Senin, 18 November 2013

Askep Gastritis



“Asuhan Keperawatan Gastritis”
Co/ Juliardinsyah

Bab I
Pendahuluan

1.         Latar Belakang
Gastritis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sekelompok kondisi dengan satu hal yaitu radang selaput perut . Peradangan ini  (gastritis) sering kali adalah hasil dari infeksi bakteri Helicobacter pylori yang menyebabkan radang perut yang paling sering ditemukan.
Gastritis adalah proses inflamsi pada lapisan mukosa dan sub mukosa lambung. Secara histopastologi dapat dibuktikan dengan adanya infiltarsi sel-sel radang pada daerah tersebut. Gastritis merupakan salah satu penyakit yang banyak dijumpai di klinik / ruangan penyakit dalam pada umumnya. Kejadian penyakit gastritis meningkat sejak 5 – 6 tahun ini dan menyerang laki-laki lebih banyak dari pada wanita. Laki-laki lebih banyak mengalami gastritis karena kebiasaan mengkonsumsi alkohol dan merokok.
Di negara berkembang prevalensi infeksi Helicobacter pylori pada orang dewasa mendekati angka 90%. Sedangkan pada anak-anak prevalensinya lebih tinggi lagi. Di Indonesia, prevalensi kuman ini menggunakan urea breath test. Penelitian serologis yang dilakukan secara cross sectional bertambahnya prevelansi penyakit ini sesuai dengan pertambahan usia. Penyebab penyakit ini adalah gram negatife, basil yang berbentuk kurva dan batang. Namun, banyak faktor lain seperti cedera, traumatis, penggunaan obat penghilang rasa sakit tertentu atau minum alkohol terlalu banyak, juga dapat berkontribusi untuk terjadinya gastritis.





Bab I
Tinjauan Teoritis


1.    Defenisi
            Gastritis  adalah inflamasi (pembengkakan ) dari mukosa lambung. Inflamasi ini mengakibatkan  sel darah putih menuju kedinding  lambung sebagai respon terjadinya kelainan pada bagian tersebut (Sujoono Hadi, 2003:181).
            Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus, atau local. Dua jenis gastritis yang paling sering terjadi adalah gastritis superficial akut dan gastritis atrofik kronis. (Sylvia A. Price, 2005).
            Gastritis Akut adalah inflamasi mukosa  lambung  akibat  diet yang sembrono  atau  disebabkan oleh pencernaan asam  atau  alkali yang  dapat menyebab kan mukosa menjadi  alakali /ganggren peforasi . Brunner  dan Suddart  ,2003)
            Gastritis kronik  adalah inflamasi  yang lama dapat disebabkan  oleh ulkus benigna atau maligna dari lambung  atau karena bakteri helicobacteri pillory. (Brunner  dan Suddart  ,2003:1051). 
2.    Anatomi  dan Fisiologi lambung
            Lambung /gaster  merupakan bagian dari saluran cerna yang terdiri dari bagian atas (fundus) berhubungan dengan esophagus  melalui orifisium pilorik ,terletak dibagian bawah diagfragma  didepan pangkreas dan limfa ,menempel disebelah kiri fundus uteri .
a. Lambung
Merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai.
Terdiri dari 3 bagian yaitu:
ü  Kardia.
ü  Fundus.
ü  Antrum.
            Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin (sfinter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal, sfinter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan.
Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting :
v  Lendir
Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung. Setiap kelainan pada lapisan lendir ini, bisa menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada terbentuknya tukak lambung.
v  Asam klorida (HCl)
Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin guna memecah protein. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri.
v  Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicKx9GF_fYisyhTQhWOPM3MMpjK2uU93hGCBOdJWjdYC0N0-7CHfNta9PZAisBxIzpljBGBVvfmmOP9Imp99bNnB4Ze4LbJKakZMRJmu-1xBK2gDOeh1b-KjPPC1Y8BIQ4Gwo6iLdXsL4/s320/gbr5.png
Gambar  : Anatomi Lambung

b. Fungsi dari lambung                                        
1.      Menampung makanan ,menghancurkan dan menghaluskan makanan oleh peristalatik dan getah lambung .
2.      Getah cerna lambung yang dihasilkan :
ü Pepsin : berfungsi mencegah putih telur menjadi asam amino  (albumin  dan pepton )
ü Asam garam (Hcl) : berfungsi  mengasamkan makanan sebagai anti septic ,desinfektan dan membuat  suasan asam pada pepsinogen sehingga menjadi pepsin .
ü Rennin  : berpungsi sebagai ragi yang membekukan susu dan membentuk kesein dari karsinogen (karsinogen dan protein susu).
ü Lapisan lambung :jumlah sedikit , berfungsi sebagai memecah lemak menjadi asam lemak  yang mensekresi asam lambung.
ü Sekresi getah lambung  :terjadi pad awal orang makan ,bila melihat makanan dan mencum  bau makanan maka sekresi  lambung akan teransang .rasa  makanan meransanag sekresi lambung karena kerja saraf sehingga ransanga n kimiawi yang menyebabkandinding lambung melepaskan hormon yang disebut sekresi getah lambung dihalangi oleh sisitem saraf simpatis  yang terjadi pada waktu  gannguan emosi  seperti marah dan rasa takut (saefuddin,1997:77)

3. Etiologi
a.    Gastritis akut
1)        Gastritis stress akut ,merupakan jenis gastritis yang paling berata ,yang disebabkan oleh penyakit berat atau trauma (cedera ) yang terjadi secara tiba –tiba.
2)        Gastritis erosive kroniks,bias merupakan akibat dari :
ü  Iritan seperti obat-obatan ,terutama aspirin dan obat anti peradangan lain
ü  Infeksi  virus atau bakteri
3)        Gastritis asinofilik  ,terjadi akibat dari reaksi alergi terhadap infestasi cacing gelang. Eosinofil (sel darah putih )terkumpul didinding lambung. Umumnya yang menjadi penyebab penyakit ini ,antara laian :
ü  Obat –obatan :aspirin ,obat anti inflamasi  nonsteroid (AINS)
ü  Alkohol
ü  Gangguan mikrosirkulasi mukosa lambung :trau ma ,stress ,sepsis.  Secara makroskopik  terdapat lesi erosi  mukosa  dengan lokasi  berbeda.jika ditemukan pada  korpus dan fundus ,biasanya disebabkan stress.



b.    Gastritis kronik
ü  Gastritis sel plasma , merupakan  gastritis yang penyebabnya tidak diketahui .Sel plasma (salah satu jenis sel darah putih ) terkumpul didalam dinding  lambung dan organ lainnya.
ü  Gastritis  meniere , merupakan jenis gastritis yang penyebabnya tidak diketahui .Dinding Lambung Menjadi Tebal ,lipatanya menebal ,kelenjarnya membesar dan memiliki kista  yang terisi cairan .Sekitar 10 % penderita penyakit ini menderita kanker lambung .
Jadi umumnya pada gastritis kronik penyebaabnya berhubungan dengan  helico bacter pillory.

3.  Klasifikasi
Gastritis   Terbagi 2 ,yaitu:
a.      Gas tritis akut
Merupakan kelaianan klinis akut yang jelas penyebabnya  dengan tanda dan gejala yang khas . Biasanya  ditemukan sel inflamasi akut dan neotrofil .jenisnya adalah : Gastritis stress akut , gastrititis erosive kronik ,gastritis eosinofilik, gastritis bakterialis .
b.      Gastritis kronik
Penyebabnya tidak jelas, sering bersifat multifktor. Dengan perjalanan  klinik bervariasi. Keleinan ini berkaitan dengan infeksi H.pillory . Jenisnya adalah : gastritis sel plasma, penyakit meniere .

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNgHhQMDJLecPgQF9aiLPtJCZ29iToDGAY_jY6rvu2y0Au3U_gjfeQ6m0cbEQ-9L_ewYoLcfKe17t-290twbHoprCMkJShX9mLxCwSm4xvQS7iZ_GH9-wSnPVds_T7HeAxvtVAK_Dm6Lks/s200/gastritis1.jpg

5.    Manifestasi Klinis
a.    Gastritis akut
1.    Gastritis stress akut , penyebabnya (misalnya  penyakit berat ,luka bakar atau cidera ) biasanya menutupi gejala –gejala lambung , tetapi  memar kecil di lapisan lambung. Dalam beberapa jam memar ini  biasanya berubah menjadi ulkus . Ulkus dan gastritis biasanya menghilang apabila penderita sembuh  dengan cepat dari cideranya. Apabila tidak sembuh  2-5 hari biasanya  akan terjadi pendarahan, cairan lambung akan berwarna kemerahan dan tekanan darah akan turun.
2.    Gastritis erosif kronis ,berupa mual ringan dan nyeri di perut sebelah atas. Tetapi banyak  penderita (misalnya memakai aspirin  jangka panjang ) tidak merasa nyeri. Penderita lainnya meraskan gejala yang mirip ulkus , yaitu nyeri ketika perut kosong. jika gastritis menyebabkan perdarahan dari ulkus lambung. Gejala biasa berupa tinja berwaran kehitaman seperti aspal atau muntah darah   dan makanan yang menyerupai endapan kopi.
3.    Gastritis  esinofilik, nyeri  perut atau muntah biasa disebabkan oleh  penyempitan atau penyumbatan ujung saluran lambung yang menuju  ke usus dua belas jari.
4.    Sindrom  dyspepsis  berupa nyeri  epigastrium, mual, kembung, muntah, merpakan satu keluhan yanga sering muncul dengan tanda –tanda anemia  pasca perdarahan.

b.    Gastritis kronik
1.    Gastritis  sel plasma, nyeri dan muntah biasa terjadi  bersamaan dengan timbulnya  ruam dikulit dan diare.
2.    Penyakit meniere , nyeri lambung ,disertai hilangnya nafsu makan , mual ,muntah  dan penurunan berat badan. Penimbunan cairan dan pembengkakan jaringan biasa disebabkan  karena hilangnya protein dari lapisan lambung yang meradang. Rotein yang hilng ini bercampur  dengan isi lambung yang dibuangan dari tubuh kebanyakan  pasien pada kasus gastritis kronik tidak mempunyai  keluhan. Hanya sebagian kecil yang mendapat gejal diatas.

6.    Patofisiologi
            Absorbsi pada lambung umumnya sangat rendah karena mukosa lambung dilapisi oleh sel – sel mukosa yang sangat resisten yang mensekresi mukus yang sangat kental dan lekat dan mukosa lambung mempunyai sambungan yang sangat rapat antara sel – sel epitel yang berdekatan, dua hal tersebut ditambah dengan hambatan-hambatan absorbsi lambung yang lain di sebut sawar lambung, dan beberapa bahan makanan dan minuman seperti  alkohol, aspirin dapat merusak sawar mukosa pelindung lambung yaitu mukosa lambung dan sambungan gaster yang rapat diantara sel pelapis lambung terdapat sebuah kelenjar gastrin yaitu di fundus, selain itu ada sel G terletak didaerah pylorus lambung yang memproduksi hormon gastrin. Gastrin merangsang kelenjar gastrin untuk menghasilkan asam hidroklorida dan pepsinogen, substansi lain yang juga disekresi oleh lambung adalah beberapa enzim dari berbagai elektrolit terutama ion natrium, kalium dan klorida. (Silvia Price, 1995)







7.    WOC
8.    Pemeriksaan Penunjang
       Menurut Inayah. I, 2004, Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan pada gastritis akut dan kronis adalah sama antara lain :
1.    Endoskopi
     Pemeriksaan bagian dalam sesuatu alat memakai endoskop
2.    Histopologi biopsi mukosa lambung
     Pengambilan jaringan dari penderita secara bedah untuk pemeriksaan mikroskopik
3.    Radiologi dengan konsep ganda
Ilmu tentang energi dan zat-zat radioaktif khususnya cabang ilmu kedokteran yang menggunakan energi radioaktif dalam diagnosis dan pengobatan penyakit

9.    Penatalaksanaan
Menurut inayah, I (2004 : 56) penatalaksanaan gastritis akut dan kronik antara lain :
1.      Mengatasi kedaruratan medis yang terjadi
2.     Mengatasi atau menghindari penyebab apabila dapat dijumpai
3.     Pemberian obat – obatan H2 blocking antacid atau obat – obat ulkus lambung yang lain
10.    Komplikasi
v Hematemesisi dan melena
v Syok lambung
v Karsinoma intestinal
v Polip lambung
v  Tumor karsinoid
v Ulkus, perforasi ,anemia akibat gangguan absorbsi Vit B- 12
11.    Pencegahan
v  Makan secara benar dan teratur
         Hindari makanan pedas ,asam,gorengan ,/lemak ,porsi kecil tapi sering makanan dalam jumlah  yang cukup pada waktunya. 
v Hindari alcohol
         Penggunan alcohol  dapat mengiritasi  dan mengikis lapisan mukosa lambung  yang dapat  mengakibatkan  perdarahan   dan peradangan.
v Jangan merokok
         Merokok dapat meningkatkan asam lambung , mengganggu kerja lapisan pelindung lambung sehingga dapat menunda proses penyembuhan.
v Lakukan olah raga secara teratur
         Enstimulasi otot usus sehingga  membantu mengeluarkan  limbah makanan
v Kendalikan stress
         Menurunya kekebalan tubuh , meningkatkan produksi asam lambung
v Hindari penggunaan AINS  yang  dapat menyebabkan terjadinya  peradangan
v Ikuti rekomendasi Dokter .

12.    Pendidikkan Kesehatan
ü Makan dengan porsi sedikit tapi sering.
ü Jika pasien merasa lapar, jangan langsung minum – minuman yang mengandung kafein seperti teh, tapi digantikan dengan air putih hangat.
ü Bila maag kambuh karena terlambat makan, jangan langsung makan – makanan beratmisalnya nasi, tapi digantikan dengan makanan ringan seperti crackers.
ü Makan secara benar, hindari makan-makanan yang dapat mengiritasi terutama makanan yang pedas dan asam.
ü Makan dengan jumlah yang cukup, pada waktunya dan lakukan dengan santai.
ü Mengunyah makanan sampai benar – benar lumat.
ü Minum air putih yang banyak atau dapat digantikan dengan minuman ber-ion.
ü Meminum obat sesuai dengan anjuran dokter.
ü Menjaga kebersihan lingkungan seperti alat – alat makan, tempat tidur, dll.
ü Hindari untuk meminum alkohol,karena alkohol dapat mengiritasi dan mengikislapisan mukosa dalam lambung serta dapat mengakibatkan peradangan dan perdarahan.
ü Hindari untuk merokok, karena dapat mengganggu kerja lapisan pelindung lambung.
ü Lakukan olahraga secara teratur, misalnya senam aerobik. Senam aerobik dapat meningkatkan kecepatan jantung dan pernafasan juga dapat menstimulasi aktivitas otot usus sehingga membantu mengeluarkan limbah makanan dari usus secara lebih cepat.
ü Menghindari pemakaian aspirin saat merasa tidak enak badan, digantikan dengan istirahat yang cukup.
ü Hindari pemakaian obat gabungan, untuk mengurangi efek negatif obat.
ü Hindari stress yang berlebihan.
ü Selalu memperhatikan pola makan pasien.
ü Membantu klien mengatasi masalah yang dihadapinya untuk mengurangi rasa stress.
ü Memperhatikan pemakaian obat dan efek sampingnya.

13.    Masalah Etik dan Legal
A.   Batasan Legal  dalam Tindakan Keperawatan
Perawat perlu tahu tentang hukum yang mengatur prakteknya untuk :
1.     Memberikan kepastian bahwa keputusan & tindakan perawat yang dilakukan konsisten dengan prinsip-prinsip hukum.
2.     Melindungi perawat dari liabilitas. Perjanjian atau kontrak dalam perwalian
Kontrak mengandung arti ikatan persetujuan atau perjanjian resmi antara dua atau lebih partai untuk mengerjakan atau tidak sesuatu. Dalam konteks hukum, kontrak sering disebut dengan perikatan atau perjanjian. Perikatan artinya mengikat orang yang satu dengan orang lain. Hukum perikatan di atur dlm UU hukum Perdata pasal 1239
        ” Semua perjanjian baik yang mempunyai nama khusus maupun yang tidak mempunyai nama tertentu, tunduk pada ketentuan-ketentuan umum yang termaktub dalam bab ini dan bab yang lalu”. Lebih lanjut menurut ketentuan pasal 1234 KUHPdt, setiap perikatan adalah untuk memberikan, berbuat sesuatu atau untuk tidak berbuat sesuatu.
        Pedoman legal yang harus diikuti perawat diambil dari undang-undang, hukum pengaturan, dan hukum adat. Hukum dikeluarkan oleh badan pemerintah dan harus dipatuhi oleh warga negara. Setiap orang yang tidak mematuhi hukum akan terikat secara hukum untuk menanggung denda atau hukum penjara. Anda tidak perlu takut akan melanggar hukum jika anda :
a.      Hanya melakukan hal-hal yang sudah diajarkan dan berada dalam cukup pelatihan.
b.      Selalu memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang terbaru.
c.       Selalu menempatkan keselamatan dan kesejahteraan pasien sebagai hal yang         terpenting.
d.       Melakukan pekerjaan sesuai dengan kebijakan fasilitas.

B.     Batasan Kelalaian atau Malpraktik
          Kesalahan adalah kesalahan sipil yang dibuat terhadap seseorang atau hak milik. Kesalahan bisa diklasifikasi menjadi kesalahan tidak disengaja atau disengaja. Contoh dari kesalahan yang tidak disengaja adalah kelalaian atau malpraktik. Malpraktik merupakan kelalaian yang dilakukan oleh seorang profesional seperti perawat atau dokter. Kesalahan disengaja merupakan tindakan disengaja yang melanggar hak seseorang. Misalnya, pelecehan, pemukulan, pemfitnahan, atau invasi pribadi. Perbedaaan bergantung pada tindakan atau pengabaian yang terlibat pada masalah tentang “ ilmu atau seni kedokteran yang memerlukan keterampilan khusus yang tidak dimilki orang biasa,“ atau bahkan dapat dipahami berdasarkan pengalaman individu setiap hari pada juri. Jika diperlukan opini profesional dari seorang ahli dengan keterampilan dan pengetahuan khusus, teori tentang  malpraktik lebih berlaku dari pada kelalaian biasa.
          Kelalaian adalah prilaku yang tidak sesuai standar perawatan. Malpraktik terjadi ketika asuhan keperawatan tidak sesuai yang menuntut praktik keperawatan yang aman. Tidak perlu ada kesengajaan, suatu kelalaian dapat terjadi. Kelalaian ditetapkan oleh hukum untuk perlindungan orang lain terhadap resiko bahaya yang tidak seharusnya. Ini dikarakteristikkan oleh ketidakperhatian, keprihatian atau kurang perhatian. Kelalaian atau malpraktik bisa mencakup kecerobohan, seperti tidak memeriksa balutan lengan yang memungkinkan pemberian medikasi yang salah. Bagaimanapun, kecerobohan tidak selalu sebagai penyebab. Jika perawat melakukan prosedur dimana mereka telah terlatih dan melakukan dengan hati –hati, tetapi masih membahayakan klien, dapat dibuat tuntunan kelalaian atau malpraktik. Jika perawat memberikan perawatan yang tidak sesuai dengan  standar, mereka dapat dianggap lalai. Karena tindakan ini dilakukan oleh perawat professional, kelalaian perawat disebut malpraktik.
Perawat telah terlibat dalam banyak tindakan lalai atau malpraktik profesional, contohnya:
a.    Kesalahan terapi intravena yang menyebabkan infiltrasi atau flebitis.
b.    Luka bakar pada klien karena terapi panas yang tidak tepat pemantauannya.
c.    Jatuh yang menyebabkan cidera pada klien.
d.     Kesalahan menggunakan tehnik aseptik ketika diperlukan.
e.    Kesalahan menghitung spon, instrumen, atau jarum dalam kasus operasi.
Karena malpraktik adalah kelalaian yang berhubungan dengan praktik profesional, kriteria berikut harus ditegakkan dalam gugatan hukum malpraktik terhadap seorang perawat:
a.    Perawat (terdakwa) berhutang tugas pada klien (penggugat).
b.    Perawat tidak melakukan tugas tersebut atau melanggar tugas perawatan.
c.    Klien cidera.
d.    Baik penyebab aktual dan kemungkinan mencederai klien adalah akibat dari kegagalan perawat untuk melakukan tugas.

C.         Dasar Hukum Malpraktik
       Akhir-akhir ini tuntutan hukum terhadap dokter dan perawat dengan dakwaan melakukan malpraktik makin meningkat dimana-mana, termasuk di negara kita. Ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran hukum masyarakat, dimana masyarakat lebih menyadari kewajiban dan tugas profesinya dengan lebih hati-hati dan penuh tanggung jawab. Di negara- negara maju tiga besar dokter spesialis menjadi sasaran utama tuntutan ketidak layakan dalam praktik, yaitu spesialis bedah, anastesi dan kebidanan dan penyakit kandungan.
       Walaupun UU No. 6 tahun 1963 tentang tenaga kesehatan sudah dicabut oleh UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, namun perumusan malpraktik/kelalaian medik tercanutm pada pasal 11b masih dapat dipergunakan yaitu :dengan tidak mengurangi ketentuan–ketentuan di dalam KUHP dan peraturan perundang-undangan lain, maka terhadap tenaga kesehatan dapat dilakukan tindakan-tindakan administratif dalam hal sebagai berikut:
ü  Melalaikan kewajiban.
ü  Melakukan suatu hal yang tidak seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang   tenaga kesehatan, baik mengingat sumpah jabatannya, maupun sumpah sebagai tenaga kesehatannya.

D.     Pengendalian Hukum Oleh Perawat dan Klien
Pelayanan keperawatan di masa mendatang harus dapat memberikan consumer minded terhadap pelayana keperawatan yang di terima. Hal ini didasarkan pada ”trends” perubahan saat ini dan persaingan yang semakin ketat. Oleh karena itu, perawat perawat diharapkan dapat mendefinisikan, mengimplementasikan dan mengukur perbedaan bahwa praktik keperawatan harus dapat sebagai indikator terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang profesional di masa depan. Sementara itu pelayanan keperawatan di masa mendatang belum jelas, maka perawat profesional di masa mendatang harus dapat memberikan dampak yang positif terhadap kualitas sistem pelayanan kesehatan di Indonesia.
Ada 4 hal yang harus dijadikan perhatian utama keperawatan di Indonesia :
a.    Memahami dan menerapkan peran perawat
b.    Komitmen terhadap identitas keperawatan
c.    Perhatian terhadap perubahan dan trend pelayanan kesehatan kepada masyarakat
d.    Komitmen dalam memenuhi tuntutan tantangan sistem pelayanan kesehatan melalui upaya yang kreatif dan inovatif.




14.    Nursing Advocacy (Advokasi Keperawatan)
Definisi perawat advokat menurut beberapa ahli yaitu :
a)      Arti advopkasi menurut ANA adalah melindungi klien ato masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan keselamatan praktik tidak sah yang tidak kompoten dan melanggar etika yang di lakukan oleh siapapun.
b)       FRY mendefinisikan advokasi sebagai dukungan aktif terhadap setiap hal yang memiliki penyebab atau dampak penting
c)      GADAW menyatakan bahwa advokasi merupakan dasar falsafah dan ideal keperawatan   yang melibatkan   bantuan perawat secara aktif kepada individu secara bebas menentukan nasibnya sendiri.
      Tanggung jawab perawat secara umum mempunyai tanggung jawab dalam memberikan asuhan keperawatan, meningkatkan ilmu pengetahuan dan meningkatkan diri sebagai profesi. Tanggung jawab perawat secara khusus adalah memberikan asuhan keperawatan kepada klien mencakup aspek bio-psiko-sosio-kultural-spiritual yang komprehensif dalam upaya pemenuhan kebetuhan dasarnya.
Sebagai advokat klien, perawat berfungsi sebagai berikut:
a.      Sebagai penghubung dengan klien dengan tim kesehatan lain dalam upaya pemenuhan   kebutuhan klien,
b.      Membela kepentingan klien dan membantu klien memahami semua informasi dan upaya kesehatan yang diberikan oleh tim kesehatan dengan pendekatan tradisional maupun professional
c.       Peran advokasi sekaligus mengharuskan perawat bertindak sebagai narasumber dan fasilitator dalam tahap pengambilan keputusan terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh klien
d.       Dalam menjalankan peran sebagai advokat perawat harus dapat melindungi dan memfasilitasi keluarga dan masyarakat dalam pelayanan keperawatan.


e.       
Asuhan  Keperawatan Teoritis Pada Klien Dengan Gaskritis
1.    Pengkajian
a.      Anamnese meliputi :
Nama, Usia, Jenis kelamin, Jenis pekerjaan, Alamat, Suku/bangsa, Agama, status perkawinan dll.
b.      Riwayat Kesehatan
ü Keluhan utama : Nyeri di ulu hati dan perut sebelah kanan bawah.
ü Riwayat penyakit saat ini : Meliputi perjalan penyakitnya, awal dari gejala yang dirasakan klien, keluhan timbul dirasakan secara mendadak atau bertahap, faktor pencetus, upaya untuk mengatasi masalah tersebut.
ü Riwayat penyakit dahulu : Meliputi penyakit yang berhubungan dengan penyakit sekarang, riwayat dirumah sakit,  dan riwayat pemakaian obat.
c.    Pemeriksaan fisik, yaitu Review of system (ROS)
Keadaan umum : Tampak kesakitan pada pemeriksaan fisik terdapat nyeri tekan di kuadran epigastrik.
1.      B1 (breath) : Takhipnea
2.      B2 (blood) : Takikardi, hipotensi,  disritmia, nadi perifer lemah, pengisian perifer lambat, warna kulit pucat.
3.       B3 (brain) : Sakit kepala, kelemahan, tingkat kesadaran dapat terganggu, disorientasi, nyeri epigastrum.
4.      B4 (bladder) : Oliguria, gangguan keseimbangan cairan.
5.      B5 (bowel) : Anemia, anorexia, mual, muntah, nyeri ulu hati, tidak toleran terhadap makanan pedas.
6.       B6 (bone) : Kelelahan, kelemahan
d.      Fokus Pengkajian
1.    Aktivitas / Istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan
Tanda : Takikardia, takipnea / hiperventilasi (respons terhadap aktivitas)
2.    Sirkulasi
Gejala : Kelemahan, berkeringat
Tanda :
·         Hipotensi (termasuk postural)
·          Takikardia, disritmia (hipovolemia / hipoksemia)
·         Nadi perifer lemah
·          Pengisian kapiler lambat / perlahan (vasokonstriksi)
·         Warna kulit pucat, sianosis (tergantung pada jumlah kehilangan darah)  
·         Kelemahan kulit / membran mukosa, berkeringat (menunjukkan status syok, nyeri akut, respons psikologik)
3.    Integritas Ego
Gejala : Faktor stress akut atau kronis (keuangan, hubungan kerja), perasaan tak berdaya.
Tanda : Tanda ansietas, misalnya gelisah, pucat, berkeringat, perhatian menyempit, gemetar, suara gemetar.
4.    Eliminasi
Gejala : Riwayat perawatan di rumah sakit sebelumnya karena perdarahan gastroenteritis (GE) atau masalah yang berhubungan dengan GE, misalnya  luka peptik atau gaster, gastritis, bedah gaster, iradiasi area gaster. Perubahan pola defekasi /karakteristik feses.
Tanda :
·         Nyeri tekan abdomen, distensi
·         Bunyi usus : sering hiperaktif selama perdarahan, hipoaktif setelah perdarahan.
·         Karakteristik feses : diare, darah warna gelap, kecoklatan atau kadang-kadang merah cerah, berbusa, bau busuk (steatorea), konstipasi dapat terjadi (perubahan diet, penggunaan antasida).
·         Haluaran urine : menurun, pekat.


5.    Makanan / Cairan
Gejala           :
·        Anoreksia, mual, muntah (muntah yang memanjang diduga obstruksi pilorik bagian luar sehubungan dengan luka duodenal).
·        Masalah menelan : cegukan
·         Nyeri ulu hati, sendawa bau asam, mual atau muntah
Tanda : Muntah dengan warna kopi gelap atau merah cerah, dengan atau tanpa bekuan darah, membran mukosa kering, penurunan produksi mukosa, turgor kulit buruk (perdarahan kronis).
6.    Neurosensi
Gejala : Rasa berdenyut, pusing / sakit kepala karena sinar, kelemahan.
Tanda : Tingkat kesadaran dapat terganggu, rentang dari agak cenderung tidur, disorientasi / bingung, sampai pingsan dan koma (tergantung pada volume sirkulasi / oksigenasi).
7.    Nyeri / Kenyamanan
Gejala :
·         Nyeri, digambarkan sebagai tajam, dangkal, rasa terbakar, perih, nyeri hebat tiba-tiba dapat disertai perforasi. Rasa ketidaknyamanan / distres samar-samar setelah makan banyak dan hilang dengan makan (gastritis akut).
·         Nyeri epigastrum kiri sampai tengah / atau menyebar ke punggung terjadi 1-2 jam setelah makan dan hilang dengan antasida (ulkus gaster).
·         Nyeri epigastrum kiri sampai / atau menyebar ke punggung terjadi kurang lebih 4 jam setelah makan bila lambung kosong dan hilang dengan makanan atau antasida (ulkus duodenal).
·         Tak ada nyeri (varises esofegeal atau gastritis).
·         Faktor pencetus : makanan, rokok, alkohol, penggunaan obat-obatan tertentu (salisilat, reserpin, antibiotik, ibuprofen), stresor psikologis.
Tanda : Wajah berkerut, berhati-hati pada area yang sakit, pucat, berkeringat, perhatian menyempit.
8.    Keamanan
Gejala : Alergi terhadap obat / sensitif misal : ASA
Tanda : Peningkatan suhu, spider angioma, eritema palmar (menunjukkan sirosis / hipertensi portal)
9.    Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : Adanya penggunaan obat resep / dijual bebas yang mengandung ASA, alkohol, steroid. NSAID menyebabkan perdarahan GI. Keluhan saat ini dapat diterima karena (misal : anemia) atau diagnosa yang tak berhubungan (misal : trauma kepala), flu usus, atau episode muntah berat. Masalah kesehatan yang lama misal : sirosis, alkoholisme, hepatitis, gangguan makan (Doengoes, 1999, hal: 455).
e. Pemeriksaan Diagnostik
a.    Pemeriksaan darah
     Tes ini digunakan untuk memeriksa apakah terdapat H. Pylori dalam darah. Hasil tes yang positif menunujukkan bahwa pasien pernah kontak dengan bakteri pada suatu waktu dalam hidupnya tapi itu tidak menunjukkan bahwa pasien tersebut terkena infeksi. Tes darah dapat juga dilakukan untuk memeriksa anemia yang terjadi akibat perdarahan lambung karena gastritis.
b.    Uji napas urea
     Suatu metode diagnostik berdasarkan prinsip bahwa urea diubah oleh urease H. Pylori dalam lambung menjadi amoniak dan karbondioksida (CO2). CO2 cepat diabsorbsi melalui dinding lambung dan dapat terdeteksi dalam udara ekspirasi.
c.    Pemeriksaan feces
     Tes ini memeriksa apakah terdapat bakteri H. Pylori dalam feses atau tidak. Hasil yang positif dapat mengindikasikan terjadinya infeksi. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap adanya darah dalam feses. Hal ini menunjukkan adanya pendarahan dalam lambung.


d.    Endoskopi saluran cerna bagian atas
     Dengan tes ini dapat terlihat adanya ketidaknormalan pada saluran cerna bagian atas yang mungkin tidak terlihat dari sinar-x. Tes ini dilakukan dengan cara memasukkan sebuah selang kecil yang fleksibel(endoskop) melalui mulut dan masuk ke dalam esofagus, lambung dan bagian atas usus kecil. Tenggorokan akan terlebih dahulu dianestesi sebelum endoskop dimasukkan untuk memastikan pasien merasa nyaman menjalani tes ini. Jika ada jaringan dalam saluran cerna yang terlihat mencurigakan, dokter akan mengambil sedikit sampel(biopsy) dari jaringan tersebut. Sampel itu kemudian akan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Tes ini memakan waktu kurang lebih 20 sampai 30 menit. Pasien biasanya tidak langsung disuruh pulang ketika tes ini selesai, tetapi harus menunggu sampai efek dari anestesi menghilang kurang lebih satu atau dua jam. Hampir tidak ada resioko akibat tes ini. Komplikasi yang sering terjadi adalah rasa tidak nyaman pada tenggorokan akibat menelan endoskop.
e.    Rontgen saluran cerna bagian atas
     Tes ini akan melihat adanya tanda-tanda gastritis atau penyakit pencernaan lainnya. Biasanya akan diminta menelan cairan barium terlebih dahulu sebelum dirontgen. Cairan ini akan melapisi saluran cerna dan akan terlihat lebih jelas ketika di rontgen.
f.     Analisis Lambung
Tes ini untuk mengetahui sekresi asam dan merupakan tekhnik penting untuk menegakkan diagnosis penyakit lambung. Suatu tabung nasogastrik dimasukkan ke dalam lambung dan dilakukan aspirasi isi lambung puasa untuk dianalisis. Analisis basal mengukur BAO( basal acid output) tanpa perangsangan. Uji ini bermanfaat untuk menegakkan diagnosis sindrom Zolinger- Elison(suatu tumor pankreas yang menyekresi gastrin dalam jumlah besar yang selanjutnya akan menyebabkan asiditas nyata).



2.    Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
1.    Kekurangan  volume cairan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat dan output cair  yang berlebih (mual dan muntah).
2.    Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa lambung sekunder karena stress psikologi.
3.    Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh  berhubungan dengan penurunan intake asupan gizi.
4.    Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan, ancaman kematian, nyeri.
5.    Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.

3.    Intervensi keperawatan
NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN
INTERVENSI
RASIONAL
1.
Kekurangan volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat dan output cair yang berlebih (mual dan muntah). Tujuan:
            Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam intake cairan adekuat.
Kriteria Hasil:
·         Mukosa bibir lembab
·         Turgor kulit baik
·         Pengisian kapiler baik
·         Input dan output seimbang
·   Penuhi kebutuhan individual. Anjurkan klien untuk minum  (dewasa : 40-60 cc/kg/jam).
·   Berikan cairan tambahan IV sesuai indikasi.
·   Awasi tanda-tanda vital, evaluasi turgor kulit, pengisian kapiler dan membran mukosa.
·   Kolaborasi pemberian cimetidine dan ranitidine
·      Intake cairan yang adekuat akan mengurangi resiko dehidrasi pasien.
·      Mengganti kehilangan cairan dan memperbaiki keseimbangan cairan dalam fase segera.
·      Menunjukkan status dehidrasi atau kemungkinan kebutuhan untuk peningkatan penggantian cairan.

·      Cimetidine dan ranitidine berfungsi untuk menghambat sekresi asam lambung
2.
Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa lambung sekunder karena stress psikologi
Tujuan:
            Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam nyeri dapat berkurang, pasien dapat tenang dan keadaan umum cukup baik
Kriteria Hasil:
·         Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang
·         Klien tidak menyeringai kesakitan
·         TTV dalam batasan normal
·         Intensitas nyeri berkurang (skala nyeri berkurang 1-10) Menunjukkan rileks, istirahat tidur, peningkatan aktivitas dengan cepat

·      Selidiki keluhan nyeri, perhatikan lokasi, itensitas nyeri, dan skala nyeri
·      Anjurkan pasien untuk melaporkan nyeri segera saat mulai
·      Pantau tanda-tanda vital
·      Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien  serta keluarganya
·      Anjurkan istirahat selama fase akut
·      Anjurkan teknik distruksi dan relaksasi
·      Berikan situasi lingkungan yang kondusif
·      Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian tindakan
·   Untuk mengetahui letak nyeri dan memudahkan intervensi yang akan dilakukan
·   Intervensi dini pada kontrol nyeri memudahkan pemulihan otot dengan menurunkan tegangan otot
·   Respon autonomik meliputi, perubahan pada TD, nadi, RR, yang berhubungan dengan penghilangan nyeri
·   Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri
·   Mengurangi nyeri yang diperberat oleh gerakan
·   Menurunkan tegangan otot, meningkatkan relaksasi, dan meningkatkan rasa kontrol dan kemampuan koping
·   Memberikan dukungan (fisik, emosional, meningkatkan rasa kontrol, dan kemampuan koping)
·   Menghilangkan atau mengurangi keluhan nyeri klien
3.
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurangnya intake makanan


Tujuan:
         Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi. Kriteria hasil:
·         Keadaan umum cukup
·         Turgor kulit baik
·         BB meningkat
·         Kesulitan menelan berkurang
·   Anjurkan pasien untuk makan dengan porsi yang sedikit tapi sering
·   Berikan makanan yang lunak
·   Lakukan oral hygiene
·   Timbang BB dengan teratur
·   Observasi tekstur, turgor kulit pasien
·   Observasi intake dan output nutrisi
·   Menjaga nutrisi pasien tetap stabil dan mencegah rasa mual muntah
·   Untuk mempermudah pasien menelan
·   Kebersihan mulut dapat merangsang nafsu makan pasien
·   Mengetahui perkembangan status nutrisi pasien
·   Mengetahui status nutrisi pasien
·   Mengetahui keseimbangan nutrisi pasien
4.
Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan, ancaman kematian, nyeri.
Tujuan:
            Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien dapat menunjukkan kecemasan berkurang atau hilang.
Kriteria hasil:
·         Mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara terbuka
·         Melaporkan berkurangnya cemas dan takut
·         Mengungkapkan mengerti tentang peoses penyakit
·         Mengemukakan menyadari terhadap apa yang diinginkannya yaitu menyesuaikan diri terhadap perubahan fisiknya
·   Awasi respon fisiologi misalnya: takipnea, palpitasi, pusing, sakit kepala, sensasi kesemutan.
·   Dorong pernyataan takut dan ansietas, berikan umpan balik.
·   Berikan informasi yang akurat.
·   Berikanlingkungan yang tenang untuk istirahat.

·   Dorong orang terdekat untuk tinggal dengan pasien.

·   Tunjukan teknik relaksasi.
·   Dapat menjadi indikator derajat takut yang dialami pasien, tetapi dapat juga berhubungan dengan kondisi fisik atau status syok.
·    Membuat hubungan terapeutik
·   Melibatkan pasien dalam rencana asuhan dan menurunkan ansietas yang tak perlu tentang ketidaktahuan.
·   Memindahkan pasien dari stresor luar, meningkatkan relaksasi, dapat meningkatkan keterampilan koping.
·   Membantu menurunkan takut melalui pengalaman menakutkan menjadi seorang diri.
·   Belajar cara untuk rileks dapat membantu menurunkan takutdan ansietas
5.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan:
Klien mendapatkan informasi yang tepat dan efektif.
Kriteria hasil:
·         Klien dapat menyebutkan pengertian
·         Penyebab
·         Tanda dan gejala
·         Perawatan dan pengobatan.
·      Beri pendidikan kesehatan (penyuluhan) tentang penyakit, beri kesempatan klien atau keluarga untuk bertanya, beritahu tentang pentingnya obat-obatan untuk kesembuhan klien.
·       Evaluasi tingkat pengetahuan klien
·     Memberikan pengetahuan dasar dimana klien dapat membuat pilihan informasi tentang kontrol masalah kesehatan.
·     Pengkajian / evaluasi secara periodik meningkatkan pengenalan / pencegahan dini terhadap komplikasi seperti ulkus peptik dan pendarahan pada lambung.

Bab IV
Penutup
1.    Kesimpulan
GASTRITIS (dyspepsia/penyakit maag) adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya asam lambung yang berlebih atau meningkatnya asam lambung sehingga mengakibatkan imflamasi atau peradangan dari mukosa lambung seperti teriris atau nyeri pada ulu hati. Gejala yang terjadi yaitu perut terasa perih dan mulas.  Gastritis dibagi menjadi dua yaitu: gastritis akut dan kronis. Gatritis Akut (inflamasi mukosa lambung) paling sering diakibatkan oleh kesalahan diit, mis. makan terlalu banyak, terlalu cepat, makan makanan yang terlalu banyak bumbu atau makanan yang terinfeksi. Penyebab lain termasuk alcohol,  aspirin, refluks empedu atau terapi radiasi. Inflamasi lambung yang berkepanjangan yang disebabkan oleh ulkus lambung jinak maupun ganas atau bakteri Helicobacter pylori.
Manifestasi klinis gastritis antara lain nyeri terbakar di epigastrium atau rasa tidak enak yang bertambah berat dengan makan, dispepsia, anoreksia, nausea / muntah, dapat terjadi pedarahan yang mengakibatkan hematemesis, melena. Penatalaksanaan dari penyakit adalah Mengurangi paparan obat-obat yang bersifat iritan. Mengurangi produksi asam untuk melindungi mukosa lambung dengan antagonis H2, inhibitor pompa proton, dan atau sukralfat. Gastritis H. Pylori simtomatik diterapi dengan terapi tripel selama 2 minggu (misalnya omeprazole, chlarithromyein, dan amoksilin; bismuth, metronidazole, dan ampisilin/tetrasiklin). Profilaksis antasid sebaiknya diberikan pada sebagian besar pasien yang sangat kritis. Pedarahan berat pada kasus gastritis stres dapat diterapi melalui endoskopi ; pada kasus yang jarang, pedarahan yang refrakter kemungkinan memerlukan tindakan gastrektomi.
2.    Saran
Dengan adanya makalah ini kami berharap dapat menambah pengetahuan para pembaca mengenai penyakit gastritis. Kami selaku pembaca pula mengharapkan kritik dan saran bagi para pembaca untuk kebaikan makalah  kami.



Daftar Pustaka

Brunner Dan Suddart ,2002,Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah ,Edisi 8,Vol 1, Jakarta :EGC
Doengoes ,Marilyn E.1999 I Rencana Keperawatan Edisi Iii,Jakarta ;EGC.
Hadi, Sujono. 2002. Gastroenterologi. Bandung : P.T Alumni
McPhee, Stephen J. 2010. Patofisiologi Penyakit: Pengantar Menuju Kedokteran Klinis. Jakarta: EGC.
Potter, Patricia A. 2009. Fundamental of Nursing. Jakrta: Salemba Medika
Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC
Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT. Gramedia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar