“Asuhan Keperawatan Gastritis”
Co/ Juliardinsyah
Bab
I
Pendahuluan
1. Latar Belakang
Gastritis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sekelompok
kondisi dengan satu hal yaitu radang selaput perut . Peradangan ini
(gastritis) sering kali adalah hasil dari infeksi bakteri Helicobacter pylori yang menyebabkan radang perut yang paling
sering ditemukan.
Gastritis adalah proses inflamsi pada lapisan
mukosa dan sub mukosa lambung. Secara histopastologi dapat dibuktikan dengan
adanya infiltarsi sel-sel radang pada daerah tersebut. Gastritis merupakan
salah satu penyakit yang banyak dijumpai di klinik / ruangan penyakit dalam
pada umumnya. Kejadian penyakit gastritis meningkat sejak 5 – 6 tahun ini dan
menyerang laki-laki lebih banyak dari pada wanita. Laki-laki lebih banyak
mengalami gastritis karena kebiasaan mengkonsumsi alkohol dan merokok.
Di negara berkembang prevalensi infeksi Helicobacter
pylori pada orang dewasa mendekati angka 90%. Sedangkan pada anak-anak
prevalensinya lebih tinggi lagi. Di Indonesia, prevalensi kuman ini menggunakan
urea breath test. Penelitian
serologis yang dilakukan secara cross
sectional bertambahnya prevelansi penyakit ini sesuai dengan pertambahan
usia. Penyebab penyakit ini adalah gram negatife, basil yang berbentuk kurva
dan batang. Namun, banyak
faktor lain seperti cedera, traumatis, penggunaan obat penghilang rasa sakit
tertentu atau minum alkohol terlalu banyak, juga dapat berkontribusi untuk
terjadinya gastritis.
Bab I
Tinjauan
Teoritis
1. Defenisi
Gastritis adalah inflamasi (pembengkakan ) dari mukosa
lambung. Inflamasi ini mengakibatkan sel
darah putih menuju kedinding lambung
sebagai respon terjadinya kelainan pada bagian tersebut (Sujoono Hadi,
2003:181).
Gastritis
merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat
bersifat akut, kronis, difus, atau local. Dua jenis gastritis yang paling
sering terjadi adalah gastritis superficial akut dan gastritis atrofik kronis.
(Sylvia A. Price, 2005).
Gastritis
Akut adalah inflamasi mukosa
lambung akibat diet yang sembrono atau
disebabkan oleh pencernaan asam
atau alkali yang dapat menyebab kan mukosa menjadi alakali /ganggren peforasi . Brunner dan Suddart
,2003)
Gastritis
kronik adalah inflamasi yang lama dapat disebabkan oleh ulkus benigna atau maligna dari
lambung atau karena bakteri
helicobacteri pillory. (Brunner dan Suddart ,2003:1051).
2.
Anatomi dan Fisiologi lambung
Lambung
/gaster merupakan bagian dari saluran
cerna yang terdiri dari bagian atas (fundus) berhubungan
dengan esophagus melalui orifisium
pilorik ,terletak dibagian bawah diagfragma didepan pangkreas dan limfa ,menempel
disebelah kiri fundus uteri .
a. Lambung
Merupakan organ
otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai.
Terdiri dari 3
bagian yaitu:
ü Kardia.
ü Fundus.
ü Antrum.
Makanan masuk ke
dalam lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin (sfinter), yang
bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal, sfinter menghalangi masuknya
kembali isi lambung ke dalam kerongkongan.
Sel-sel yang
melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting :
v Lendir
Lendir melindungi
sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung. Setiap kelainan pada lapisan
lendir ini, bisa menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada terbentuknya tukak
lambung.
v Asam klorida
(HCl)
Asam klorida
menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin guna memecah
protein. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap
infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri.
v Prekursor pepsin
(enzim yang memecahkan protein)
Gambar : Anatomi Lambung
b. Fungsi dari lambung
1.
Menampung makanan ,menghancurkan dan menghaluskan makanan oleh
peristalatik dan getah lambung .
2.
Getah cerna lambung yang dihasilkan :
ü Pepsin
: berfungsi mencegah putih telur menjadi asam amino (albumin
dan pepton )
ü Asam
garam (Hcl) : berfungsi mengasamkan
makanan sebagai anti septic ,desinfektan dan membuat suasan asam pada pepsinogen sehingga menjadi
pepsin .
ü Rennin : berpungsi sebagai ragi yang membekukan susu
dan membentuk kesein dari karsinogen (karsinogen dan protein susu).
ü Lapisan
lambung :jumlah sedikit , berfungsi sebagai memecah lemak menjadi asam
lemak yang mensekresi asam lambung.
ü Sekresi getah
lambung :terjadi pad awal orang makan
,bila melihat makanan dan mencum bau
makanan maka sekresi lambung akan
teransang .rasa makanan meransanag
sekresi lambung karena kerja saraf sehingga ransanga n kimiawi yang
menyebabkandinding lambung melepaskan hormon yang disebut sekresi getah lambung
dihalangi oleh sisitem saraf simpatis
yang terjadi pada waktu gannguan
emosi seperti marah dan rasa takut
(saefuddin,1997:77)
3. Etiologi
a. Gastritis
akut
1)
Gastritis stress akut ,merupakan jenis gastritis yang paling
berata ,yang disebabkan oleh penyakit berat atau trauma (cedera ) yang terjadi
secara tiba –tiba.
2)
Gastritis erosive kroniks,bias merupakan akibat dari :
ü Iritan
seperti obat-obatan ,terutama aspirin dan obat anti peradangan lain
ü Infeksi virus atau bakteri
3)
Gastritis asinofilik
,terjadi akibat dari reaksi alergi terhadap infestasi cacing gelang. Eosinofil
(sel darah putih )terkumpul didinding lambung. Umumnya
yang menjadi penyebab penyakit ini ,antara laian :
ü Obat –obatan
:aspirin ,obat anti inflamasi nonsteroid
(AINS)
ü Alkohol
ü Gangguan
mikrosirkulasi mukosa lambung :trau ma ,stress ,sepsis. Secara makroskopik terdapat lesi erosi mukosa
dengan lokasi berbeda.jika
ditemukan pada korpus dan fundus
,biasanya disebabkan stress.
b. Gastritis
kronik
ü Gastritis sel
plasma , merupakan gastritis yang
penyebabnya tidak diketahui .Sel plasma (salah satu jenis sel darah putih )
terkumpul didalam dinding lambung dan
organ lainnya.
ü Gastritis meniere , merupakan jenis gastritis yang
penyebabnya tidak diketahui .Dinding Lambung Menjadi Tebal ,lipatanya menebal
,kelenjarnya membesar dan memiliki kista yang terisi cairan .Sekitar 10 % penderita
penyakit ini menderita kanker lambung .
Jadi
umumnya pada gastritis kronik penyebaabnya berhubungan dengan helico bacter pillory.
3. Klasifikasi
Gastritis Terbagi 2 ,yaitu:
a. Gas tritis
akut
Merupakan
kelaianan klinis akut yang jelas penyebabnya
dengan tanda dan gejala yang khas . Biasanya ditemukan sel inflamasi akut dan neotrofil
.jenisnya adalah : Gastritis stress akut , gastrititis erosive kronik
,gastritis eosinofilik, gastritis bakterialis .
b. Gastritis kronik
Penyebabnya
tidak jelas, sering bersifat multifktor. Dengan perjalanan klinik
bervariasi. Keleinan ini berkaitan dengan infeksi H.pillory . Jenisnya
adalah : gastritis sel plasma, penyakit meniere .
5.
Manifestasi Klinis
a. Gastritis akut
1. Gastritis stress akut , penyebabnya
(misalnya penyakit berat ,luka bakar
atau cidera ) biasanya menutupi gejala –gejala lambung , tetapi memar kecil di lapisan lambung. Dalam beberapa jam memar ini biasanya berubah menjadi ulkus . Ulkus dan gastritis biasanya menghilang
apabila penderita sembuh dengan cepat
dari cideranya. Apabila tidak sembuh 2-5 hari biasanya akan terjadi pendarahan, cairan lambung akan berwarna kemerahan dan
tekanan darah akan turun.
2. Gastritis erosif kronis ,berupa mual ringan dan
nyeri di perut sebelah atas. Tetapi banyak penderita (misalnya memakai aspirin jangka panjang ) tidak merasa nyeri. Penderita lainnya meraskan gejala yang mirip
ulkus , yaitu nyeri ketika perut kosong. jika gastritis menyebabkan perdarahan dari ulkus lambung. Gejala biasa berupa tinja berwaran kehitaman
seperti aspal atau muntah darah dan
makanan yang menyerupai endapan kopi.
3. Gastritis
esinofilik, nyeri
perut atau muntah biasa disebabkan oleh
penyempitan atau penyumbatan ujung saluran lambung yang menuju ke usus dua belas jari.
4. Sindrom
dyspepsis berupa nyeri epigastrium, mual, kembung, muntah, merpakan
satu keluhan yanga sering muncul dengan tanda –tanda anemia pasca perdarahan.
b.
Gastritis kronik
1. Gastritis
sel plasma, nyeri dan muntah biasa terjadi bersamaan dengan timbulnya ruam dikulit dan diare.
2. Penyakit meniere , nyeri lambung ,disertai
hilangnya nafsu makan , mual ,muntah dan
penurunan berat badan. Penimbunan cairan dan pembengkakan
jaringan biasa disebabkan karena
hilangnya protein dari lapisan lambung yang meradang. Rotein yang hilng ini bercampur dengan isi lambung yang dibuangan dari tubuh
kebanyakan pasien pada kasus gastritis
kronik tidak mempunyai keluhan. Hanya sebagian kecil yang mendapat gejal
diatas.
6.
Patofisiologi
Absorbsi pada
lambung umumnya sangat rendah karena mukosa lambung dilapisi oleh sel – sel
mukosa yang sangat resisten yang mensekresi mukus yang sangat kental dan lekat
dan mukosa lambung mempunyai sambungan yang sangat rapat antara sel – sel
epitel yang berdekatan, dua hal tersebut ditambah dengan hambatan-hambatan
absorbsi lambung yang lain di sebut sawar lambung, dan beberapa bahan makanan
dan minuman seperti alkohol, aspirin dapat merusak sawar mukosa
pelindung lambung yaitu mukosa lambung dan sambungan gaster yang rapat diantara
sel pelapis lambung terdapat sebuah kelenjar gastrin yaitu di fundus, selain
itu ada sel G terletak didaerah pylorus lambung yang memproduksi hormon
gastrin. Gastrin merangsang kelenjar gastrin untuk menghasilkan asam
hidroklorida dan pepsinogen, substansi lain yang juga disekresi oleh lambung
adalah beberapa enzim dari berbagai elektrolit terutama ion natrium, kalium dan
klorida. (Silvia Price, 1995)
7.
WOC
8.
Pemeriksaan Penunjang
Menurut Inayah. I, 2004, Pemeriksaan
penunjang yang perlu dilakukan pada gastritis akut dan kronis adalah sama
antara lain :
1. Endoskopi
Pemeriksaan
bagian dalam sesuatu alat memakai endoskop
2. Histopologi
biopsi mukosa lambung
Pengambilan
jaringan dari penderita secara bedah untuk pemeriksaan mikroskopik
3. Radiologi
dengan konsep ganda
Ilmu tentang
energi dan zat-zat radioaktif khususnya cabang ilmu kedokteran yang menggunakan
energi radioaktif dalam diagnosis dan pengobatan penyakit
9.
Penatalaksanaan
Menurut inayah, I
(2004 : 56) penatalaksanaan gastritis akut dan kronik antara lain :
1. Mengatasi
kedaruratan medis yang terjadi
2. Mengatasi
atau menghindari penyebab apabila dapat dijumpai
3. Pemberian
obat – obatan H2 blocking antacid atau obat – obat ulkus
lambung yang lain
10. Komplikasi
v Hematemesisi dan melena
v Syok lambung
v Karsinoma intestinal
v Polip lambung
v Tumor karsinoid
v Ulkus, perforasi ,anemia akibat gangguan
absorbsi Vit B- 12
11. Pencegahan
v Makan secara benar dan teratur
Hindari makanan
pedas ,asam,gorengan ,/lemak ,porsi kecil tapi sering makanan dalam jumlah yang cukup pada waktunya.
v Hindari alcohol
Penggunan
alcohol dapat mengiritasi dan mengikis lapisan mukosa lambung yang dapat
mengakibatkan perdarahan dan peradangan.
v Jangan merokok
Merokok dapat
meningkatkan asam lambung , mengganggu kerja lapisan pelindung lambung sehingga
dapat menunda proses penyembuhan.
v Lakukan olah raga secara teratur
Enstimulasi otot
usus sehingga membantu mengeluarkan limbah makanan
v Kendalikan stress
Menurunya kekebalan
tubuh , meningkatkan produksi asam lambung
v Hindari penggunaan AINS yang
dapat menyebabkan terjadinya
peradangan
v Ikuti rekomendasi Dokter .
12.
Pendidikkan Kesehatan
ü Makan dengan
porsi sedikit tapi sering.
ü Jika pasien
merasa lapar, jangan langsung minum – minuman yang mengandung kafein
seperti teh, tapi digantikan dengan air putih hangat.
ü Bila maag kambuh
karena terlambat makan, jangan langsung makan – makanan beratmisalnya nasi,
tapi digantikan dengan makanan ringan seperti crackers.
ü Makan secara
benar, hindari makan-makanan yang
dapat mengiritasi terutama makanan yang
pedas dan asam.
ü Makan dengan
jumlah yang cukup, pada waktunya dan lakukan dengan santai.
ü Mengunyah makanan
sampai benar – benar lumat.
ü Minum air putih
yang banyak atau dapat digantikan dengan minuman ber-ion.
ü Meminum obat
sesuai dengan anjuran dokter.
ü Menjaga
kebersihan lingkungan seperti alat – alat makan, tempat tidur, dll.
ü Hindari untuk
meminum alkohol,karena alkohol dapat mengiritasi dan mengikislapisan mukosa
dalam lambung serta dapat mengakibatkan peradangan dan perdarahan.
ü Hindari untuk
merokok, karena dapat mengganggu kerja lapisan pelindung lambung.
ü Lakukan olahraga
secara teratur, misalnya senam aerobik. Senam aerobik dapat meningkatkan
kecepatan jantung dan pernafasan juga dapat menstimulasi aktivitas otot
usus sehingga membantu mengeluarkan limbah makanan dari usus secara lebih cepat.
ü Menghindari
pemakaian aspirin saat merasa tidak enak badan, digantikan dengan istirahat
yang cukup.
ü Hindari pemakaian
obat gabungan, untuk mengurangi efek negatif obat.
ü Hindari stress
yang berlebihan.
ü Selalu
memperhatikan pola makan pasien.
ü Membantu klien
mengatasi masalah yang dihadapinya untuk mengurangi rasa stress.
ü Memperhatikan
pemakaian obat dan efek sampingnya.
13.
Masalah Etik dan Legal
A. Batasan Legal dalam Tindakan Keperawatan
Perawat perlu tahu tentang hukum yang mengatur prakteknya untuk :
Perawat perlu tahu tentang hukum yang mengatur prakteknya untuk :
1.
Memberikan kepastian bahwa keputusan
& tindakan perawat yang dilakukan konsisten dengan prinsip-prinsip hukum.
2.
Melindungi perawat
dari liabilitas. Perjanjian atau
kontrak dalam perwalian
Kontrak mengandung arti ikatan persetujuan atau perjanjian resmi antara dua atau lebih partai untuk mengerjakan atau tidak sesuatu. Dalam konteks hukum, kontrak sering disebut dengan perikatan atau perjanjian. Perikatan artinya mengikat orang yang satu dengan orang lain. Hukum perikatan di atur dlm UU hukum Perdata pasal 1239
” Semua perjanjian baik yang mempunyai nama khusus maupun yang tidak mempunyai nama tertentu, tunduk pada ketentuan-ketentuan umum yang termaktub dalam bab ini dan bab yang lalu”. Lebih lanjut menurut ketentuan pasal 1234 KUHPdt, setiap perikatan adalah untuk memberikan, berbuat sesuatu atau untuk tidak berbuat sesuatu.
Kontrak mengandung arti ikatan persetujuan atau perjanjian resmi antara dua atau lebih partai untuk mengerjakan atau tidak sesuatu. Dalam konteks hukum, kontrak sering disebut dengan perikatan atau perjanjian. Perikatan artinya mengikat orang yang satu dengan orang lain. Hukum perikatan di atur dlm UU hukum Perdata pasal 1239
” Semua perjanjian baik yang mempunyai nama khusus maupun yang tidak mempunyai nama tertentu, tunduk pada ketentuan-ketentuan umum yang termaktub dalam bab ini dan bab yang lalu”. Lebih lanjut menurut ketentuan pasal 1234 KUHPdt, setiap perikatan adalah untuk memberikan, berbuat sesuatu atau untuk tidak berbuat sesuatu.
Pedoman legal yang harus diikuti
perawat diambil dari undang-undang, hukum pengaturan, dan hukum adat. Hukum
dikeluarkan oleh badan pemerintah dan harus dipatuhi oleh warga negara. Setiap
orang yang tidak mematuhi hukum akan terikat secara hukum untuk menanggung
denda atau hukum penjara. Anda tidak perlu takut akan melanggar hukum jika anda
:
a.
Hanya melakukan hal-hal yang sudah diajarkan
dan berada dalam cukup pelatihan.
b.
Selalu memiliki ketrampilan dan pengetahuan
yang terbaru.
c.
Selalu menempatkan keselamatan dan
kesejahteraan pasien sebagai hal yang terpenting.
d.
Melakukan pekerjaan sesuai dengan
kebijakan fasilitas.
B.
Batasan Kelalaian atau Malpraktik
Kesalahan adalah kesalahan sipil yang dibuat
terhadap seseorang atau hak milik. Kesalahan bisa diklasifikasi menjadi
kesalahan tidak disengaja atau disengaja. Contoh dari kesalahan yang tidak
disengaja adalah kelalaian atau malpraktik. Malpraktik merupakan kelalaian yang
dilakukan oleh seorang profesional seperti perawat atau dokter. Kesalahan
disengaja merupakan tindakan disengaja yang melanggar hak seseorang. Misalnya,
pelecehan, pemukulan, pemfitnahan, atau invasi pribadi. Perbedaaan
bergantung pada tindakan atau pengabaian yang terlibat pada masalah tentang “
ilmu atau seni kedokteran yang memerlukan keterampilan khusus yang tidak
dimilki orang biasa,“ atau bahkan dapat dipahami berdasarkan pengalaman
individu setiap hari pada juri. Jika diperlukan opini profesional dari seorang
ahli dengan keterampilan dan pengetahuan khusus, teori tentang malpraktik
lebih berlaku dari pada kelalaian biasa.
Kelalaian adalah
prilaku yang tidak sesuai standar perawatan. Malpraktik terjadi ketika asuhan
keperawatan tidak sesuai yang menuntut praktik keperawatan yang aman. Tidak
perlu ada kesengajaan, suatu kelalaian dapat terjadi. Kelalaian ditetapkan oleh
hukum untuk perlindungan orang lain terhadap resiko bahaya yang tidak
seharusnya. Ini dikarakteristikkan oleh ketidakperhatian,
keprihatian atau kurang perhatian. Kelalaian atau malpraktik bisa mencakup
kecerobohan, seperti tidak memeriksa balutan lengan yang memungkinkan pemberian
medikasi yang salah. Bagaimanapun, kecerobohan tidak selalu sebagai penyebab.
Jika perawat melakukan prosedur dimana mereka telah terlatih dan melakukan
dengan hati –hati, tetapi masih membahayakan klien, dapat dibuat tuntunan
kelalaian atau malpraktik. Jika perawat memberikan perawatan yang tidak sesuai
dengan standar, mereka dapat dianggap lalai. Karena tindakan ini
dilakukan oleh perawat professional, kelalaian perawat disebut malpraktik.
Perawat telah
terlibat dalam banyak tindakan lalai atau malpraktik profesional, contohnya:
a.
Kesalahan terapi
intravena yang menyebabkan infiltrasi atau flebitis.
b.
Luka bakar pada
klien karena terapi panas yang tidak tepat pemantauannya.
c.
Jatuh yang menyebabkan
cidera pada klien.
d.
Kesalahan
menggunakan tehnik aseptik ketika diperlukan.
e.
Kesalahan
menghitung spon, instrumen, atau jarum dalam kasus operasi.
Karena malpraktik
adalah kelalaian yang berhubungan dengan praktik profesional, kriteria berikut
harus ditegakkan dalam gugatan hukum malpraktik terhadap seorang perawat:
a.
Perawat (terdakwa)
berhutang tugas pada klien (penggugat).
b.
Perawat tidak
melakukan tugas tersebut atau melanggar tugas perawatan.
c.
Klien cidera.
d.
Baik penyebab
aktual dan kemungkinan mencederai klien adalah akibat dari kegagalan perawat
untuk melakukan tugas.
C.
Dasar Hukum
Malpraktik
Akhir-akhir ini tuntutan hukum
terhadap dokter dan perawat dengan dakwaan melakukan malpraktik makin meningkat
dimana-mana, termasuk di negara kita. Ini
menunjukkan adanya peningkatan kesadaran hukum masyarakat, dimana masyarakat
lebih menyadari kewajiban dan tugas profesinya dengan lebih hati-hati dan penuh
tanggung jawab. Di negara- negara maju tiga besar dokter spesialis menjadi
sasaran utama tuntutan ketidak layakan dalam
praktik, yaitu spesialis bedah, anastesi dan kebidanan dan penyakit kandungan.
Walaupun UU No. 6 tahun 1963 tentang tenaga kesehatan sudah dicabut oleh UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, namun perumusan malpraktik/kelalaian medik tercanutm pada pasal 11b masih dapat dipergunakan yaitu :dengan tidak mengurangi ketentuan–ketentuan di dalam KUHP dan peraturan perundang-undangan lain, maka terhadap tenaga kesehatan dapat dilakukan tindakan-tindakan administratif dalam hal sebagai berikut:
Walaupun UU No. 6 tahun 1963 tentang tenaga kesehatan sudah dicabut oleh UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, namun perumusan malpraktik/kelalaian medik tercanutm pada pasal 11b masih dapat dipergunakan yaitu :dengan tidak mengurangi ketentuan–ketentuan di dalam KUHP dan peraturan perundang-undangan lain, maka terhadap tenaga kesehatan dapat dilakukan tindakan-tindakan administratif dalam hal sebagai berikut:
ü Melalaikan
kewajiban.
ü Melakukan suatu
hal yang tidak seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang tenaga kesehatan, baik mengingat sumpah
jabatannya, maupun sumpah sebagai tenaga kesehatannya.
D. Pengendalian Hukum Oleh Perawat dan Klien
Pelayanan
keperawatan di masa mendatang harus dapat memberikan consumer minded terhadap
pelayana keperawatan yang di terima. Hal ini didasarkan pada ”trends” perubahan
saat ini dan persaingan yang semakin ketat. Oleh karena itu, perawat perawat
diharapkan dapat mendefinisikan, mengimplementasikan dan mengukur perbedaan
bahwa praktik keperawatan harus dapat sebagai indikator terpenuhinya kebutuhan
masyarakat akan pelayanan kesehatan yang profesional di masa depan. Sementara
itu pelayanan keperawatan di masa mendatang belum jelas, maka perawat
profesional di masa mendatang harus dapat memberikan dampak yang positif
terhadap kualitas sistem pelayanan kesehatan di Indonesia.
Ada
4 hal yang harus dijadikan perhatian utama keperawatan di Indonesia :
a. Memahami dan
menerapkan peran perawat
b. Komitmen terhadap
identitas keperawatan
c. Perhatian
terhadap perubahan dan trend pelayanan kesehatan kepada masyarakat
d. Komitmen dalam
memenuhi tuntutan tantangan sistem pelayanan kesehatan melalui upaya yang kreatif
dan inovatif.
14.
Nursing Advocacy (Advokasi Keperawatan)
Definisi
perawat advokat menurut beberapa ahli yaitu :
a) Arti advopkasi
menurut ANA adalah melindungi klien ato masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
dan keselamatan praktik tidak sah yang tidak kompoten dan melanggar etika yang
di lakukan oleh siapapun.
b) FRY mendefinisikan advokasi sebagai dukungan
aktif terhadap setiap hal yang memiliki penyebab atau dampak penting
c) GADAW menyatakan
bahwa advokasi merupakan dasar falsafah dan ideal keperawatan
yang melibatkan bantuan perawat secara aktif kepada
individu secara bebas menentukan nasibnya sendiri.
Tanggung jawab perawat secara umum mempunyai
tanggung jawab dalam memberikan asuhan keperawatan, meningkatkan
ilmu pengetahuan dan meningkatkan diri sebagai profesi. Tanggung
jawab perawat secara khusus adalah memberikan asuhan keperawatan kepada klien
mencakup aspek bio-psiko-sosio-kultural-spiritual yang komprehensif dalam upaya
pemenuhan kebetuhan dasarnya.
Sebagai advokat
klien, perawat berfungsi sebagai berikut:
a. Sebagai
penghubung dengan klien dengan tim kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien,
b. Membela
kepentingan klien dan membantu klien memahami semua informasi dan upaya
kesehatan yang diberikan oleh tim kesehatan dengan pendekatan tradisional
maupun professional
c. Peran advokasi
sekaligus mengharuskan perawat bertindak sebagai narasumber dan fasilitator
dalam tahap pengambilan keputusan terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani
oleh klien
d. Dalam menjalankan peran sebagai advokat
perawat harus dapat melindungi dan memfasilitasi keluarga dan masyarakat dalam
pelayanan keperawatan.
e.
Asuhan
Keperawatan Teoritis Pada Klien
Dengan Gaskritis
1.
Pengkajian
a.
Anamnese meliputi :
Nama, Usia, Jenis kelamin, Jenis pekerjaan, Alamat, Suku/bangsa, Agama, status perkawinan dll.
b.
Riwayat Kesehatan
ü Keluhan utama : Nyeri di ulu
hati dan perut sebelah kanan bawah.
ü Riwayat penyakit saat ini : Meliputi
perjalan penyakitnya, awal dari gejala yang dirasakan klien, keluhan timbul
dirasakan secara mendadak atau bertahap, faktor pencetus, upaya untuk mengatasi
masalah tersebut.
ü Riwayat penyakit dahulu : Meliputi
penyakit yang berhubungan dengan penyakit sekarang, riwayat dirumah sakit, dan riwayat pemakaian obat.
c.
Pemeriksaan fisik,
yaitu Review of system (ROS)
Keadaan umum : Tampak kesakitan pada pemeriksaan fisik terdapat nyeri
tekan di kuadran epigastrik.
1.
B1 (breath) : Takhipnea
2.
B2 (blood) : Takikardi,
hipotensi, disritmia, nadi perifer
lemah, pengisian perifer lambat, warna kulit pucat.
3.
B3 (brain) : Sakit kepala,
kelemahan, tingkat kesadaran dapat terganggu, disorientasi, nyeri epigastrum.
4.
B4 (bladder) : Oliguria, gangguan
keseimbangan cairan.
5.
B5 (bowel) : Anemia, anorexia, mual,
muntah, nyeri ulu hati, tidak toleran terhadap makanan pedas.
6.
B6 (bone) : Kelelahan, kelemahan
d.
Fokus Pengkajian
1.
Aktivitas / Istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan
Tanda : Takikardia, takipnea / hiperventilasi (respons terhadap
aktivitas)
2.
Sirkulasi
Gejala : Kelemahan,
berkeringat
Tanda :
·
Hipotensi (termasuk postural)
·
Takikardia, disritmia (hipovolemia / hipoksemia)
·
Nadi perifer lemah
·
Pengisian kapiler lambat / perlahan (vasokonstriksi)
·
Warna kulit pucat, sianosis (tergantung pada jumlah
kehilangan darah)
·
Kelemahan kulit / membran mukosa, berkeringat
(menunjukkan status syok, nyeri akut, respons psikologik)
3.
Integritas Ego
Gejala : Faktor stress akut atau
kronis (keuangan, hubungan kerja), perasaan tak berdaya.
Tanda :
Tanda ansietas, misalnya gelisah, pucat, berkeringat,
perhatian menyempit, gemetar, suara gemetar.
4.
Eliminasi
Gejala : Riwayat perawatan di
rumah sakit sebelumnya karena perdarahan gastroenteritis (GE) atau masalah yang
berhubungan dengan GE, misalnya luka
peptik atau gaster, gastritis, bedah gaster, iradiasi area gaster. Perubahan
pola defekasi /karakteristik feses.
Tanda :
·
Nyeri tekan abdomen, distensi
·
Bunyi usus : sering hiperaktif selama perdarahan,
hipoaktif setelah perdarahan.
·
Karakteristik feses : diare, darah warna gelap,
kecoklatan atau kadang-kadang merah cerah, berbusa, bau busuk (steatorea),
konstipasi dapat terjadi (perubahan diet, penggunaan antasida).
·
Haluaran urine : menurun, pekat.
5. Makanan / Cairan
Gejala :
·
Anoreksia, mual, muntah (muntah yang memanjang diduga
obstruksi pilorik bagian luar sehubungan dengan luka duodenal).
·
Masalah menelan : cegukan
·
Nyeri ulu hati, sendawa bau asam, mual atau muntah
Tanda : Muntah dengan warna
kopi gelap atau merah cerah, dengan atau tanpa bekuan darah, membran mukosa
kering, penurunan produksi mukosa, turgor kulit buruk (perdarahan kronis).
6.
Neurosensi
Gejala : Rasa berdenyut, pusing
/ sakit kepala karena sinar, kelemahan.
Tanda : Tingkat kesadaran dapat
terganggu, rentang dari agak cenderung tidur, disorientasi / bingung, sampai
pingsan dan koma (tergantung pada volume sirkulasi / oksigenasi).
7. Nyeri / Kenyamanan
Gejala :
·
Nyeri, digambarkan sebagai tajam, dangkal, rasa
terbakar, perih, nyeri hebat tiba-tiba dapat disertai perforasi. Rasa
ketidaknyamanan / distres samar-samar setelah makan banyak dan hilang dengan
makan (gastritis akut).
·
Nyeri epigastrum kiri sampai tengah / atau menyebar ke
punggung terjadi 1-2 jam setelah makan dan hilang dengan antasida (ulkus
gaster).
·
Nyeri epigastrum kiri sampai / atau menyebar ke
punggung terjadi kurang lebih 4 jam setelah makan bila lambung kosong dan
hilang dengan makanan atau antasida (ulkus duodenal).
·
Tak ada nyeri (varises esofegeal atau gastritis).
·
Faktor pencetus : makanan, rokok, alkohol, penggunaan
obat-obatan tertentu (salisilat, reserpin, antibiotik, ibuprofen), stresor
psikologis.
Tanda :
Wajah berkerut, berhati-hati pada area yang sakit,
pucat, berkeringat, perhatian menyempit.
8. Keamanan
Gejala : Alergi terhadap obat /
sensitif misal : ASA
Tanda :
Peningkatan suhu, spider angioma, eritema palmar
(menunjukkan sirosis / hipertensi portal)
9. Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala :
Adanya penggunaan obat resep / dijual bebas yang
mengandung ASA, alkohol, steroid. NSAID menyebabkan perdarahan GI. Keluhan saat
ini dapat diterima karena (misal : anemia) atau diagnosa yang tak berhubungan
(misal : trauma kepala), flu usus, atau episode muntah berat. Masalah kesehatan
yang lama misal : sirosis, alkoholisme, hepatitis, gangguan makan (Doengoes,
1999, hal: 455).
e. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan darah
Tes ini digunakan untuk memeriksa apakah terdapat H. Pylori dalam
darah. Hasil tes yang positif menunujukkan bahwa pasien pernah kontak dengan
bakteri pada suatu waktu dalam hidupnya tapi itu tidak menunjukkan bahwa pasien
tersebut terkena infeksi. Tes darah dapat juga dilakukan untuk memeriksa anemia
yang terjadi akibat perdarahan lambung karena gastritis.
b. Uji napas urea
Suatu metode
diagnostik berdasarkan prinsip bahwa urea diubah oleh urease H. Pylori dalam
lambung menjadi amoniak dan karbondioksida (CO2). CO2
cepat diabsorbsi melalui dinding lambung dan dapat terdeteksi dalam udara
ekspirasi.
c. Pemeriksaan feces
Tes ini
memeriksa apakah terdapat bakteri H. Pylori dalam feses atau tidak.
Hasil yang positif dapat mengindikasikan terjadinya infeksi. Pemeriksaan juga
dilakukan terhadap adanya darah dalam feses. Hal ini menunjukkan adanya
pendarahan dalam lambung.
d. Endoskopi saluran cerna bagian atas
Dengan tes ini
dapat terlihat adanya ketidaknormalan pada saluran cerna bagian atas yang
mungkin tidak terlihat dari sinar-x. Tes ini dilakukan dengan cara memasukkan
sebuah selang kecil yang fleksibel(endoskop) melalui mulut dan masuk ke dalam
esofagus, lambung dan bagian atas usus kecil. Tenggorokan akan terlebih dahulu
dianestesi sebelum endoskop dimasukkan untuk memastikan pasien merasa nyaman
menjalani tes ini. Jika ada jaringan dalam saluran cerna yang terlihat
mencurigakan, dokter akan mengambil sedikit sampel(biopsy) dari jaringan
tersebut. Sampel itu kemudian akan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Tes ini
memakan waktu kurang lebih 20 sampai 30 menit. Pasien biasanya tidak langsung
disuruh pulang ketika tes ini selesai, tetapi harus menunggu sampai efek dari
anestesi menghilang kurang lebih satu atau dua jam. Hampir tidak ada resioko
akibat tes ini. Komplikasi yang sering terjadi adalah rasa tidak nyaman pada
tenggorokan akibat menelan endoskop.
e. Rontgen saluran cerna bagian atas
Tes ini akan
melihat adanya tanda-tanda gastritis atau penyakit pencernaan lainnya. Biasanya
akan diminta menelan cairan barium terlebih dahulu sebelum dirontgen. Cairan
ini akan melapisi saluran cerna dan akan terlihat lebih jelas ketika di
rontgen.
f. Analisis Lambung
Tes ini untuk
mengetahui sekresi asam dan merupakan tekhnik penting untuk menegakkan
diagnosis penyakit lambung. Suatu tabung nasogastrik dimasukkan ke dalam
lambung dan dilakukan aspirasi isi lambung puasa untuk dianalisis. Analisis
basal mengukur BAO( basal acid output) tanpa perangsangan. Uji ini bermanfaat
untuk menegakkan diagnosis sindrom Zolinger- Elison(suatu tumor pankreas yang
menyekresi gastrin dalam jumlah besar yang selanjutnya akan menyebabkan
asiditas nyata).
2. Diagnosa Keperawatan
yang mungkin muncul
1.
Kekurangan
volume cairan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat dan output
cair yang berlebih (mual dan muntah).
2.
Nyeri berhubungan
dengan iritasi mukosa lambung sekunder karena stress psikologi.
3.
Nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan intake asupan gizi.
4.
Ansietas berhubungan
dengan perubahan status kesehatan, ancaman kematian, nyeri.
5.
Kurang pengetahuan
berhubungan dengan kurangnya informasi.
3.
Intervensi keperawatan
NO
|
DIAGNOSA KEPERAWATAN
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
1.
|
Kekurangan volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake yang tidak adekuat dan output cair yang berlebih (mual dan muntah). Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam intake cairan
adekuat.
Kriteria Hasil:
·
Mukosa bibir lembab
·
Turgor kulit baik
·
Pengisian kapiler
baik
·
Input dan output
seimbang
|
·
Penuhi kebutuhan
individual. Anjurkan klien untuk minum (dewasa : 40-60 cc/kg/jam).
·
Berikan cairan
tambahan IV sesuai indikasi.
·
Awasi tanda-tanda
vital, evaluasi turgor kulit, pengisian kapiler dan membran mukosa.
·
Kolaborasi pemberian
cimetidine dan ranitidine
|
·
Intake cairan yang
adekuat akan mengurangi resiko dehidrasi pasien.
·
Mengganti kehilangan
cairan dan memperbaiki keseimbangan cairan dalam fase segera.
·
Menunjukkan status
dehidrasi atau kemungkinan kebutuhan untuk peningkatan penggantian cairan.
·
Cimetidine dan
ranitidine berfungsi untuk menghambat sekresi asam lambung
|
2.
|
Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa lambung sekunder karena stress
psikologi
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 2 x 24 jam nyeri dapat berkurang, pasien dapat tenang dan keadaan umum
cukup baik
Kriteria Hasil:
·
Klien mengungkapakan nyeri yang
dirasakan berkurang atau hilang
·
Klien tidak menyeringai kesakitan
·
TTV dalam batasan normal
·
Intensitas nyeri berkurang (skala nyeri
berkurang 1-10) Menunjukkan rileks, istirahat tidur, peningkatan aktivitas dengan cepat
|
·
Selidiki keluhan nyeri, perhatikan
lokasi, itensitas nyeri, dan skala nyeri
·
Anjurkan pasien untuk melaporkan nyeri
segera saat mulai
·
Pantau tanda-tanda vital
·
Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada
klien serta keluarganya
·
Anjurkan istirahat selama fase akut
·
Anjurkan teknik distruksi dan relaksasi
·
Berikan situasi lingkungan yang kondusif
·
Kolaborasi dengan tim medis dalam
pemberian tindakan
|
·
Untuk mengetahui letak nyeri dan
memudahkan intervensi yang akan dilakukan
·
Intervensi dini pada kontrol nyeri
memudahkan pemulihan otot dengan menurunkan tegangan otot
·
Respon autonomik meliputi, perubahan
pada TD, nadi, RR, yang berhubungan dengan penghilangan nyeri
·
Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan
klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri
·
Mengurangi nyeri yang diperberat oleh
gerakan
·
Menurunkan tegangan otot, meningkatkan
relaksasi, dan meningkatkan rasa kontrol dan kemampuan koping
·
Memberikan dukungan (fisik, emosional, meningkatkan
rasa kontrol, dan kemampuan koping)
·
Menghilangkan atau mengurangi keluhan nyeri klien
|
3.
|
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurangnya intake
makanan
Tujuan:
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 3x24 jam kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi. Kriteria hasil:
·
Keadaan umum cukup
·
Turgor kulit baik
·
BB meningkat
·
Kesulitan menelan
berkurang
|
·
Anjurkan pasien
untuk makan dengan porsi yang sedikit tapi sering
·
Berikan makanan yang
lunak
·
Lakukan oral hygiene
·
Timbang BB dengan
teratur
·
Observasi tekstur,
turgor kulit pasien
·
Observasi intake dan
output nutrisi
|
·
Menjaga nutrisi
pasien tetap stabil dan mencegah rasa mual muntah
·
Untuk mempermudah
pasien menelan
·
Kebersihan mulut
dapat merangsang nafsu makan pasien
·
Mengetahui
perkembangan status nutrisi pasien
·
Mengetahui status
nutrisi pasien
·
Mengetahui
keseimbangan nutrisi pasien
|
4.
|
Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan, ancaman kematian,
nyeri.
Tujuan:
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan pasien dapat menunjukkan kecemasan berkurang atau
hilang.
Kriteria hasil:
·
Mengungkapkan
perasaan dan pikirannya secara terbuka
·
Melaporkan
berkurangnya cemas dan takut
·
Mengungkapkan
mengerti tentang peoses penyakit
·
Mengemukakan
menyadari terhadap apa yang diinginkannya yaitu menyesuaikan diri terhadap
perubahan fisiknya
|
·
Awasi respon
fisiologi misalnya: takipnea, palpitasi, pusing, sakit kepala, sensasi
kesemutan.
·
Dorong pernyataan
takut dan ansietas, berikan umpan balik.
·
Berikan informasi
yang akurat.
·
Berikanlingkungan
yang tenang untuk istirahat.
·
Dorong orang
terdekat untuk tinggal dengan pasien.
·
Tunjukan teknik
relaksasi.
|
·
Dapat menjadi
indikator derajat takut yang dialami pasien, tetapi dapat juga berhubungan
dengan kondisi fisik atau status syok.
·
Membuat hubungan terapeutik
·
Melibatkan pasien
dalam rencana asuhan dan menurunkan ansietas yang tak perlu tentang
ketidaktahuan.
·
Memindahkan pasien
dari stresor luar, meningkatkan relaksasi, dapat meningkatkan keterampilan
koping.
·
Membantu menurunkan
takut melalui pengalaman menakutkan menjadi seorang diri.
·
Belajar cara untuk
rileks dapat membantu menurunkan takutdan ansietas
|
5.
|
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan:
Klien mendapatkan informasi yang tepat dan efektif.
Kriteria hasil:
·
Klien dapat
menyebutkan pengertian
·
Penyebab
·
Tanda dan gejala
·
Perawatan dan
pengobatan.
|
·
Beri pendidikan
kesehatan (penyuluhan) tentang penyakit, beri kesempatan klien atau keluarga
untuk bertanya, beritahu tentang pentingnya obat-obatan untuk kesembuhan
klien.
·
Evaluasi tingkat pengetahuan klien
|
·
Memberikan
pengetahuan dasar dimana klien dapat membuat pilihan informasi tentang
kontrol masalah kesehatan.
·
Pengkajian /
evaluasi secara periodik meningkatkan pengenalan / pencegahan dini terhadap
komplikasi seperti ulkus peptik dan pendarahan pada lambung.
|
Bab IV
Penutup
1.
Kesimpulan
GASTRITIS (dyspepsia/penyakit maag)
adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya asam lambung yang berlebih atau
meningkatnya asam lambung sehingga mengakibatkan imflamasi atau peradangan dari
mukosa lambung seperti teriris atau nyeri pada ulu hati. Gejala yang terjadi
yaitu perut terasa perih dan mulas. Gastritis dibagi menjadi dua yaitu:
gastritis akut dan kronis. Gatritis Akut (inflamasi mukosa lambung) paling
sering diakibatkan oleh kesalahan diit, mis. makan terlalu banyak, terlalu
cepat, makan makanan yang terlalu banyak bumbu atau makanan yang terinfeksi.
Penyebab lain termasuk alcohol, aspirin, refluks empedu atau terapi
radiasi. Inflamasi lambung yang berkepanjangan yang disebabkan oleh ulkus
lambung jinak maupun ganas atau bakteri Helicobacter pylori.
Manifestasi klinis gastritis antara lain nyeri
terbakar di epigastrium atau rasa tidak enak yang bertambah berat dengan makan,
dispepsia, anoreksia, nausea / muntah, dapat terjadi pedarahan yang
mengakibatkan hematemesis, melena. Penatalaksanaan dari penyakit adalah Mengurangi
paparan obat-obat yang bersifat iritan. Mengurangi produksi asam untuk
melindungi mukosa lambung dengan antagonis H2, inhibitor pompa proton, dan atau
sukralfat. Gastritis H. Pylori simtomatik diterapi dengan terapi tripel selama
2 minggu (misalnya omeprazole, chlarithromyein, dan amoksilin; bismuth,
metronidazole, dan ampisilin/tetrasiklin). Profilaksis antasid sebaiknya
diberikan pada sebagian besar pasien yang sangat kritis. Pedarahan berat pada
kasus gastritis stres dapat diterapi melalui endoskopi ; pada kasus yang
jarang, pedarahan yang refrakter kemungkinan memerlukan tindakan gastrektomi.
2.
Saran
Dengan
adanya makalah ini kami berharap dapat menambah pengetahuan para pembaca
mengenai penyakit gastritis. Kami selaku pembaca pula mengharapkan kritik dan
saran bagi para pembaca untuk kebaikan makalah kami.
Daftar
Pustaka
Brunner Dan
Suddart ,2002,Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah ,Edisi 8,Vol 1,
Jakarta :EGC
Doengoes
,Marilyn E.1999 I Rencana Keperawatan Edisi Iii,Jakarta ;EGC.
Hadi, Sujono. 2002. Gastroenterologi.
Bandung : P.T Alumni
McPhee, Stephen J. 2010. Patofisiologi
Penyakit: Pengantar Menuju Kedokteran Klinis. Jakarta: EGC.
Potter, Patricia A. 2009. Fundamental
of Nursing. Jakrta: Salemba Medika
Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi
Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC
Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi dan
Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT. Gramedia


Tidak ada komentar:
Posting Komentar