoksia/anoksia bendunga)
- Overventilasi hipoksia
- Hipoksia histotoksik
H.
Masalah
Keperawatan Berkaitan dengan Kebutuhan Oksigen
Masalah keperawatan yang umum terjadi terkait dengan kebutuhan oksigen ini, antara lain :
- Tidak Efektifnya Jalan Napas
Masalah keperawatan ini menggambarkan kondisi jalan
napas yang tidak bersih, misalnya karna adanya sumbatan, penumpukan
sekret, penyempitan jalan napas oleh karena spasme bronkus, dan lain lain.
- Tidak efektifnya Pola Napas
Tidak efektifnya pola napas ini merupakan suatu
kondisi dimana pola napas, yaitu inspirasi dan ekspirasi, menunjukkan tidak
normal. Penyebab biasanya karena kelemahan neuromuskular, adanya sumbatan
ditrakeobronkhinal, kecemasan dan lain lain.
- Gangguan pertukaran gas
Gangguan pertukaran gas merupakan suatu keadaan
dimana terjadi ketidakseimbangan antara oksigen yang dihirup dengan
karbondioksida yang dikeluarkan pada pertukaran gas antara alveoli dan kapiler.
Penyebabnya bisa karena perubahan membran alveoli, kondisi anemia, proses
penyakit, dan lain-lain
- Penurunan perfusi jaringan
Penurunan perfusi jaringan adalah suatu keadaan
dimana sel kekurangan suplai nutrisi dan oksigen. Penyebabnya dapat terjadi
karena kondisi hipovelemia, hipervolemia, retensi karbon diogsida.
- Intoleransi aktivitas
Intoleransi aktivitas adalah keadaan dimana
seseorang mengalami penurunan kemampuan untuk melakukan aktivirtasnya.
Penyebabnya antara lain karena ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen, produksi yang dihasilkan menurun, dan lain-lain
- Perubahan pola tidur
Gangguan kebutuhan oksigen dapat mengakibatkan
pola tidur terganggu. Kesulitan bernafas (sesak nafas) menyebabkan seseorang
tidak bisa tidur. Perubahan pola tidur juga dapat terjadi karena kecemasan
dengan penyakit yang dideritanya
- Resiko terjadinya iskemik otak
Gangguan oksigenasi mengakibatkan suplai darah
keotak berkurang. Hal tersebut disebabkan oleh cardiac output yangmenurun,
aliran darah keotak berkurang, gangguan perfusi jaringan otak, dan lain-lain.
Akibatnya, otak kekurangan oksigen sehingga beresiko terjadinya kerusakan
jaringan otak.
I.
Pemeriksaan
Fungsi Paru Dengan Alat Spirometri
Respirasi (Pernapasan atau ventilasi) sebagai suatu
siklus inspirasi dan ekspirasi. Frekuensi pernapasan orang dewasa normal
berkisar 12 - 16 kali permenit yang mengangkut kurang lebih 5 liter udara masuk
dan keluar paru. Volume yang lebih rendah dari kisaran normal seringkali
menunjukkan malfungsi sistem paru. Volume dan kapasitas paru diukur dengan alat
berupa spirometer atau spirometri, sedang hasil rekamannya disebut dengan
spirogram.
Udara yang keluar dan masuk saluran pernapasan saat inspirasi dan ekspirasi sebanyak 500 ml disebut dengan volume tidal, sedang volume tidal pada tiap orang sangat bervariasi tergantung pada saat pengukurannya. Rata-rata orang dewasa 70% (350 ml) dari volume tidal secara nyata dapat masuk sampai ke bronkiolus, duktus alveolus, kantong alveoli dan alveoli yang aktif dalam proses pertukaran gas. Sedang sisanya sebanyak 30% (150 ml) menetap di ruang rugi (anatomic dead space).
Udara yang keluar dan masuk saluran pernapasan saat inspirasi dan ekspirasi sebanyak 500 ml disebut dengan volume tidal, sedang volume tidal pada tiap orang sangat bervariasi tergantung pada saat pengukurannya. Rata-rata orang dewasa 70% (350 ml) dari volume tidal secara nyata dapat masuk sampai ke bronkiolus, duktus alveolus, kantong alveoli dan alveoli yang aktif dalam proses pertukaran gas. Sedang sisanya sebanyak 30% (150 ml) menetap di ruang rugi (anatomic dead space).
Volume total udara yang ditukarkan dalam satu menit disebut dengan minute volume of respiration (MVR) atau juga biasa disebut menit vantilasi. MVR ini didapatkan dari hasil kali antara volume tidal dan frekuensi pernapasan normal permenit. Rata-rata MVR dari 500 ml volume tidal sebanyak 12 kali pernapasan permenit adalah 6000 ml/menit.
Volume pernapasan yang melebihi volume tidal 500 ml dapat diperoleh dengan mengambil nafas lebih dalam lagi. Penambahan udara ini biasa disebut volume cadangan inspirasi (Inspiratory reserve volume) sebesar 3100 ml dari volume tidal sebelumnya, sehingga volume tidal totalnya sebesar 3600 ml.
Meskipun paru dalam keadaan kosong setelah fase ekspirasi maksimal, akan tetapi sesungguhnya paru-paru masih memiliki udara sisa yang disebut dengan volume residu yang mempertahankan paru-paru dari keadaan kollaps, besarnya volume residu sekitar 1200 ml.
Berikut cara pemeriksaan vital paru dengan alat spirometri :
1. Siapkan
alat spirometri
2. Nyalakan
alat terlebih dahulu dengan memencet tombol ON. Masukkan data seperti umur,
seks, TB, BB
3. Kemudian
masukkan mouthpiece yang ada dalam alat spirometri kedalam mulutnya dan
tutuplah hidung dengan penjepit hidung.
4. Untuk
mengatur pernapasan, bernapaslah terlebih dahulu dengan tenang sebelum
melakukan pemeriksaan.
5. Tekan
tombol start jika sudah siap untuk memulai pengukuran.
6. Mulai
dengan pernapasan tenang sampai timbul perintah dari alat untuk ekspirasi
maksimal (tidak terputus). Bila dilakukan dengan benar maka akan keluar data
dan kurva pada layar monitor spirometri.
7. Kemudian
ulangi pengukuran dengan melanjutkan inspirasi dalam dan ekspirasi maksimal.
8. Setelah
selesai lepaskan mouthpiece, periksa data dan kurva kemudian dilanjutkan dengan
mencetak hasil rekaman (tekan tombol print pada alat spirometri)
BAB III
ASUHAN
KEPERAWATAN
A. Pengkajian Keperawatan
Secara umum pengkajian dimulai dengan mengumpulkan data
tentang :
Umur pasien bisa menunjukkan tahap perkembangan pasien
baik secara fisik maupun psikologis, jenis kelamin dan pekerjaan perlu dikaji
untuk mengetahui hubungan dan pengaruhnya terhadap terjadinya masalah/penyakit,
dan tingkat pendidikan dapat berpengaruh terhadap pengetahuan klien tentang
masalahnya/penyakitnya.
2. Keluhan utama dan riwayat keluhan utama
(PQRST)
Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan
mengganggu oleh klien pada saat perawat mengkaji, dan pengkajian tentang
riwayat keluhan utama seharusnya mengandung unsur PQRST (Paliatif/Provokatif,
Quality, Regio, Skala, dan Time)
3.
Riwayat
perkembangan
a.
Neonatus : 30 -
60 x/mnt
b.
Bayi : 44 x/mnt
c.
Anak : 20 - 25
x/mnt
d.
Dewasa : 15 -
20 x/mnt
e.
Dewasa tua :
volume residu meningkat, kapasitas vital menurun
4.
Riwayat
kesehatan keluarga
Dalam hal ini perlu dikaji apakah ada anggota keluarga
yang mengalami masalah / penyakit yang sama.
5.
Riwayat sosial
Perlu dikaji kebiasaan-kebiasaan klien dan keluarganya,
misalnya : merokok, pekerjaan, rekreasi, keadaan lingkungan, faktor-faktor
alergen dll.
6.
Riwayat
psikologis
Disini perawat perlu mengetahui tentang :
- Perilaku / tanggapan klien terhadap masalahnya/penyakitnya
- Pengaruh sakit terhadap cara hidup
- Perasaan klien terhadap sakit dan therapi
- Perilaku / tanggapan keluarga terhadap masalah/penyakit dan therapi
7.
Riwayat
spiritual
8.
Pemeriksaan
fisik
a.
Hidung dan
sinus
Inspeksi : cuping hidung, deviasi septum, perforasi,
mukosa (warna, bengkak, eksudat, darah), kesimetrisan hidung.
Palpasi : sinus frontalis, sinus maksilaris
b.
Faring
Inspeksi : warna, simetris, eksudat ulserasi, bengkak
c.
Trakhea
Palpasi : dengan cara berdiri disamping kanan pasien,
letakkan jari tengah pada bagian bawah trakhea dan raba trakhea ke atas, ke
bawah dan ke samping sehingga kedudukan trakhea dapat diketahui.
- Thoraks
Inspeksi :
1) Postur, bervariasi misalnya pasien
dengan masalah pernapasan kronis klavikulanya menjadi elevasi ke atas.
2) Bentuk dada, pada bayi berbeda dengan orang dewasa. Dada
bayi berbentuk bulat/melingkar dengan diameter antero-posterior sama dengan
diameter tranversal (1:1). Pada orang
dewasa perbandingan diameter antero-posterior dan tranversal adalah (1 : 2)
Beberapa kelainan bentuk dada
diantaranya :
a. Pigeon chest
yaitu bentuk dada yang ditandai dengan diameter tranversal sempit, diameter
antero-posterior membesar dan sternum sangat menonjol ke depan.
b. Funnel chest
merupakan kelainan bawaan dengan ciri-ciri berlawanan dengan pigeon chest,
yaitu sternum menyempit ke dalam dan diameter antero-posterior mengecil. Barrel
chest ditandai dengan diameter antero-posterior dan tranversal sama atau
perbandingannya 1 : 1.
Kelainan
tulang belakang diantaranya :
a. Kiposis atau bungkuk dimana punggung
melengkung/cembung ke belakang.
b. Lordosis yaitu dada membusung ke depan
atau punggung berbentuk cekung.
c. Skoliosis yaitu tergeliatnya tulang
belakang ke salah satu sisi.
3) Pola napas
o
eupnea yaitu pernapasan normal dimana
kecepatan 16 - 24 x/mnt, klien tenang, diam dan tidak butuh tenaga untuk
melakukannya,
o
tachipnea yaitu pernapasan yang cepat,
frekuensinya lebih dari 24 x/mnt, atau bradipnea yaitu pernapasan yang lambat,
frekuensinya kurang dari 16 x/mnt
o
apnea yaitu keadaan terhentinya
pernapasan.
4) Kaji volume pernapasan
o
hiperventilasi yaitu bertambahnya
jumlah udara dalam paru-paru yang ditandai dengan pernapasan yang dalam dan
panjang
o
hipoventilasi yaitu berkurangnya udara
dalam paru-paru yang ditandai dengan pernapasan yang lambat.
5) Kaji sifat
pernapasan apakah klien menggunakan pernapasan dada yaitu pernapasan yang
ditandai dengan pengembangan dada, ataukah pernapasan perut yaitu pernapasan
yang ditandai dengan pengembangan perut.
6) Kaji
ritme/irama pernapasan yang secara normal adalah reguler atau irreguler,
-
cheyne stokes yaitu pernapasan yang
cepat kemudian menjadi lambat dan kadang diselingi apnea.
-
kusmaul yaitu pernapasan yang cepat dan
dalam, atau pernapasan biot yaitu pernapasan yang ritme maupun amplitodunya
tidak teratur dan diselingi periode apnea.
7) Perlu juga
dikaji kesulitan bernapas klien, apakah dispnea yaitu sesak napas yang dan kebutuhan oksigen tidak terpenuhi,
ataukah ortopnea yaitu kemampuan bernapas hanya bila dalam posisi duduk atau
berdiri
8) Perlu juga
dikaji bunyi napas
o
stertor/mendengkur yang terjadi karena
adanya obstruksi jalan napas bagian atas
o
stidor yaitu bunyi yang kering dan
nyaring dan didengar saat inspirasi
o
wheezing yaitu bunyi napas seperti
orang bersiul,
o
rales yaitu bunyi yang mendesak atau
bergelembung dan didengar saat inspirasi
o
ronchi yaitu bunyi napas yang kasar dan
kering serta di dengar saat ekspirasi.
9) Perlu juga
dikaji batuk dan sekresinya, apakah klien mengalami
o
batuk produktif yaitu batuk yang
diikuti oleh sekresi,
o
non produktif yaitu batuk kering dan
keras tanpa sekresi
o
hemoptue yaitu batuk yang mengeluarkan
darah
10) Status
sirkulasi, dalam hal ini perlu dikaji heart rate/denyut nadi
o
takhikardi yaitu denyut nadi lebih dari
100 x/mnt, ataukah
o
bradikhardi yaitu denyut nadi kurang
dari 60 x/mnt.
Juga perlu dikaji tekanan darah
Juga perlu dikaji tekanan darah
o
hipertensi yaitu tekanan darah arteri
yang tinggi
o
hipotensi yaitu tekanan darah arteri
yang rendah.
11) Juga perlu
dikaji tentang oksigenasi pasien apakah
o
anoxia yaitu suatu keadaan dengan
jumlah oksigen dalam jaringan kurang
o
hipoxemia yaitu suatu keadaan dengan
jumlah oksigen dalam darah kurang
o
hipoxia yaitu berkurangnya persediaan
oksigen dalam jaringan akibat kelainan internal atau eksternal
o
cianosis yaitu warna kebiru-biruan pada
mukosa membran, kuku atau kulit akibat deoksigenasi yang berlebihan dari Hb
o
clubbing finger yaitu membesarnya
jari-jari tangan akibat kekurangan oksigen dalam waktu yang lama.
Palpasi :
Untuk mengkaji keadaan kulit pada
dinding dada, nyeri tekan, massa, peradangan, kesimetrisan ekspansi dan taktil
vremitus.
Taktil vremitus adalah vibrasi yang
dapat dihantarkan melalui sistem bronkhopulmonal selama seseorang berbicara.
Normalnya getaran lebih terasa pada apeks paru dan dinding dada kanan
karena bronkhus kanan lebih besar. Pada pria lebih mudah terasa karena suara
pria besar.
B.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada pasien dengan
gangguan pemenuhan kebutuhan oksigenasi diantaranya adalah :
1.
Bersihan jalan
nafas tidak efektif
2.
Pola napas
tidak efektif
3.
Gangguan
pertukaran gas
4.
Penurunan
kardiak output
5.
Rasa berduka
6.
Koping tidak
efektif
7.
Perubahan rasa
nyaman
8.
Potensial/resiko
infeksi
9.
Interaksi
sosial terganggu
10.
Intoleransi
aktifitas, dll sesuai respon klien
1.
Bersihan jalan
napas tidak efektif
Yaitu tertumpuknya sekresi atau adanya obstruksi pada
saluran napas.
Tanda-tandanya :
Tanda-tandanya :
· Bunyi napas yang abnormal
· Batuk produktif atau non produktif
· Cianosis
· Dispnea
· Perubahan kecepatan dan kedalaman
pernapasan
Kemungkinan faktor penyebab :
· Sekresi yang kental atau benda asing
yang menyebabkan obstruksi
· Kecelakaan atau trauma (trakheostomi)
· Nyeri abdomen atau nyeri dada yang
mengurangi pergerakan dada
· Obat-obat yang menekan refleks batuk
dan pusat pernapasan
· Hilangnya kesadaran akibat anasthesi
· Hidrasi yang tidak adekuat, pembentukan
sekresi yang kental dan sulit untuk di expektoran
· Immobilisasi
· Penyakit paru menahun yang memudahkan
penumpukan sekresi
2.
Pola napas
tidak efektif
Yaitu respon pasien terhadap respirasi dengan jumlah
suplay O2 kejaringan tidak adekuat
Tanda-tandanya :
·
Dispnea
·
Peningkatan
kecepatan pernapasan
·
Napas dangkal
atau lambat
·
Retraksi dada
·
Pembesaran jari
(clubbing finger)
·
Pernapasan
melalui mulut
·
Penambahan
diameter antero-posterior
·
Cianosis, flail
chest, ortopnea
·
Vomitus
·
Ekspansi paru
tidak simetris
Kemungkinan faktor penyebab :
· Tidak adekuatnya pengembangan paru
akibat immobilisasi, obesitas, nyeri
·
Gangguan
neuromuskuler seperti : tetraplegia, trauma kepala, keracunan obat anasthesi
·
Gangguan
muskuloskeletal seperti : fraktur dada, trauma yang menyebabkan kolaps paru
·
CPPO seperti :
empisema, obstruksi bronchial, distensi alveoli
·
Hipoventilasi
akibat kecemasan yang tinggi
·
Obstruksi jalan
napas seperti : infeksi akut atau alergi yang menyebabkan spasme bronchial atau
oedema
·
Penimbunan CO2
akibat penyakit paru
3.
Gangguan
pertukaran gas
Yaitu perubahan asam basa darah sehingga terjadi asidosis
respiratori dan alkalosis respiratori.
Tanda-tandanya :
·
Dispnea,
·
Abnormal gas
darah arteri
·
Hipoksia
·
Gelisah
·
Takikardia
·
Sianosis
·
Hipoksemia
·
Tingkat
kedalaman irama pernafasan abnormal
Kemungkinan penyebab :
·
Penumpukan
cairan dalam paru
·
Gangguan
pasokan oksigen
·
Obstruksi
saluran pernapasan
·
Bronkhospasme
·
Edema paru
·
Pembedahan
paru
C.
Rencana Keperawatan
1.
Bersihan jalan
napas tidak efektif
Inter vensi:
a.
Auskultasi dada
bagian anterior dan posterior
Rasional : untuk mengetahui adanya penurunan atau tidaknya ventilasi
dan bunyi tambahan.
b.
Lakukan
pengisapan jalan napas bila
diperlukan
Rasional : Merangsang terjadinya batuk atau pembersihan
jalan napas secara mekanik pada pasien yang tak mampu batuk secara efektif
dan penurunan kesadaran
c.
Pertahankan
kaedekuatan hidrasi untuk menurunkan viskositas
sekresi.
Rasional : memobilisasi keluarnya sputum
d. Instruksikan untuk batuk efektif & teknis napas dalam untuk memudahkan keluarnya
sekresi.
Rasional : memudahkan ekspansi maksimal paru
atau jalan napas lebih kecil dan membantu silia untuk mempermudah
jalan napas
e. Kolaborasi
dengan berikan obat sesuai indikasi: mukolitik, ekspektoran, bronkodilator,
analgesik
Rasional : Untuk menurunkan spasme bronkus dengan
mobilisasi sekret.
f. Kolaborasi
dengan berikan obat sesuai indikasi :mukolitik,
ekspektoran, bronkodilator.
Rasional : untuk menurunkan spasme bronkus dengan
mobilisasi sekret
g. Kolaborasi
dengan bantu mengawasi efek pengobatan nebulizer dan fisioterapi lain mis :
spiromerti iasentif, perkusi, drainase postural.
Rasional : memudahkan pengenceran dan pembuangan secret.
2.
Pola napas tidak efektif
a.
Tinggikan
kepala tempat tidur, letakkan pada posisi semi fowler
Rasional
: Merangsang fungsi pernapasan atau ekspansi paru
b.
Bantu klien
untuk melakukan batuk efektif & napas dalam
Rasional : Meningkatkan gerakan sekret ke jalan napas, sehingga mudah untuk dikeluarkan
c.
Berikan
tambahan oksigen masker/ oksigen nasal sesuai indikasi
Rasional : Meningkatkan pengiriman
oksigen ke paru untuk kebutuhan sirkulasi.
d.
Berkolaborasi
dengan dokter dalam pemberian ekspektoran
Rasional : Membantu mengencerkan secret, sehingga mudah untuk dikeluarkan
3.
Gangguan
pertukaran gas
a.
Berikan
O2 sesuai indikasi
Rasional : Meningkatkan konsentrasi oksigen
alveolar dan dapat memperbaiki hipoksemia jaringan
b.
Pantau GDA
Pasien
Rasional : Nilai GDA yang normal menandakan pertukaran gas semakin
membaik
c.
Pantau
pernapasan
Rasional : Untuk evaluasi distress pernapasan
Beberapa Metode pemenuhan kebutuhan oksigen
1. Pemberian oksigen
Pemberian oksigen merupakan tindakan
memberikan oksigen ke dalam paru-paru melalui saluran pernapasan dengan alat
bantu oksigen. Pemberian oksigen pada pasien dapat melalui tiga cara yaitu
melalui kanula, nasal, dan masker. Pemberian oksigen tersebut bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan oksigen dan mencegah terjadinya hipoksia.
Persiapan Alat dan Bahan :
1. Tabung oksigen lengkap dengan flowmeter dan humidifier
2. Nasal kateter, kanula, atau masker
3. Vaselin,/lubrikan atau pelumas ( jelly)
Prosedur Kerja :
1. Cuci tangan
2. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
3. Cek flowmeter dan humidifier
4. Hidupkan tabung oksigen
5. Atur posisi semifowler atau posisi yang telah disesuaikan dengan kondisi pasien.
6. Berikan oksigen melalui kanula atau masker.
7. Apabila menggunakan kateter, ukur dulu jarak hidung dengan telinga, setelah itu berikan lubrikan dan masukkan.
8. Catat pemberian dan lakukan observasi.
9. Cuci tangan
2. Fisioterapi dada
Fisioterapi dada merupakan suatu
rangkaian tindak keperawatan yang terdiri atas perkusi, vibrasi dan postural
drainage.
a. Perkusi
Disebut juga clapping adalah pukualn kuat, bukan berarti sekuat-kuatnya, pada dinding dada dan punggung dengan tangan dibentuk seperti mangkuk.
Tujuannya, secara mekanik dapat melepaskan sekret yang melekat pada dinding bronkhus.
Prosedur:
1. Tutup area yang akan dilakkan perkusi dengan handuk atau pakaian untuk mengurangi ketidaknyamanan.
2. Anjurkan klien tarik napas dalam dan lambat untuk meningkatkan relaksasi
3. Perkusi pada tiap segmen paru selama 1-2 menit
4. Perkusi tidak boleh dilakukan pada daerah dengan struktur yang mudah cedera seperti : mammae, sternum dan ginjal.
b. Vibrasi
Getaran kuat secara serial yang dihasilkan oleh tangan perawat yang diletakkan datar pada dinding dada klien.
Tujuannya, vibrasi digunakan setelah perkusi untuk meningkatkan turbulensi udara ekspirasi dan melepaskan mukus yang kental. Sering dilakukan bergantian dengan perkusi,
Prosedur:
1. Letakkan telapak tangan, telapak tangan menghadap ke bawah di area dada yang akan di drainage. Satu tangan diatas tangan yang lain dengan jari-jari menempel bersama dan ekstensi. Cara yang lain: tangan bisa diletakkan secara bersebelahan.
2. Anjurkan klien menarik napas dalam melalui hidung dan menghembuskan napas secara lambat lewat mulut atau pursed lips.
3. Selama masa ekspirasi, tegangkan seluruh otot tangan dan lengan dan gunakan hampir semua tumit tangan. Getarkan (kejutkan) tangan keaarh bawah. Hentikan getaran jika klien melakukan inspirasi.
4. Setelah tiap kali vibrasi, anjurkan klien batuk dan keluarkan sekret ke dalam tempat sputum.
c. Postural drainage
Merupakan salah satu intervensi
untuk melepaskan sekresi dari berbagai segmen paru-paru dengan menggunakan
pengaruh gaya gravitasi. Waktu yang terbaik utnuk melakukannya yaitu sekitar 1
jam sebelum sarapan pagi dan sekitar 1 jam sebelum tidur pada malam hari.
Postural drainage harus lebih sering dilakukan apabila lendir klien berubah
warnanya menjadi kehijauan dan kental atau ketika klien menderita demam.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan postural drainage yaitu:
a. Batuk 2 atau 3 kali berurutan setelah setiap kali berganti posisi
b. Minum air hangat setiap hari sekitar 2 liter.
c. Jika harus menghirup bronkodilator, lakukanlah 15 menit sebelum melakukan postural drainage
d. Lakukan latihan napas dan latihan lain yang dapat membantu mengencerkan lendir.
Peralatan:
a. Bantal
b. Papan pengatur posisi
c. Tisu wajah
d. Segelas air
e. Sputum pol
Prosedur:
1. cuci tangan
2. pilih area yang tersumbat yang akan di drainage berdasarkan pengkajian semua area paru, data klinis dan chest X-ray.
3. Baringkan klien dalam posisi untuk mendrainage area yang tersumbat.
4. Minta klien mempertahankan posisi tersebut selama 10-15 menit.
5. Selama 10-15 menit drainage pada posisi tersebut, lakukan perkusi dan vibrasi dada diatas area yang di drainage
6. Setelah drainage pada posisi pertama, minta klien duduk dan batuk. Bila tidak bisa batuk, lakukan suction. Tampung sputum di sputum spot.
7. Minta klien istirahat sebentar bila perlu
8. Anjurkan klien istirahat sebentar bila perlu.
9. Anjurkan klien minum sedikit air.
10. Ulangi langkah 3-8 sampai semua area tersumbat telah ter drainage
11. Ulangi pengkajian dada pada semua bidang paru.
12. Cuci tangan
13. Dokumentasikan
3. Napas dalam dan batuk efektif
a. Napas dalam
Yaitu bentuk latihan napas yang terdiri dari atas pernapasan abdominal (diafragma) dan purse lips breathing.
Prosedur:
1. Atur posisi yang nyaman
2. Fleksikan lutut klien untuk merelaksasikan otot abdomen
3. Tempatkan 1 atau 2 tangan pada abdomen, tepat dibawah tulang iga
4. Tarik napas dalam melalui hidung, jaga mulut tetap tertutup. Hitung samapi 3 selama inspirasi
5. Hembuskan udara lewat bibir seperti meniup (purse lips braething) secara perlahan-lahan
b. Batuk efektif
Yaitu latihan batuk untuk mengeluarkan sekret.
Prosedur:
1. Tarik napas dalam lewat hidung dan tahan napas untuk beberapa detik
2. Batukkan 2 kali. Pada saat batuk tekan dada dengan bantal. Tampung sekret pada sputum pot.
3. Hindari penggunaan waktu yang lama selama batuk karena dapat menyebabkan fatigue dan hipoksia.
4. Suctioning (pengisapan lendir)
Pengisapan lendir (suction)
merupakan tindakan pada pasien yang tidak mampu mengeluarkan sekret atau lendir
secara sendiri. Tindakan tersebut dilakukan untuk membersihkan jalan napas dan
memenuhi kebutuhan oksigenasi.
Persiapan Alat dan Bahan :
1. Alat pengisap lendir dengan botol yang berisi larutan desinfektan
2. Kateter pengisap lendir
3. Pinset steril
4. Dua kom berisi larutan akuades/NaCl 0,9% dan larutan desinfektan
5. Kasa steril
6. Kertas tisu
Prosedur Kerja :
1. Cuci tangan
2. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilaksanakan.
3. Atur pasien dalam posisi terlentang dan kepala miring ke arah perawat
4. Gunakan sarung tangan
5. Hubungakan kateter penghisap dengan selang penghisap
6. Hidupkan mesin penghisap
7. Lakukan penghisapan lendir dengan memasukan kateter pengisap ke dalam kom berisi akuades atau NaCl 0,9% untuk mencegah trauma mukosa.
8. Masukkan kateter pengisap dalam keadaan tidak mengisap
9. Tarik lendir dengan memutar kateter pengisap sekitar 3-5 detik
10. Bilas kateter dengan akuades atau NaCl 0,9%
11. Lakukan hingga lendir bersih
12. Catat respon yang terjadi
13. Cuci tangan
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Oksigen (O2) adalah satu komponen gas dan unsur
vital dalam proses metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh
sel-sel tubuh. Oksigenasi adalah peristiwa menghirup udara dari luar
yang mengandung Oksigen (O2) kedalam tubuh serta menghembuskan
Karbondioksida (CO2) sebagai hasil sisa oksidasi. Penyampaian
oksigen ke jaringan tubuh ditentukan oleh sistem respirasi (pernafasan),
kardiovaskuler dan hematology.
Sistem pernafasan terdiri dari organ pertukaran gas yaitu
paru-paru dan sebuah pompa ventilasi yang terdiri atas dinding dada, otot-otot
pernafasan, diagfragma, isi abdomen, dinding abdomen dan pusat pernafasan di
otak. Pada keadaan istirahat frekuensi pernafasan 12-15 kali per menit. Ada 3
langkah dalam proses oksigenasi yaitu ventilasi, perfusi paru dan difusi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar